Casmudi
Casmudi wiraswasta

Gemar menulis dan berbagi informasi. Silahkan mampir di blog saya: https://casmudiberbagi.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Daendels, Saya Takjub di Ujung Timur Mahakaryamu

16 Juli 2017   12:04 Diperbarui: 16 Juli 2017   12:14 112 2 0
Daendels, Saya Takjub di Ujung Timur Mahakaryamu
Monumen 1000km Anyer-Panarukan di perbatasan Panarukan-Situbondo Jawa Timur (dokumentasi pribadi)

Sebelum Hari Raya Idul Fitri 2017 yang lalu, saya menyempatkan diri untuk mudik ke kampung halaman kedua bersama istri. Kampung halaman kedua yang berarti pulang ke kampung istriku di Kota Ngawi Jawa Timur. Tempat di mana saya berencanan akan menghabiskan masa tuanya. Insya Allah, jika Yang Maha Kuasa Menghendaki.

Banyak cara untuk melakukan pulang kampung alias mudik. Baik lewat jalur darat, laut maupun udara. Kali ini, saya melakukan ritual mudiknya melalui jalur darat. Bukan dengan numpang angkutan umum atau bus, tetapi dengan mengendarai sepeda motor. Berdua bersama mantan pacar (istri) untuk menempuh Denpasar-Ngawi yang jaraknya kurang lebih 700 km. Sementara,  anak semata wayang saya sudah duluan pulang kampung dengan angkutan umum (bus).

Meski sudah beberapa kali saya mengukur jalan Denpasar-Ngawi, tetapi kondisi jalanan yang banyak berlubang, kondisi hujan dan suasana malam hari menjadi semakin horor dalam bayangan saya. Karena di jalur tersebut, saya sudah beberapa kali mengalami pecah ban (bocor) di malam hari. Pernah, saya harus mendorong sepeda motor puluhan kilometer dengan kondisi jalan berliku dan naik turun. Subahanallah, rasanya ingin menangis saja. Ditambah lagi, tulang-tulang rasanya seperti mau patah saja. Badan bagai melakukan terapi sauna, bercucuran keringat di malam hari. Di jalanan yang sepi dan malam hari. Duh gusti, ampunilah hamba. Kota Madiun, Jombang, Probolinggo, Pasuruan, Negara dan Tabanan (Bali) pernah menjadi saksi bisu. Alamakkk ...

Namun, di balik kesempitan yang luar biasa selalu saja ada pelajaran dan pengalaman menarik yang bisa dipetik. Karena, hal yang selalu saya lakukan tersebut adalah demi bertemu keluarga dan menghemat ongkos. Kata pepatah ddari guru Bahasa Indonesia saya waktu di SD dulu, "hemat pangkal kaya". Makanya, saya lakukan demi menempuh perjalanan Denpasar-Ngawi seperti sedang jalan-jalan saja. Jangan kaget, jika setiap kilometer jalan yang saya lalui menjadi akrab dengan saya. "Habis ini, sampai sini ... habis itu nyampai situ". Itulah kalimat yang selalu saya katakan pada mantan pacar agar perjalanan tidak membosankan.

Anyer-Panarukan

Yang menarik dari setiap melakukan perjalanan darat adalah jalur lintasan yang selalu menjadi kenang-kenangan sejak jaman Hindia Belanda. Ya, di  perbatasan Panarukan-Situbondo Jawa Timur kini telah dibangun monumen atau penanda batas akhir jalan legenda, Jalan Anyer-Panarukan atau yang disebut Jalan Daendels.  Jalan raya yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Jalan Pantura (Pantai Utara Jawa) membentang dari Anyer (Banten) -- Serang -- Tangerang -- Jakarta -- Bogor -- Sukabumi -- Cianjur -- Bandung -- Sumedang -- Cirebon -- Brebes -- Tegal -- Pemalang -- Pekalongan -- Kendal -- Semarang -- Demak -- Kudus -- Rembang  - Tuban -- Gresik -- Surabaya -- Sidoarjo -- Pasuruan -- Probolinggo - Panarukan.

Belajar dari sejarah bahwa jalan Anyer-Panarukan merupakan peninggalan mahakarya seorang Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang memerintah di pulau Jawa sejak tahun 1808-1811. Dan, saya merasakan takjub saat menatap monumen 1000km Anyer-Panarukan tersebut. Pikiran saya melayang jauh, tentang proses pembuatan jalan dan kekejaman Daendels yang memperkerjakan pribumi tanpa kenal ampun. Konon, hampir 12.000 nyawa pribumi yang dipekerjakan secara kerja rodi untuk membuat jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1000km mengalami siksaan dan meninggal sia-sia.

Takjub di Monumen 1000km Anyer-Panarukan (Sumber: dokumen pribadi)
Takjub di Monumen 1000km Anyer-Panarukan (Sumber: dokumen pribadi)

Jalan Anyer-Panarukan bukan hanya dikenal sebagai Jalan Daendels, tetapi juga dikenal dalam sejarah internasional sebagai De Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Menariknya, sebagian jalur Jalan Raya Pos yang dibangun Daendels tersebut merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung Hanyakrakusuma saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.

Disebut Jalan Pos dikarenakan jalan Anyer-Panarukan dahulu pada tiap-tiap 4,5 kilometer didirikan pos sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat untuk memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Jalan Anyer-Panarukan yang menjadi mahakarya Daendels (Sumber: davishunter.com)
Jalan Anyer-Panarukan yang menjadi mahakarya Daendels (Sumber: davishunter.com)

Sebagai informasi bahwa sejak Belanda jatuh ke tangan Perancis pada tahun 1795, Belanda berubah nama menjadi Republik Bataaf dan diperintah oleh Louis Napoleon Bonaparte, adik kaisar Napoleon Bonaparte. Oleh sebab itu, Perancis sangat mengkhawatirkan Pulau Jawa sebagai daerah jajahan Belanda akan direbut oleh Inggris yang tidak berhasil dikuasai oleh Prancis saat itu. Selanjutnya, Dendels diberi tanggung jawab oleh sang Raja untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Itulah sebabnya,

Daendels bertekad untuk memperkuat pulau Jawa dengan membangun jalan agar bisa memobilisasi pasukannya dengan baik. Sayangnya, Daendels terkenal kejam dan bengis kepada pribumi guna merampungkan program yang ambisius tersebut. Itulah sebabnya, Jalan Anyer-Panarukan bisa diselesaikan hanya dalam waktu 1 tahun dan selesai pada tahun 1808 juga. Fantastis!

Pribumi bekerja secara paksa (kerja rodi) membuat Jalan Anyer Panarukan (Sumber: reidfile.com)
Pribumi bekerja secara paksa (kerja rodi) membuat Jalan Anyer Panarukan (Sumber: reidfile.com)

Saat takjub memperhatikan mahakarya Daendels di monumen batas akhir Panarukan, saya bertanya dalam hati, "kok bangunnya sampai Panarukan saja sih, gak dilanjutin hingga Banyuwangi". Mungkin, pikiran saya sama dengan kegundahan yang ada pada pikiran sahabat-sahabat. Perlu diketahui bahwa saat Daendels berkunjung ke Surabaya pada awal Agustus 1808, beliau melihat bahwa jalan dari Surabaya perlu diperpanjang ke timur. Tujuannya bahwa wilayah Ujung Timur (Oosthoek) merupakan daerah yang potensial bagi produk tanaman tropis selain kopi, seperti gula dan nila.

Lukisan Herman Willem Daendels menginspeksi pembangunan Jalan Anyer-Panarukan (Sumber: Historia.id/KITLV)
Lukisan Herman Willem Daendels menginspeksi pembangunan Jalan Anyer-Panarukan (Sumber: Historia.id/KITLV)

Dan, jalan panjang yang membentang dari Anyer (Banten) pun berakhir di Panarukan sejauh 1000km. Titik akhir jalan di Panarukan dan tidak dilanjutkan hingga Banyuwangi dikarenakan Banyuwangi dianggap tidak memiliki potensi sebagai pelabuhan ekspor. Sedangkan Panarukan dipilih karena dekat daerah lumbung gula di Besuki dan tanah-tanah partikelir yang menghasilkan produk-produk tropis penting. Ohhhh, ternyata itu alasannya Daendels bangun jalannya hingga Panarukan saja.

Saat mengambil beberapa foto di monumen batas akhir, kami tidak lupa untuk memberikan informasi ke keluarga di Ngawi melalui perangkat gadget. Seperti biasanya, kami selalu memberikan informasi tentang keberadaan (posisi) saat pulang kampung agar keluarga tidak merasa was-was. Dengan jaringan XL yang ekstra luas, komunikasi kami menjadi mengalir. Sinyal yang kuat dan stabil menjadikan komunikasi kami tanpa hambatan. "Tekan Ngawi jam piro ketoke" (Sampai Ngawi jam berapa kayaknya) tanya dari suara nun jauh di Ngawi. "Insya Allah jam 3 sore tekan omah"(Insya Allah, jam 3 sore nyampe rumah) jawab mantan pacar percaya diri.

Kenyataannya, sampai di rumah meleset 2,5 jam. Sungguh, perjalanan mudik yang membutuhkan waktu 24,5 jam (1 hari lebih) benar-benar menguras energi dan nyali. Berangkat dari Kota Denpasar pukul 17.00 dan sampai di Kota Ngawi Jawa Timur pukul 17.30 keesokan harinya. Namun, perasaan takjub atas Monumen Jalan Anyer-Panarukan karya Daendels dan bandelnya sinyal XL menjadi pengobat rindu. Jangan kapok mudik ya?

Referensi: Beritatrans.com, Historia.id, Reidfile.com, Wikipedia