HIGHLIGHT

Gusdur, Jokowi, dan Foke

12 September 2012 23:39:21 Dibaca :

Putaran ke 2 Pemilukada DKI segera digelar, pertentangan tentang latar belakang keyakinan masih saja jadi perdebatan dan bahkan dijadikan senjata yang mematikan, mematikan kebebasan dalam beragama tentunya.

Sebenarnya syah-syah saja buat mereka [keduanya] menggunakan isue SARA untuk merebut kemenangan meskipun tidak ethis, seakan-akan mereka paling beragama, paling benar, dan paling super di mata Tuhan. Foke dan Jokowi segera bertarung, dan para pendukungnya mati-matian menggunakan isue agama dan ras, dan ada baiknya kita simak yang dibawah ini.

Penulis jadi teringat pidato Gusdur waktu di Pondok Pesantren Ngruwak Nganjuk dulu paska kejatuhan [dijatuhkan] dari kursi presiden. Gusdur waktu itu pidato dihadapan lintas agama dan di hadiri berbagai pemuka agama dan kala itu diadakan tanya jawab.

Pertemuan itu tidak membahas masalah kejatuhan beliau dari kursi keprisidenan.

Ada yang menarik dari tanya jawab itu ketika pemuka agama non Muslim bertanya mengapa Gusdur begitu menghormati orang non Muslim, dan Gusdur-pun menjawab dengan enteng dan membuat yang hadir tercengang baik orang pesantren maupun orang yang no Muslim yang hadir kala itu.

"Alloh itu super kuasa, Tuhan itu mutlak, Pencipta kita super otoriter yang seenaknya sendiri sekarang saya dijadikan Muslim dan anda dijadikan seperti apa yang anda yakini seperti sekarang, namun bisa jadi sebentar lagi Alloh membuat sebaliknya anda jadi kami yang lebih taat melebihi kami dan kami jadi anda  atau penjahat yang sangat menjijikan, semua mutlak wewenang Alloh..." jelas Gusdur.

"Itulah pentingnya merendah diri, dan saling menghormati, karena yakin saya dibuat begini dan anda dibuat begitu tak bisa lepas dari sang Pencipta..." kata Gusdur lebih lanjut.

"Kalau begitu Gusdur membenarkan keyakinan kami dong?" kata  penanya non Muslim.

"Jangan salah arti dulu, silahkan anda yakin dengan keyakinan anda dan saya yakin dengan keyakinan saya, terserah anda tapi bagi saya keyakinan saya yang paling benar bagi saya, ini mutlak nggak bisa ditawar-tawar." imbuh Gusdur.

Nanang Diyanto

/bunnan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri wakakakakaka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?