Candra Permadi
Candra Permadi pelajar/mahasiswa

\r\n

Selanjutnya

Tutup

Olahraga highlight

Bisakah Spurs Menjinakkan Warriors Sekali Lagi?

15 Mei 2017   01:04 Diperbarui: 15 Mei 2017   01:11 66 0 0
Bisakah Spurs Menjinakkan Warriors Sekali Lagi?
http://fadeawayworld.com

Begitu Spurs masuk final wilayah, jujur, saya senang lantaran peluang Spurs mengungguli Warriors di atas kertas cukup besar. Musim ini, di babak reguler mereka bertemu tiga kali dan dua pertandingan pertama dimenangi Spurs. Pada pertandingan kedua, Spurs menang sih. Sayang mereka nggak nampilin susunan terbaik lantaran Kevin Durant cedera. Pertandingan ketiga boleh dibilang menarik. Meski unggul 10 poin di awal pertandingan, Warriors bisa berbalik unggul. 

Jadi saya putuskan untuk menonton ulang tiga game itu (sebenernya lebih doyan ngulas waktu lawan Rockets, karena dilalah saya doyan dan nonton streaming mereka waktu itu, tapi apa daya Rockets kalah, maka saya coba cari tahu kunci sukses mereka, maksud saya sewaktu Spurs menjinakkan Warriors waktu itu). Meski agaknya babak reguler mamang nggak selalu sama dengan playoff.  Musim 2013-14, Oklahoma City Thunder pernah tercatat nggak pernah kalah atas San Antonio Spurs di babak reguler, tapi di babak playoff mereka hanya diberi kesempatan menang dua kali dari tim yang sama. Tim yang kita tahu bersama jadi juara NBA musim itu juga

Setau saya, sabar jadi kunci mereka ngalahin Warriors (dan juga Rockets waktu itu).  Para pemain Spurs bisa makan waktu 11-16 detik hanya untuk mengalirkan bola sedeket mungkin dengan jaring,  terbilang lama kalau dibandingin dengan tim yang maennya cepet kayak Warriors.  Cara ini jelas meminimalkan raihan defensive rebound tim lawan karena bola cenderung baru ditembakan begitu posisinya benar-benar dekat dengan jaring. Tidak heran offensive rebound Spurs 9,8 per pertandingan (peringkat 9 dari keseluruhan tim NBA) selama babak reguler. Cukup bagus mengingat big man mereka nggak dikenal sebagai petarung handal sebagaimana Andre Drummond, Nerlens Noel, Frank Kaminsky, Rudy Gobert, atau Steven Adams. Bukan kebetulan peringkat offensive rebound tim mereka ada di atas Spurs musim ini.

Defense merekalah yang jadi kunci. Tiap pramusim, Greg Popovich, pelatih yang konon dulunya memecat pelatih Spurs terdahulu sekaligus mengangkat diri sebagai pelatih ini selalu membekali para pemainnya, tidak peduli siapa pun itu, dengan dasar-dasar bermain secara bersama-sama. Termasuk keahlian mereka menutup celah pemain lawan supaya nggak gampang nerima umpan seperti pada pertandingan pertama, satu menit sebelum perempat kedua berakhir.

Channel: DefenseWinsChampionships

Dari video di atas, Curry memulai serangan (menit 2:03). Untuk menutup ruang gerak Curry, Mills ditugaskan menutup pergerakan Curry. Di kanan Durant dijaga Dedmon sedang di kiri Green dijaga Aldridge. Penjaga dan yang dijaga berpostur sepantaran. Durant bergerak ke kanan bukan cuma untuk menciptakan mitchmatch tapi juga memberi ruang bagi Curry agar bisa mengirim umpan ke Durant. Begitu menerima umpan, Durant seharusnya bisa memasukan bola dengan mudah lantaran tepat di belakang jaring Durant hanya dijaga Mills. Hanya saja pemain Spurs nggak akan mudah dilewati. 

Mills tetap berusaha menutup ruang gerak Durant dengan bergerak ke arah paint area. Meski hanya berlangsung satu setengah detik, pergerakan Mills memberi waktu Leonard dan Aldrige weakside offense dan mempersulit Durant memasukan bola. Begitu bola gagal masuk dan berhasil ditangkap, Mills langsung bergegas ke menuju jaring untuk menceploskan bola.

Pembekalan offense dan defense diberikan pada semua pemain Spurs tanpa kecuali. Bahkan untuk pemain sesenior Ginobilli sekalipun.  Bukan hanya soal teknik dan taktis. Para pemain juga dibekali latihan, misalnya untuk memperkuat otot bagian atas supaya bikin tembakan pemain jadi lebih enak. Semua disampaikan apa adanya, tanpa kecuali, tanpa basa-basi ataupun ungkapan motivasi.  Hardikan dan bentakan jadi menu yang biasa diberikan Coach Pop. Meski itu Tim DuncanPara pemainlah yang jadi motivator sesama pemain,  macam Ginobilli yang jadi pengayom para pemain muda macam Nicolás Laprovittola dan Patricio Garino yang sekarang udah mudik.

Kemarin-kemarin (sebelum cedera), kunci Spurs ada di Tony Parker. Parker-lah yang mengatur tempo permainan. Kalau guard tim-tim lain berusaha menarik pemain lawan supaya bisa begerak bebas, nggak dengan Parker. Beliau justru malah yang ngedeketin rekan satu tim di paint area, menyuapi mereka dengan bola-bola yang enak disantap. Terlebih mereka punya bigman yang bukan bigman biasa.Mid-range shoot Aldridge dan Gasol bisa dibilang lumayan.

Poin pertama Spurs pada pertandingan ketika bisa jadi buktinya. Pada menit 6.20, begitu menerima bola in bound dari sisi kanan, Leonard langsung mengoper bola ke Aldridge (12) yang berdiri bebas lantaran ruang Leonard dihalangi dua pemain sekaligus Zaza Pachulia (27) sama Matt Barnes (22). Aldridge bisa aja langsung menembak lantaran midrange jumpernya bagus. Tapi ngeliat Draymond Green mengejar Aldridge, Aldridge langsung ngoper bola ke sayap kiri (14).  Meski bisa langsung menembak. 

Danny Green memilih mengopernya ke Tony Parker yang ditempel Klay Thompson (11). Meski kalah tinggi dan kalah muda, Parker masih lebih gesit. Terbukti Thompson cuma bisa nyingkir begitu Parker melakukan drive. Begitu Parker masuk ke dalam, kita tau apa yang terjadi. Dewayne Dedmon yang berdiri bebas langsung mendapat umpan matang. Meski nggak berhasil nyeplosin bola. Dedmon tetep dapet keuntungan lantaran dilanggar Pachulia.

Menariknya, Spurs ternyata nggak terlalu bergantung sama Parker. Muskim lalu, Spurs hanya kalah 21 kali. 16 diantaranya saat Parker bermain, Berarti tanpa Parker, Spurs cuma kalah sekali.  Statistik plus minum Parker pun cuma +1,55. Artinya Parker hanya akan kalah 1,5 pertandingan ketika tidak bermain. Bandingkan dengan Manu Ginobilli yang berkontribusi terhadap +4,75 kemenangan Spurs atau Kawhi Leonard yang menyumbang 14,86 kemenangan ketika bermain. Tanpa Parker, Rockets digulung 4-2. Malah dipertandingan terakhir Spurs tampil tanpa Leonard juga.  Memang sih, Rockets didukung fakta mereka nggak belum bisa move on ketika tim  imbang 2-2 di babak playoff. 

Mereka nyaris selalu digulung oleh lawan masing-masing. Tanya aja sama Atlanta Hawk (1968-1969), Boston Celtics (1980-1981),  Utah Jazz (1997-1998), Dallas Mavericks (2004-2005) Utah Jazz (2007-2008). Mereka pernah setidaknya dua kali lolos sewaktu imbang 2-2 dengan Spurs di musim 1980-1981 dan sewaktu jadi juara NBA musim 1993-1994. Itu kata Anouncer kondang NBA Kevin Harlan, saya cuma ngutip dan ngecek ulang datanya aja. Waktu itu Aldridge yang menang postur, skills, dan banyaknya posisi tembak dibanding Clint Capella dan Nene pun juga cedera.

Shot Chart Game 6 Aldridge vs. Capela
Shot Chart Game 6 Aldridge vs. Capela

Denger nama Kevin Harlan, saya jadi inget komentar salah satu komentator Spurs di satu-satunya pertandingan Spurs yang saya tonton sebelum Playoff musim ini, entah siapa namanya. Beliau berpesan soal Pau Gasol waktu itu. Kurang lebih bunyinya.  “Kalau pengen maen buat Spurs,sesuaiin dulu (kecil) gaji anda, ntar pemaen laen yang akan maen buat anda.” Selain Gasol, Tony Parker, dan Manu Ginobili juga punya gaji yang terbilang kecil untuk veteran sekelas mereka, dibandingkan dengan Dirk Nowitzki, Carmelo Anthony, Dwayne Wade atau Chris Paul.

Gasol, Parker, dan Ginobilli menurut saya jadi pemain bermental juara yang pengalamannya siap diandalkan di momen-momen kritis. Mirip Robert Horry dan Steve Kerr, yang meski bukan pemain yang rajin mencetak angka, bisa membuat perubahan kecil di detik yang menentukan. Karena sosok-sosok seperti mereka inilah Kawhi Leonard, Patty Mills, dan Danny Green bisa berkembang dengan tekanan yang pas. Terbukti dari peran mereka yang semakin terasa di lapangan seiring bertambahnya usia. Menit bermain Patty Mills jelas semakin meningkat musim ini. Dilihat dari pengalamannya, 7 musim rasanya lebih dari cukup bagi Mills untuk jadi wakil Parker. Melihat cederanya yang cukup parah, bukan tidak mungkin Mills menggantikan peran Parker musim depan. Itupun kalau Mills bersedia bergabung kembali dan melepas status unrestricted free agent-nya.

Sewaktu “dua tim” matang ini bermain, pemain junior dari negeri antah-antah siap memanfaatkan kesempatan yang ada. Saya nggak sedang berbicara tentang Jonathan Simmons yang empat tahun lalu dipercaya bisa bermain  dengan ritme NBA-pun tidak,  RC. Budford dan Sam Presti pencari bakat Spurs dari belahan dunia lain pun juga tidak. Saya justru tertarik dengan bagaimana pemain muda Spurs bermain, DeJounte Murray, Bryn Forbes dan Kyle Anderson. Jujur waktu melihat Kyle Anderson pertama kali, komen saya Cuma satu. mirip Boris Diaw darimana? Postur jauh, gaya ngebagi bola juga beda. Persamaannya di mana? Gaya bermain mereka sesuai sistem Spurs, yang nggak buru-buru menembak atau melakukan ekstra pass meski peluang terbuka lebar. Mereka akan sabar mengumpan sembari menerapkan apa yang mereka pelajari. Mungkin hanya pemain seperti DeJounte Murray, Jonathan Simmons dan Kyle Anderson yang bisa dengan rendah hati memainkan skema itu.