HIGHLIGHT

Kejahatan Perbankan Dan Telekomunikasi Yang Dilindungi Undang-undang

24 Mei 2012 00:43:36 Dibaca :
Kejahatan Perbankan Dan Telekomunikasi Yang Dilindungi Undang-undang
mbah yut menerima telepon

Kejadian 1;

Tanggal 11 Mei ini pakpuh saya mendapat telepon yang mengaku dari Kepolisian yang mengabarkan anak bungsunya mengalami kecelakaan dan mengalami luka serius dan temannya meninggal dunia, lalu oleh orang yang mengaku polisi itu dikasih nomor lain yang katanya dokter yang merawat, dan oleh orang yang mengaku dokter tersebut disambungkan dengan orang yang kayak kesakitan yang  merintih kesakitan yang tak jelas kata-katanya. Dan ketika itu pula pakpuh langsung panik, menangis dan syok. Dan dengan setia si penelpon tadi menghubunginya lagi, untuk menyelamatkan anaknya pakpuh harus transfer ke rekening sebesar 50 juta untuk menyelamatkan mata dan cidera kepala anak bungsunya.

Dan saat itu juga bupuh yang kebetulan disamping pakpuh mencoba menghubungi anak bungsunya, namun tidak bisa karena hanya nada , "Thut.........thut............ "  terus hampir 1 jam.

Kepanikan pakpuh semakin jadi, dan pakpuh tanpa pikir panjang langsung ke ATM menstranfer uang ke rekening yang telah ditunjuk.

Hampir 2 jam pakpuh menunggu kabar yang tak pasti tentang anak bungsunya. Namun sekitar 1 jam kemudian si sulung telepon dan ditanya tentang adiknya, si sulung menjawab adik sedang disamping saya sedang masuk kantor dan tidak ada masalah. Perasaan gembira dan syukur mengetahui kabar tersebut, namun uang telah hilang melayang, dan segera pakpuh pergi ke Bank.

Sesampai di bank si petugas bilang kalau pakpuh baru saja kena penipuan, dan hal ini mustahil untuk diurus karena terbentur rahasia pemilik rekening, dan hanya pihak kepolisian yangberhak dan itupun memerlukan prosedur yang begitu panjang, dan rasanya mustahil kata si petugas bank.

Lalu pakpuh segera pergi ke kantor Polisi, lalu Polisi mendata, tapi lagi-lagi pihak Kepolisian tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, hanya sebatas mendata, dan selang 1 jam kemudian 4-5 wartawan mendatangi rumah pakpuh menanyai hal tersebut. Sudah tertipu juga masih harus menanggung malu jadi bahan berita.

Padahal seringkali pakpuh melihat dan membaca tentang cara penipuan yang mirip begitu, tapi dalam keadaan panik pakpuh jadi tak berpikir panjang. Dan sindikat penitpu ini begitu menguras perasaan yang semakin membuat kalut dan syok.

Si penipu menelepon melalui telepon rumah [Telkom]. Si penimpu mengetahui telephone yang paling sering dihubungi oleh telepon rumahnya pakpuh.

Kejadian 2;

2 hari sebelum kejadian di rumah pakpuh, teman saya mendapat tugas pelatihan di Surabaya, dia berangkat berdua dengan teman namun beda instansi.

Perjalanan ke Surabaya memerlukan waktu 4-5 jam, teman saya itu naik bus lalu naik tak

Pada jam yang hampir bersamaan  istri yang sedang dirumah mendapat telepon yang mengabarkan kalau suaminya mengalami kecelakaan mengalami perdarahan dan luka yang hebat, sementara temannya meninggal dunia. dan orang yang menelepon yang mengaku dari Kepolisian itu juga memberi nomor telepon dokter yang merawat suaminya, dan ketika dihubungi dikatakan harus segera mentranfer uang ke rekening yang ditunjuk, istri teman saya ini sudah menduga kalu ini penipuan, namun ketika disambungkan dengan orang yang merintih Ah... uhg.... yang tak jelas kata-katanya pertahannaya jebol juga, si istri panik, mengira suaminya kecelakaan betulan. Lalu si istri menelephone suaminya namun tidak bisa, hanya nada Thut...........thut........... hampir 1 jam. Si istri semakin panik dan cepat ke bank mentranfer uang. Dan setelah transfer dia mampir ke kantor dengan tangisan yang meraung-raung menceritakan kejaian itu. lalu saya berinisiatif menelephon tempat pelatihan untuk disambungkan teman saya yang sedang pelatihan. Teman saya ini segar bugar dan teleponnya sejak 2 jam yang lalu di telepon puluhan nomor yang tidak ia kenali, nomor itu ketika diangkat hanya suara orang nyanyi-nyanyi, dan terus begitu di kesepuluh nomor yang menghubunginya. Perasaan gembira mengetahui suaminya selamat, namun uang terlanjur melayang. Dan segera istri teman saya menuju bank mungkin uangnya bisa diselamatkan, lagi-lagi sipetugas bank tak bisa berbuat banyak dan menyarankan lapor ke kantor polisi.

Sesampai di kantor polisi, lagi-lagi pihak kepolisian tidak bisa berbuat banyak karena terbentur undang-undang.

Pada kejadian kedua ini si penipu menghubungi telepone rumah [Telkom] dan mengetahui transaksi telepon yang paling sering dihubungi dirumah teman saya itu.

Begitu juga sebulan yang lalu menimpa saudaranya pakpuh, dengan modus yang sama menggunakan telepone rumah juga [Telkom].

Yang  pertanyaan siapa yang bertanggun jawab tentang hal ini ? Apakah ;

  1. Pihak Telkom yang hanya mengetahui trafict percakapan nomor yang paling banyak dituju
  2. Pihak bank yang mengetahui rahasia pemilik rekening
  3. Pihak Kepolisian yang mempunyai wewenang menyidik
  4. DPR pembuat undang-undang
  5. Mahkamah konstitusi yang menguji kelayakan undang-undang

Dan berikut ini kutipan tentang http://id.shvoong.com/law-and-politics/administrative-law/2242012-prosedur-pemeriksaan-rekening-bank/#ixzz1vhu0yut2

Bahwa untuk memeriksa rekening bank didasarkan pada Pasal 42 Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Juncto Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dimana Rekening yang boleh diperiksa penyidik hanya milik seorang yang sudah dinyatakan statusnya sebagai tersangka. Selanjutnya pemeriksaan rekening tersangka harus dengan ijin Gubernur Bank Indonesia. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut : 1. Permohonan diajukan melalui Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, dengan menyebut identitas tersangka, Bank dan nomor rekening yang akan diperiksa, serta identitas penyidik yang akan memeriksa rekening tersebut. 2. Permohonan dilampiri dengan Laporan Polisi , Berita Acara Pemeriksaan Saksi, Berita Acara Tersangka. Setelah ijin Gubernur Bank Indonesia diterima, penyidik membuat surat kepada Bank yang dimaksud dengan merujuk surat ijin Gubernur Bank Indonesia, disertai dengan menyebut hal-hal apa yang diminta untuk diperiksa pada rekening tersangka tersebut. Untuk rekening yang diperiksa, terlebih dahulu dilakukan tindakan pemblokiran dengan maksud menghentikan lalu-lintas pada rekening tersebut. Dari hasil pemeriksaan lalu-lintas rekening dapat ditindak lanjuti dengan penyitaan bila dianggap perlu oleh penyidik.. Selanjutnya tata cara pemblokiran dan penyitaan dilakukan dengan ; 1. Surat pemblokiran disampaikan oleh penyidik ke Bank dengan tembusan Bank Indonesia yang memuat antara lain tindak pidana yang disangkakan, identitas dan nomor rekening dan atau bukti simpanan serta nama dan alamat kantor Bank. 2. Pemblokiran dilakukan atas rekening dan atau bukti simpanan yang diduga terkait tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. 3. Penyidik dapat menentukan jumlah nominal simpanan yang diblokir untuk disampaikan ke Bank. 4. Pemblokiran diberikan batas waktu sampai dengan terbitnya surat ijin membuka rahasia bank dari Bank Indonesia dan sampai terlaksananya penyitaan. 5. Simpanan yang diblokir tetap berada dan ditatausahakan pada bank yang bersangkutan atas nama pemilik rekening atau bukti simpanan. 6. Setelah diblokir, penyidik harus segera mengajukan permohonan ijin membuka rahasia bank kepada Gubernur Bank Indonesia. 7. Dalam pertimbangan tertentu, pemblokiran dapat ditindak lanjuti dengan penyitaan. 8. Simpanan yang disita guna dijadikan barang bukti, tetap berada pada rekening atas nama pemilik rekening / bukti simpanan dan dititipkan kepada Bank dengan status barang sitaan dengan membuat Berita Acara Penitipan. 9. Barang sitaan yang diserahkan kepada penyidik ke Jaksa Penuntut Umum pada tahap kedua, tetap ditatausahakan pada bank yang bersangkutan atas nama pemilik rekening / bukti simpanan dengan dibuat berita acara penitipan oleh Jaksa Penuntut Umum. 10. Hak dan kewajiban yang melekat pada simpanan yang disita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dana simpanan yang disita. 11. Khusus terhadap rekening giro milik bank umum yang ditatausahakan pada bank indonesia tidak dapat diblokir atau disita karena terkait dengan stabilitas sistem perbankan. 12. Dokumen asli yang disita penyidik, tetap ditatausahakan pada bank yang bersangkutan dengan membuat berita acara penitipan barang bukti, sedangkan untuk dokumen palsu yang dimiliki bank dapat langsung dilakukan penyitaan. Semoga kedepan terpikirkan oleh pihak yang berwenang, agar tidak terjadi lagi hal beginian.

Nanang Diyanto

/bunnan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri wakakakakaka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?