PILIHAN HEADLINE

Aturan-aturan Sepak Bola yang Bersahaja

12 Juni 2017 10:02:23 Diperbarui: 23 Juni 2017 02:11:00 Dibaca : 1 Komentar : 2 Nilai : 4 Durasi Baca :
Aturan-aturan Sepak Bola yang Bersahaja
http://www.trbimg.com

Ketika melihat hubungan antara MLS dan para pemainnya, sekilas saya mengira seperti hubungan karyawan dengan induk organisasi yang menaunginya. Mungkin kantor dengan karyawannya juga boleh, lantaran antara keduanya ada hak dan kewajiban yang mesti dipenuhi. Bukan sekadar liga ke pemaen aja atau pemaen ke liga aja.

Aturan tersebut dibuat tertulis, mudah diakses, termasuk Anda. Bukan sekadar dibaca, tapi diterapkan kalau mau, bukan hanya di Amerika Serikat, di sini juga bisa, kalau mau, tentu saja dengan sedikit penyesuaian. Hanya sedikit.

Di sini, saya sedang membicarakan tentang Collective Bargaining Agreement MLS, atau menurut istilah resmi Depdiknas jadi Persetujuan Tawaran Kolektif MLS (selanjutnya disebut PTK MLS).

Seperti PTK pada umumnya, PTK MLS juga membahas tentang Union Recognition, di mana MLS mengakui Serikat Pemain sebagai perwakilan pemain dalam penawaran kerja sama untuk merundingkan syarat-syarat di luar ketentuan-kentuan minimum yang tercantum dalam PTK.

Section 1.1 Recognition: MLS recognizes the Union as the exclusive bargaining representative of all present and future players employed as such in the League, but not including any other MLS employees.  MLS and the Union agree that, notwithstanding the foregoing, such Players may, acting individually or through a player-agent, on an individual basis, bargain with MLS with respect to and agree upon termsover and above the minimum requirements established by this CBA, to the extent not inconsistent with this CBA (including the Standard Player Agreement and any otherexhibits hereto).

Bagian1.1.Pengakuan: MLS mengakui Serikat sebagai perwakilan tawar-menawar ekslusif, para pemain, baik sekarang maupun kemudian hari, sebagaimana disebutkan dalam Liga, tetapi tidak termasuk tenaga kerja MLS lain. MLS dan Serikat sepakat bahwa, tanpa mengesampingkan hal tersebut, pemain yang bertindak secara perorangan atau lewat agen pemain secara terpisah, bisa berunding dengan MLS terkait dengan dan sepakat mengenai syarat-syarat selain ketentuan minimum yang telah ditetapkan PTK, selama tidak bertentangan dengan PST (termasuk Persetujuan Pemain Standar, dan  eksibit lain dalam perjanjian ini).

Ketentuan-ketentuan minimum antara lain meliputi aturan pembagian gaji pemain dan pengumpulan iuran melalui pemotongan upah, kebijakan tanpa membeda-bedakan, hak dan kewajiban pemain, pemeriksaan kesehatan,  kompensasi, pengeluaran, perlindungan asuransi, hingga ketentuan hari libur.

Aturan-aturan tersebut dibuat tertulis dan wajib diikuti semua komponen yang masuk di dalamnya. MLS harus menyediakan fasilitas seperti yang tercantum dalam perjanjian, pemain pun harus menjalankan kewajiban sebagaimana tercantum dalam kesepakatan setebal 84 halaman tersebut.

Salah satu yang membedakan PTK pada umumnya dengan PTK MLS adalah aturan salary cap, perpindahan pemain dan ketentuan dan free agency, tidak banyak, berkisar lima sampai tujuh halaman. Jauh lebih sedikit dibanding aturan salary cap NBA yang dibagi delapan bagian, dengan jumlah total sampai 100 halaman (keseluruhan jadinya 540-an)

Salary cap, aturan yang secara umum dinilai adil oleh kalangan sepak bola lantaran tiap tim diberi jatah anggaran gaji setara, sama rata, untuk tiap tim dalam satu musim. Dari Chicago Fire hingga Vancouver Whitecap mendapat anggaran gaji yang sama,  $3.660.000 untuk musim 2016.

Salary cap sendiri, yang ilmu itung-itungannya disebut capology, bukan sesuatu yang baru. Sepuluh cabang olahraga mengadopsi salary cap. NBA bahkan memulainya 33 tahun lalu (tuwa ya). Di Inggris malah katanya juga udah ada, tapi bukan sepakbola, tapi premiership rugby, di mana satu klub bisa mengontrak pemain di atas salary cap hingga dua pemain aja. Untuk tahun ini salary cap liga rugby konon mencapai $6.5 juta dolar, dengan rataan gaji kurang dari £100,000, Pemain setenar Manu Tuilagi konon dapet empat kalinya. Hanya saja, saya kok belom nemu soal gaji minimum yang bisa diterima seorang pemain di Liga Rugby inggris ini. 

Berbeda dengan Liga sepakbola Amrik, MLS, sejumlah dua puluh pemain utama (senior roster) berhak atas gaji pokok minimum $62.500 untuk musim 2016, sedang untuk pemain urutan ke 21-28 (Reserve Roster) mendapat gaji minimum $51.500. Tidak seperti pemain senior NBA yang, salah satunya, dengan pengalaman di atas 9 musim berhak atas 35% dari keseluruhan salary cap, pemain MLS maksimal mendapat gaji pokok sebesar 12,5% dari keseluruhan salary cap. Wajar mengingat roster NBA, mulai musim depan hanya berjumlah 16 pemain, sedang MLS maksimal berjumlah 28 pemain.

Menarik bukan? Sejauh ini sih menarik. Lebih menarik lagi kalau kita tengok gaji pokok yang diterima Ricardo "Kaka" Izecson terima dari Orlando City musim lalu. $6.600.000. Nilainya nyaris dua kali nilai salary cap Orlando City $3.558.355.

Sebentar, bukannya gaji maksimal yang bisa diterima pemain MLS musim lalu $457.500? Lantas kenapa gaji pokok Kaka sebesar itu? Bisa dibilang, Kaka adalah pemain sarat pengalaman yang bukan hanya bisa mengangkat pamor MLS, tapi juga menularkan apa yang dimikinya pada pemain MLS secara umum. Termasuk pemain muda didikan klub yang programnya kondang disebut Generasi Adidas Adidas.  

Generasi adidas inilah lumbung pemain muda masing-masing tim di masa depan. Fungsinya perlahan menggeser draft MLS, yang secara prinsip, bisa dibilang sama dengan NBA, di mana pemain yang dinilai sebagai bakat terbaik universitas tahun lalu dikumpulkan dalam daftar dan  (biasanya) tim dengan rekor terburuk babak reguler tahun lalu diberi kesempatan untuk memilih pemain yang dibutuhkan.

Setidaknya tercatat, dari 21 nama yang menjadi draft pilihan no 1 MLS, baru tiga nama yang menbawa timnnya menjuarai MLS cup. Elecko Iskandarian, Chance Mayers, dan Marvel Wynne. Untuk nama yang disebut terakhir, selain MLS Cup, Waynne juga membawa timya meraih Canadian Cup, turnamen yang mempertemukan tim-tim sepakbola dari Kanada, termasuk tiga tim MLS di antaranya. 

Sedikit berbeda dengan NBA, tersebar 17 nama draft no. 1 yang pernah mencicipi cincin juara NBA, tiga pemain di antaranya tercatat dalam tiga perhelatan terakhir Andew Bogut (2015), Lebron James dan Kyrie Irving (2016). Saya sendiri nggak tahu kenapa draft no 1 basket lebih banyak mendapat kesempatan untuk meraih kesempatan meraih juara ketimbang basket, yang jelas selain kompetisi MLS baru seumuran saya (21 tahun), gaya maen dua olahraga itu jauh pisan bedanya.  

http://i.dailymail.co.uk
http://i.dailymail.co.uk

Berbeda dengan Generation Adidas, sejak diperkenalkan tahun 1997 sudah lebih dari 21 nama alumni Generation Adidas yang pernah menjuarai MLS Cup termasuk Elecko Eskandarian, Clint Dempsey, dan Kyle Beckerman. Menariknya, pemain seperti Tim Howard malah dan DaMarcus Beasley belum sempat mencicipi MLS Cup. Ngomong-ngomong, sebagai pemain mula, gaji pemain generasi Adidas akan ditanggung MLS. Seenggaknya begitu kata PTK-nya.

Section 10.16 Generation adidas / Home Grown Player Spend:  MLS will maintain the 2014 Generation adidas average per team spend during the term of the CBA, provided that MLS may spend such amounts onother "off budget" programs as determined by MLS (e.g., Home Grown Players).  MLS may spend up to ten (10%) less in any given year, provided that such unspent amount is carried forward to the following year and all such money is spent prior to the expiration of the CBA.  This amount shall not be applied against a Team's Salary Budget.

Bagian 10.16 Belanja/(pengeluaran) Generasi Adidas / Para Pemain Binaan Klub:  MLS akan tetap menyediakan pengeluaran rata-rata Dana Generasi Adidas 2014 bagi tiap tim selama jangka waktu PST, dengan ketentuan MLS dapat membelanjakan pengeluaran tersebut dalam jumlah tertentu untuk program "di luar ketetapan anggaran (off-budget)" yang ditentukan MLS (misal, Pemain Binaan).  MLS dapat menyisakan pengeluaran tersebut hingga kurang dari sepuluh (10%) pada tahun apa pun, sepanjang jumlah yang tdak habis dialihkan untuk tahun berikutnya dan dana tersebut sepenuhnya habis sebelum PST berakhir.  Penggunaan dana tidak boleh bertentangan dengan anggaran gaji Tim.

Sedikit berbeda dengan Liga Australia (Hyundai A-League), satu tim berhak menyediakan dana hingga $150.000, untuk tiga pemain binaan klub di bawah U-23. 

Kembali lagi soal Kaka, kehadiran Kaka sebagai Designated Player, pemain panutan, berhasil memenuhi perannya bagi MLS sebagaimana dikutip dalam buku Long-Range Goals: The Success Story of Major League Soccer, menjaga pamor MLS, namun secara prestasi, dana yang dikeluarkan Flavio Augosto Da Silva dan Phil Rawlins untuk membiayai sebagian besar gaji Kaka dan Antonio Nocerino, para pemain panutan tim mereka, belum berbuah manis. Mereka cuma ada di peringkat 15 peringkat keseluruhan musim lalu dan belum sempat mencicipi babak playoff MLS.  

Perlu diketahui, seperti juga NBA, MLS juga membagi tim berdasarkan wilayah. 6 tim terbaik masing-masing wilayah akan masuk babak playoff. Peringkat 3-6 akan saling beradu di babak knockout dan akan bertemu dua peringkat terbaik masing-masing wilayah di semifinal wilayah. Tim yang berhasil lolos di semifinal akan saling beradu di final wilayah. Pemenang final masing-masing wilayah kemudian akan beradu di Final.

Mungkin bagi penikmat sepakbola eropa format ini dianggap kurang pas karena tim berbeda wilayah hanya bertemu sekali, selain itu format MLS nggak mengenal degradasi jadinya kurang pegimana gitu.

Hanya saja, format ini tidak selalu "seaneh" bayangan kita. Klo liga hanya dilihat dari kacamata babak reguler dan klasemen diukur dari rekor menang kalah secara keseluruhan akan didapatkan fakta nyeleneh.

Perpaduan aturan salary cap dan liga tanpa degradasi memungkinkan pergeseran peringkat klasemen yang cukup sengit. Setidaknya, itu terjadi juga di Liga A Australia. Tidak ada tim yang benar-benar mendominasi Liga sejak liga berdiri.

Sebagai gambaran sejak Premier League berdiri, kita tahu Manchester United jadi tim paling dominan. Dari musim 1992-1993, hanya sekali Manchester United ada di luar lima besar sampai musim 2015-2016, yaitu musim lalu. Berdasarkan fakta tersebut, rata-rata MU finish di peringkat ke-2, setidaknya sampai musim kemarin. Arsenal membututi di peringkat kedua, dengan rata-rata finish di peringkat ke-3,54. 

Rata-rata peringkat Arsenal bisa lebih baik klo mereka nggak nyangsang di peringkat 10 di musim perdana EPL. Liga di Eropa yang punya tim dengan koefisien lebih baik dari MU adalah Liga Jerman. Karena konsisten di peringkat dua besar, koefisien Bayern Munich bisa nyampe 1,75. Barcelona di La Liga aja koefisiennya cuma 2. Koefisien tadi saya hitung dari tahun yang sama, dimulai sejak Premier League digelar. Serie A? Koefisien Juventus baru 3,11. Nggak superior-nya  Juventus, selain lantaran pernah berada di peringkat 20 (siap-siap dijitak fans Juve), mereka pernah empat kali berada di peringkat 7 Serie A.

Gambar tabel nggak menarik (maklum bikin sendiri #jujur banget)
Gambar tabel nggak menarik (maklum bikin sendiri #jujur banget)

Balik lagi ke MLS. Dari 23 tim yang yang tercatat pernah berpartisipasi di MLS dari awal sampai musim 2015, LA Galaxy bisa dibilang jadi tim terbaik. Enam kali juara MLS dan tidak selamanya diraih dengan menjadi tim terbaik di babak reguler. Musim 2012 misalnya, LA Galaxy menjadi juara setelah di babak reguler berada di peringkat delapan klasemen keseluruhan. Bersama Real Salt Lake, LA Galaxy tercatat sebagai tim peringkat delapan klasemen keseluruhan, yang mak bedunduk jadi juara MLS di akhir musim. Dengan pergeseran peringkat yang dinamis tiap musimnya, hingga tahun 2015, rata-rata LA Galaxy ada di peringkat 4.95 disusul Chicago Fire dengan rata-rata peringkat 6.25. Dari 47 tim yang beredar di EPL 42 tim pernah degradasi. Cuma Arsenal, Chelsea. Everton Liverpool, Manchester United, dan Tottenham Hotspurs yang belom pernah terdegradasi.  Kalok tolok ukur tahunnya sama, La Liga malah lebih menarik lagi. Dari 45 tim yang pernah beredar, cuma Barca, Bilbao, Madrid, dan Valencia yang masih awet sampek sekarang. Inter, Lazio, Roma, ma Milan jadi wakil di serie A. Persamaan liga-liga ini, tim yang beredar di pernah dan sedang beredar di liga-liga yang (dianggap) besar di Eropa bersamaan dengan dimulainya EPL cenderung mirip, antara 40-47 tim, dengan koefisien 4 besar, berkisar antara 1,75-8. Berbeda dengan tim yang tim yang menerapkan salary cap. Koefisien pergeseran 4 besar lebih rapat, 3,75-4,36 untuk Liga Australia dan 4.71-6,7 untuk MLS, tentu aja dengan jumlah tim yang lebih ringkas. 

Dengan kata lain aturan "salary cap" memaksa tim untuk tetap kompetitif di atas kertas. Faktanya klasemen keseluruhan MLS nggak jarang membentangkan jarak sampai sepuluh poin antara peringkat pertama dan peringkat di bawahnya.

Format liga yang bisa kita liat juga bukan berarti nggak bisa kompetitif lho. Klo ada yang masih ingat serie A musim 2003-2004, di mana peringkat 8 sampai 19 musim itu, cuma beda 4 poin. Lazio, Lecce, Cagliari, Regina (peringkat 10-13) malah punya nilai sama 44 poin. Emang sih waktu itu Trezeguet, Del Piero, Nedved terlalu perkasa di lini depan dan Thuram Cannavaro rapet pisan maennya. Nggak heran mereka juara serie A dengan poin 86 waktu itu.  

Saya pribadi pengen Salary Cap Sepak bola mengadopsi Salary Cap NBA, di mana besarnya salary cap NBA dihitung dari sekitar 42% keuntungan liga secara keseluruhan. Keseluruhan artinya keuntungan tiap tim, dari mulai pendapatan parkir, maskot, tiket, hingga pendapatan hak siar dikumpulin jadi satu, katakanlah 35-40% dari masing-masing komponen itu. Setelah semuanya terkumpul, keseluruhan keuntungan tersebut akan dibagi rata ke semua klub tanpa terkecuali dan akan digunakan sebagai salary cap Liga untuk MUSIM KEDUA setelah musim ini. Besar keuntungan yang didapat tiap tim secara umum nggak jauh beda dari musim ke musim. Yang makin besar justru kontrak siaran TV, faktor inilah yang bikin nilai salary cap dari tahun ke tahun bisa naik.

i.ytimg.com
i.ytimg.com

Seenggaknya seperti Lakers saya di basket, meski dapet kontrak 20 tahun yang aduhai dari Warner Cable, sekarang Spectrum, Lakers tetep nggak bisa seenaknya ngontrak pemaen. Begitu juga Real Madrid, meski konon sempat dapet pendapatan hak siar tiga kali lebih gede dari tim-tim lagi di La liga, mereka kudu tetep anteng di bawah aturan salary cap.

Dalam aturan NBA, setiap tim maksimal bisa mengontrak dua pemain dengan gaji maksimal, selama masih tersedia ruang dalam salary cap. Besar presentasenya bervariasi, tergantung prestasi dan masa bakti. Bisa 25%, 30% atau 35%. Pemain berhak mendapat gaji dengan proporsi sekitar 35% dari keseluruhan salary cap selama pemain tersebut sudah bermain selama 10 musim atau lebih. Untuk sepakbola, paling pol, sekali lagi, 12.5%.  

Akan menarik klo Liga-liga Top Eropa menerapkan sistem persentase gaji seperti yang diterapkan NBA, lantaran klo MLS udah kagak mungkin karena rata-rata gaji pemain MLS musim 2016 aja $308.969. Sedang gaji Kaka di Real Madrid tahun 2010 aja sudah mencapai $13.13 juta dolar per tahun. Jadi setidaknya kita tahu kenapa sistem salary Cap MLS  berbeda dengan NBA. Apa mungkin, untuk saat ini, Kaka digaji $457.500?

Menarik ketika sistem penggajian itu diterapkan di La Liga misalnya. Sekedar berandai-andai. Katakanlah Real Madrid.  gaji yang diterima Cristiano Ronaldo sebesar  365.000 setara dengan 12,5% total anggaran gaji tim sebagaimana gaji pokok maksimal yang bisa diterima seorang pemain dalam satu tim MLS, maka 24 pemain lain akan mendapat akan mendapat 87,5% dari total gaji tersebut.  

Menariknya gaji pemain NBA tidak dibagi prorata tiap tahun. Presentasenya diberikan bertahap dengan kenaikan/penurunan  beberapa persen dari nilai kontrak tahun sebelumnya. Dengan cara ini, anggaran gaji pemain sebuah tim akan naik tiap musim  dan jumlah totalnya seringkali di atas salary cap musim berikutnya. Perlu dicatat total gaji pemain Real madrid menurut daftar di bawah ini sekitar 2.281.000. Apabila salary cap la liga musim ini katakanlah 2.300.000, maka nilai kontrak pemain Real Madrid masih di bawah salary cap. Menarik jika total gaji pemain yang masih terikat kontrak musim berikutnya lebih besar dari nilai salary cap musim berikutnya.

http://sillyseason.com
http://sillyseason.com
Untuk memperkuat kedalaman tim, Madrid mesti melego pemainnya atau mengontrak pemain bagus dengan harga bersahabat. NBA menyebut pemain seperti itu dengan pemain veteran yang digaji dengan minimum. Pemain yang rela mengorbankan nilai kontraknya demi peluang meraih tropi. Kalau memang cara ini diberlakukan, pemain seperti Cafu bisa masuk hitungan ketika pindah dari Roma.

Cara ini sih jelas nggak bisa dibelakukan dalam waktu dekat karena gaji pemain antar tim dalam satu liga saja masih menganga lebar. Tapi klo lima atau enam musim lagi siapa tahu (tetep nggak bisa).

Minimal dengan cara ini, tim tidak bisa sepenuhnya superior di liga dan harus berhati-hati bergerak di bursa transfer. Untuk bisa tetap kompetitif, tim kadang harus mentransfer pemain lain agar anggarannya tetap sesuai dengan aturan salary cap. Menarik disimak klo misalnya MLS menerapkan standar presentase standar kenaikan gaji seperti NBA di mana pemain yang berpindah klub bisa mendapat kenaikan/penurunan gaji 4.5 sampai 7.5% dari gaji di tim lama. Jadi tim akan makin selektif dalam bermain di bursa transfer.  
Pada dasarnya, salary cap di Amrik ma Australia ga beda jauh. Salah satu beda yang menonjol mungkin alokasi untuk para pemain yang loyal sama klub. Tim diperkenankan menyediakan dana sampai $200.000 untuk mengapresiasi para pemaen di suatu klub yang udah lima tahun berturut-turut atau lebih mengabdi di tim yang tersebut. 

Ngomong-ngomong, berdasarkan aturan MLS, pemain yang ditransfer ke klub lain berhak dapetin 10% dari biaya transfer.

Hanya saja, belum selesai berandai-andai bisa ngeliat Liga yang nggak jor-joran, saya langsung diingetin ma bang Ito waktu ngobrolin soal ini dua atau tiga tahun lalu. Bang Ito bilang cara ini mungkin bisa berhasil, klo liganya cuma satu. MLS aja, La Liga aja, atau premier league aja. Ini dikarenakan perputaran transfer, di eropa terutama seringkali nggak melibatkan satu liga aja. Real Madrid aja ngedatengin Modric dari liga Inggris, Karim Benzema dari Liga Perancis dan Tony Kroos dari liga Jerman.

Untuk saat ini aja perbandingan gaji pemaen di masing-masing liga punya standar yang beda-beda, Gimana nanti kalok mereka pindah klub ke negara tetangga? Katakanlah Gaji Eden Hazard 200,000 di Chelsea, Higuain 150,000 di Juventus,  Arjen Robben 140,000 di Bayern Munchen, Cristiano Ronaldo 365,000 di Madrid. Klo pindahnya di klub ini-ini aja mah belom masalah. Apa untuk saat ini memungkinkan Ronaldo bermaen buat Benfica misalnya.

Aturan-aturan persetujuan tawaran kolektif, terutama untuk salary cap, agak sulit untuk diterapkan, namun bukan berarti aturan lain tidak bisa diadaptasi. Misal tentang pembayaran gaji setiap dua minggu sekali secara prorata, keharusan tim menyediakan sarapan bagi pemain sebelum latihan, serta penggantian biaya dokumen perpindahan pemain.

Selain itu, seperti lazimnya PTK, PTK MLS juga mengatur tentang wanprestasi/ cidera janji. Apabila MLS lalai membayar gaji seperti yang diatur dalam perjanjian pemain dan MLS punya waktu 10 hari untuk memulihkan kelalaian, terhitung sejak pemain memberitahukan kelalaian MLS.

Section 18.4 Default:  The Player may terminate his SPA upon ten (10) business days' written notice to MLS and the Union, if (i) MLS defaults in its obligation to pay the salary set forth in Paragraph 1 of the SPA or fails to perform any other material obligation agreed to be performed by MLS under the SPA and (ii) MLS fails to remedy such default within ten (10) business days, or to give notice of intent to arbitrate within seven (7) business days, of the Player giving notice of such default in writing to MLS and to the Union.  

The Player agrees that he shall have no right to terminate his SPA prior to the conclusion of its term (including any option periods) other than as expressly set forth in this CBA or by mutual written agreement with MLS.  In the event MLS disputes an assertion by the Player that it is in default of its obligations set forth in Paragraph 1 of the SPA or that it has otherwise failed to perform any other material obligation under the SPA, and it is subsequently determined pursuant to the Grievance procedures set forth in Article 21 of this CBA that a default has occurred, MLS shall have ten (10) business days from the date of such finding to remedy such default.  During the pendency of any Grievance procedure concerning the existence of a default, the Player's SPA shall remain in effect.

Bagian 18.4 Wanprestasi:  Para pemain dapat menghentikan PPS-nya, segera setelah pemberitahuan tertulis diberikan kepada MLS dan Serikat sepuluh hari sebelumnya, apabila (i) MLS melanggar kewajiban membayar gaji yang diatur dalam Ayat 1 PPS atau lalai melaksanakan kewajiban material lain yang harus ditunaikan MLS berdasar PST dan (ii) MLS lalai memulihkan cedera janji dalam sepuluh (10) hari kerja, atau memberitahukan minat timbang tara dalam tujuh (7) hari kerja,  terhitung sejak Pemain memberikan pemberitahuan tertulis mengenai cedera janji kepada MLS dan Serikat. 

Pemain sepakat bahwa Pemain tidak berhak menghentikan PPS sebelum akhir jangka waktu (termasuk opsi perpanjangan) kesepakatan selain yang secara tegas diatur dalam PST atau dengan kesepakatan tertulis bersama  dengan MLS.  Dalam hal MLS mempersoalkan tuntutan Pemain yang melanggar kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam  Pasal 1 PST atau bahwa telah lalai melaksanakan kewajiban material lain apa pun berdasarkan PST, dan selanjutnya ditetapkan berdasarkan Prosedur pengajuan keluhan yang tercantum dalam Pasal 21 PST ini yang bahwa menyatakan telah terjadi cidera janji, MLS memiliki waktu sepuluh (10) hari untuk memperbaiki kelalaian terhitung sejak tanggal kelalaian ditemukan. Selama menunggu hasil prosedur pengajuan keluhan terkait terjadinya cidera janji PPS Pemain tetap berlaku.

Sebagai penutup, meskipun sepak bola dikenal sebagai olahraga yang glamor, menurut sebagian orang, MLS juga memikirkan kelangsungan hidup pemain setelah tidak lagi bermain. Terlepas pemain sudah membuat perencanaan sendiri, MLS akan otomatis menyisihkan 3,75% gaji pokoknya untuk dimasukkan dalam rekening pensiun 401k bagi para pemain yang sudah mendaftar dalam program pensiun 401k. Dalam program pensiun ini, sebagaimana diatur dalam, 401 plan, pemain bisa membayar pajak uang pensiunnya di muka (elective deferrals) atau belakangan setelah uang pensiunnya diterima (Roth Plan).  

401 plan sendiri sejatinya bukan investasi tapi rekening (rencana) tabungan pensiun. Begitu kata Thomas Herold dalam Dictionary of Financial Term.  Koreksi klo salah, tabungan tersebut bisa menghasilkan untung (atau rugi)  apabila kita emang menginvestasikan dana tersebut misal di bursa saham atau buat  Real Estate Investment Trust atau di Indonesia dikenal dengan Dana investasi lahan yasan.   Keuntungan modal atau bunga pada investasi ini tidak akan kena pajak, selama keuntungan tersebut belom ditarik. Sebenarnya ada sih rencana tabungan lain di luar 401k plan. Klo nggak salah namanya 403b plan. Bebas pajak dan bersifat non profit. Hanya saja program ini ditawarkan pada karyawan pemerintah.  

Akhirnya kelar juga bikin coretan buat komenin coretan Bang Edu  yang klo nggak salah judulnya "Perlukah Liga Inggris menerapkan Salary Cap", setelah dua apa 3 taon lalu ngobrol di komen bareng bang  Ito (perasaan lama banget).

Catatan: Monggo kersa kalau ada nyang mau mengoreksi data atau terjemahan yang nggak pas
*Kesimpulan: setelah baca terjemahan sendiri, ternyata saya perlu belajar Inggris hukum ma (Indonesianya lagi), amburadul pisan $hestek ngaku

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL bola

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana