HEADLINE HIGHLIGHT

Hindarkan Anak dari Stress

18 September 2012 06:54:39 Dibaca :
Hindarkan Anak dari Stress
Koleksi pribadi

"Ma, Dinand stress sekali hari ini!" Itulah yang diucapkan si bungsu kemarin siang saat pulang sekolah. "Lho kenapa?" Tanya saya sedikit heran. "Itu ma, besok ulangan matematika, senimusik, sama IPA." Katanya menjelaskan. Oh, begitu... "Ya sudah, sekarang ganti baju, makan, terus shalat dulu. Nanti kita belajar sama-sama, oke?" "Iya ma..." Dalam satu minggu ini kegiatan belajar si bungsu sedikit lebih padat. Di sekolahnya, setiap akhir bulan dibagikan nilai laporan bulanan. Jadi tiap bulan ada waktu selama 1 minggu  ulangan harian untuk mengisi nilai itu. Tetapi biasanya perhari hanya ada satu. Mungkin itulah yang membuatnya sedikit cemas. Untungnya untuk pelajaran matematika tidak sulit dijelaskan, karena itu adalah salah satu pelajaran kesukaannya. Yang sering jadi masalah justru pelajaran hapalan. Walaupun termasuk cepat menghapal, tapi dia tidak terlalu suka membaca. Untuk solusinya, saya sering tanya jawab soal berdua dengannya. Setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawab, saya beri tanda. Jika setelah diulang masih belum bisa, saya salin di kertas. Baru kemudian saya minta dia baca dan menghapalnya kembali. Belajar satu jam bagi saya cukuplah untuk memulai. Kasihan juga kalau dalam kondisi lelah setelah belajar di sekolah, harus diforsir lagi di rumah. Sore hari setelah belajar  lagi, si bungsu tanya. "Ma, Dinand boleh main nggak?" Tentu saja boleh, tapi sebentar saja ya... Jawab saya sambil tersenyum. Dalam mendidik dan mengasuh anak, setiap orang punya cara berbeda-beda. Yang penting, kita sebagai orangtua tidak bersikap otoriter. Harus kompak satu sama lain. Jangan sampai si ibu memberi ijin bermain, tapi si ayah melarang karena ada ulangan harus belajar terus. Hal ini justru akan membuat anak bingung menentukan sikap. Tak kalah pentingnya, jangan mengucapkan sesuatu yang bersifat mengancam atau memberi tekanan terhadap anak. Pokoknya, nilai kamu harus 100! Atau, awas kalau sampai remidi! Yang justru membuat anak takut dan kurang konsentrasi. Beberapa waktu lalu pernah terjadi sebelumnya, saat sibungsu mendapat nilai 20 pada ulangan Bahasa Mandarin. Itu karena yang dipelajarinya adalah kosakata dan arti. Namun yang keluar kebanyakan tulisan mandarin serta goresan-goresan, yang saya sendiri masih bingung menulis apalagi menghapal bentuk tulisannya. Begitu pulang, si bungsu langsung menangis karena takut. Hal ini disebabkan sebelumnya si ayah selalu mengingatkan tidak boleh ada remidi saat ulangan. Akhirnya, saat akan remidi, malamnya dia jadi susah tidur dan sebelum berangkat sekolah kelihatan gelisah. Untunglah perbaikan nilainya bisa lebih baik, menjadi 90. Setiap anak mempunyai kemampuannya masing-masing. Sebagai orangtua tentulah kita berharap anak selalu mendapat nilai dan prestasi yang membanggakan. Namun, tentu tidak dapat kita menyamaratakan mereka. Mengharuskan mereka mendapat nilai seperti kita dahulu saat sekolah. Atau membanding-bandingkan  dengan saudara mereka yang lain. Termasuk memojokkan dengan kata-kata yang dapat menyakiti perasaan mereka. Jika itu kita lakukan, sama artinya kita telah melakukan kekerasan psikis yang jika terus menerus terjadi dapat berakibat fatal. Akumulasi dari tekanan terus-menerus bisa membuat anak menjadi murung, tidak bersemangat dalam beraktivitas, prestasi belajar yang justru semakin menurun, bahkan hingga dampak terburuk yaitu kasus bunuh diri. Beberapa waktu lalu, saudara saya pernah cerita tentang tetangganya yang memiliki dua orang anak putra dan putri. Rumah mereka hanya berselang tiga rumah saja. Dari rumah tetangganya itu kadang-kadang terdengar si anak berteriak. Pada akhir Juli lalu, si anak terjun bebas bunuh diri di Sungai Musi. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekatnya, karena dia stress  belajar. Dan orangtuanya agak keras dalam menerapkan disiplin serta mendidiknya, walaupun tanpa kekerasan fisik ternyata si anak tetap merasa tertekan. Ini hanya salah satu contoh kasus. Masih banyak kasus serupa lainnya, terutama saat sebelum pembagian rapor/menjelang ujian. Belajar dari pengalaman, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saya mempunyai beberapa tips sederhana yang saya terapkan di rumah saat anak-anak belajar, misalnya: 1. Biasakan berdoa sebelum mulai belajar/ulangan. 2. Menemani anak saat belajar. Latihan tanya-jawab soal bersama. Saat tidak bisa menemani karena ada pekerjaan yang  tidak bisa ditinggalkan, coba dengan alternatif lain. Misalnya, rekam suara kita membacakan soal-soal dan jawaban atau hapalan tertentu menggunakan ponsel. Dengan cara ini anak tetap merasa seolah-olah kita menemaninya. Dan terbukti cukup efektif ketika di kelas 1 SD dia mendapat tugas menghapal pancasila dari gurunya, dan saat hapalan anggota tubuh dalam Bahasa Mandarin dalam waktu singkat berhasil di lakukan. 3. Ciptakan suasana santai dan nyaman dengan cara yang unik. Kadang-kadang anak merasa tegang, terutama saat mempelajari pelajaran yang kurang dikuasai/disenanginya. Cobalah belajar sambil memutar musik instrument dengan volume kecil. Ada juga cara unik lain yang saya lakukan. Yaitu mengajaknya duduk bersila, kepala diputar arah melingkar dengan gerakan perlahan, sambil mengucapkan bacaan/hapalan dalam bentuk lagu yang disukainya. Atau cara lain, misalnya  menghapal sesuatu yang diharuskan secara berurut dengan menghapal huruf depan/inisialnya. Seperti untuk spetrum matahari mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu) dan lainnya. 4. Gunakan cara bertahap. Belajar sedikit demi sedikit. Berikan jeda anak beristirahat. Tidak ada salahnya memberi waktu mereka bermain sejenak agar lebih rileks dan menghindari kejenuhan. 5. Berikan motivasi. Ucapkan kata-kata yang dapat membuat mereka semangat. Jangan memarahi saat  mendapat nilai yang kurang baik, melainkan cari tahu jawaban yang salah dan meminta mereka mempelajari kembali. Hargai usaha mereka walaupun hasilnya kurang maksimal. Dan berikan sedikit pujian saat mendapat nilai yang memuaskan. Selain tips di atas, saat akhir pekan usahakan cari kegiatan bersama dengan anak-anak. Berenang, nonton film ke bioskop, out bond, main ke water boom. Atau bisa juga yang hemat seperti, karoke bersama di rumah, beli CD baru dan nonton bareng di rumah sambil menikmati makanan ringan, lari pagi/bersepeda bersama, main catur, main play station game bola kesukaan anak-anak, agar mereka selalu ceria dan keharmonisan rumah tangga terbina.

1347944033348613290
Dinand beraksi
13479440951940137973
Dinand dan Adi berkolaborasi :)
13479445681465369286
koleksi pribadi
Hari Minggu ini nanti, kami sekeluarga akan pergi berkaroke bersama. Senang rasanya jika melihat anak-anak bebas berjingkrak-jingkrak, shuffle dance, gangnam style atau menyanyi teriak-teriak sepuas mereka. Mari selalu ciptakan keceriaan dalam rumah tangga, bersama orang-orang yang kita kasihi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat! Salam ceria ;)

Evi Cardalola

/cardalola

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ibu dari dua orang putera. Sederhana & humoris :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?