Mohon tunggu...
MOH SYIHABUDDIN
MOH SYIHABUDDIN Mohon Tunggu... Jurnalis - Pemikir Muda Islam Indonesia

PEGIAT LITERASI, AKTIVIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Nasionalisme-Religius "Tetap Kalah" Menghadapi Nasionalisme-Sekuler

24 Oktober 2019   12:55 Diperbarui: 24 Oktober 2019   19:13 931
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Pertarungan politik di panggung Pilpers 2019 usai sudah dan kemenangan sudah jelas menunjukkan pasangan nomor 1, Jokowi-Ma'ruf dan kekalahan pasangan nomor 2, Prabowo-Sandi. Kemenangan ini semakin dikuatkan dengan dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih beserta para menteri-menterinya yang akan membantu presiden menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan pada bulan oktober tahun ini.

Dalam hemat penulis, sepanjang proses perjalanan pemilu 2019 kemarin Pilpers telah membentuk dua kutub besar yang memisahkan dua kekuatan besar ideologi politik di Indonesia, Nasionalis-Religius dan Nasionalis-Sekuler.

Dua kutub Kekuatan Politik

Nasionalis-Religius adalah kekuatan atau kelompok politik yang mengintegrasikan gagasan nasionalisme Indonesia dengan ide-ide religiusitas Islam dan nilai-nilai keagamaan. Mereka adalah representasi dari kelompok-kelompok Islam yang tetap mendukung eksistensi Indonesia dengan segala bentuknya, baik dalam bentuk Negara Kesatuan (NKRI) atau dalam bentuk lainnya (NII, atau sejenisnya).

Kelompok ini diwakili oleh PKB, PPP, PAN, PBB dan PKS. Termasuk dalam poros ini adalah organisasi keagamaan yang berkembang pesat di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hidayatullah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga termasuk dalam barisan ini.

Adapun Nasionalisme-Sekuler adalah kekuatan atau kelompok politik yang mengintegrasikan gagasan nasionalisme Indonesia dengan ide-ide sekulerisme, memisahkan antara urusan keagamaan dengan kegiatan kenegaraan. Mereka adalah reperesentasi dari kelompok-kelompok politikus yang tidak menghiraukan identitas keagamaannya secara nyata pada seluruh praktik politiknya, kendati mereka merupakan individu yang taat beragama dalam kehidupan sehari-harinya. Kelompok ini secara mendukung gagasan nasionalisme Indonesia dalam bentuknya yang sudah final, NKRI.

Kelompok ini diwakili oleh Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PDI-P, Partai Nasdem, PKPI, Partai Hanura, Partai Berkarya, Partai Garuda, Partai Perindo dan PSI. Beberapa ormas yang tidak berafiliasi pada keagamaan tertentu masuk dalam kategori kelompok ini, misalnya Pemuda Pancasila.

Pilpers yang Membelah Dua Kekuatan

Pada ajang perhelatan pilpers 2019 ini kedua kekuatan politik diatas telah terbelah menjadi dua, keduanya memiliki kekuatan yang sama-sama mengandung ideologi politik yang sama. Pada poros Jokowi-Ma'ruf pasangan nomor 1 ada kelompok Nasionalisme-Religius, yakni  PKB dan PPP, dan ada juga kelompok Nasionalisme-Sekuleris, yakni PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura. Ditambah tiga kelompok non-parlemen, yaitu PKPI, Perindo dan PSI.

Sedangkan pada poros Prabowo-Sandi pasangan nomor 2 ada kelompok Nasionalis-Religius, yakni PAN dan PKS dan juga ada kelompok Nasionalis-Sekuler, Demokrat dan Gerindra.

Kedua pasangan calon presiden-wakil presiden ini sama-sama memiliki basis kekuatan ideologi politik di Indonesia yang sama-sama bisa memberikan pengaruhnya yang cukup kuat. Keduanya memiliki jaringan yang cukup berpengaruh dalam menentukan jalannya pemilihan presiden. Ini dibuktikan dengan peraihan surau pada pemilu legislatif yang diselenggarakan secara bersamaan di tahun 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun