Hayo, Beri Kami Kerjaan Apa Ga?!

18 Juli 2012 02:07:17 Dibaca :

Selamat Pagi sodara-sodara...

Sore ini semua staff di site office sengaja dikumpulin ama project manager buat miting.Gak biasanya sih yang kayak ginian terjadi.Biasanya kalo sampai anak buah level paling akar kayak aku klo diajak miting pasti urusan teknis,tapi kali ini ga.Usut punya usut ternyata besok tuh (18/07) mau ada demo dari penduduk desa di belakang proyek yang kami bangun.Kebetulan kami lagi bikin pabrik susu di daerah Purwosari,Pasuruan.Denger-denger orang-orang ini akan mengaktualisasikan kekecewaannya karena mereka sebagai tetangga terdekat pabrik ga ngerasain manfaat pembangunan itu utamanya dari segi peningkatan ekonomi ato pendapatan mereka.Masalahnya mungkin adalah penyerapan tenaga kerja dari penduduk lokal yang sampe saat ini menurut mereka masih minim bahkan ga ada samasekali.Itu jangka pendeknya,jangka panjangnya mungkin mereka bakalan ngajuin poin-poin tuntutan yang sama ke pabrik jika kelak pabriknya beroperasi.

Sebetulnya bukan hal yang salah ketika mereka berbuat seperti itu.Itu hak mereka dan mungkin ada aturannya_entahlah saya ga mengerti tentang ketenagakerjaan_dan itu wajar.Faktanya ga cuma mereka yang ngalamin hal demikian.Di pelosok kota ato desa di Indonesia yang dirambah gurita industri pasti pernah ngalamin yang namanya gejolak persinggungan 2 pihak antara wilayah tuntutan produksi dan tuntutan perut.Tentu yang namanya perusahaan ato industri pasti menginginkan karyawan yang cakap,berdedikasi dan profesional.Sedangkan sebagai penduduk lokal harapan akan adanya lapangan kerja senantiasa terbayang ketika disitu ditancapkan pondasi industri.Sayangnya tuntutan industri senantiasa tidak selalu dipenuhi oleh penduduk lokal.Kompetensi,skill serta faktor pendidikan sering jadi kendala bagi penduduk lokal buat nembus posisi ini.

Umumnya perusahaan ketika membuat kantor ato pabrik baru jauh-jauh hari udah mentraining calon karyawannya dari pabrik yang terdahulu dan memutasikannya berangsur-angsur sampe kondisi pabrik beroperasi normal.Kondisi yang demikian tanpa disadari juga jadi pemicu kecemburuan sosial bagi lulusan yang setara dari penduduk lokal tapi ngerasa ditelikung gara-gara ga mengerti ato terlewat dari prosedur perekrutan itu.Ironisnya begitu mereka menyadari seringkali lamaran kerja cuma dibiarin numpuk di meja satpam tanpa pernah di sentuh HRD yang kebetulan masih berkantor di tempat lama.Bahkan saya pernah membaca onggokan CV dari tempat sampah yang salah satunya malah menyertakan 'surat sakti' dari Wakil Bupati kota setempat yang tentu berharap mudah-mudahan yang punya pabrik mau membuka pintu hatinya ato setidaknya agak keder ngeliat stempel 'backing' sang pemilik CV.Wow!

Namun ada juga perusahaan yang bermain cukup cantik buat ngakalin konflik yang beginian.Di kampung saya di Surabaya beberapa taun lalu berdiri sebuah ritel waralaba dari mancanegara yang udah punya nama.Awal berdiri emang ada beberapa tetangga yang udah direkrut mulai dari klining servis,pramuniaga sampe karyawan logistik yang kerjanya malam cuma buat nata kembali barang-barang yang udah diaduk-aduk konsumen.Entah kenapa lambat laun satu persatu mereka ini dilepas dari karyawan kontrak lalu sampe jadi karyawan harian dan akhirnya out dari udara.Itu yang aku denger cerita salah satu dari mereka.Dan tentunya kejadian kayak gini bisa aku ceritain karena aku juga pernah ngalamin pahitnya nyari kerja mulai jadi pelayan kafe,kuli bangunan,jual baju koko dan macem-macem laennya.Bahkan pernah ditolak padahal cuma ngelamar jadi tukang cuci piring di resto.

Jadi mudah-mudahan nanti selepas demo udah nggak ada apa-apa.Proyek aman dan owner pabrik bisa ngasih jawaban yang memuaskan atas tuntutan mereka.Duh,mana pintu gerbang proyek ditutup lage,jadi gak bisa nyari makan siang neh,untung udah dibawain bekal dari rumah.Praktis,higienis,ekonomis,harmonis,modis,plus irit. :))

Tetap semangat!

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?