HIGHLIGHT

Mau Dekat dengan Allah SWT?

17 Februari 2010 04:16:00 Dibaca :



Gara-gara habis baca tulisan Kak Lina Benarkah Anand Krishna (Orang-Religius) Tidak Melakukan Pelecehan Seksual? saya jadi teringat tentang pengalaman saya yang nyaris bergabung dalam kelompok tarekat yang walaupun berbeda tetapi ada kemiripan dengan kelompok spiritual ala Anand Krishna.


Kisahnya terjadi ketika masih kuliah. Saat itu pernah ada teman yang mengajak saya untuk mengikuti suatu kelompok tarikat yang kira2 baru dia ikuti sekitar 3-4 bulan.

Tetapi supaya bisa memahami cerita saya itu, saya akan menjelaskan dulu apa itu tarekat, sufisme secara sederhana serta pendapat subyektif saya tentang itu semua.

Dan.. terpaksa cerita tentang pengalaman saya, yang nyaris bergabung dengan kelompok tarekat, akan saya tuliskan di tulisan berikutnya.

Apa sih Tarekat ?

Bagi yang belum begitu akrab dengan istilah tarekat, silahkan baca di wikipedia.. Klik disini.

Singkatnya, pemahaman sederhananya kira-kira begini.

Fondasi beragama adalah menjalankan syariat yang dapat diartikan sebagai menjalani ritual ibadah dengan kaidah dan aturan-aturan tertentu.

Menjalankan rukun Islam sesuai dengan aturan dan tatacaranya boleh dibilang merupakan inti dari syariat.

Rukun Islam itu terdiri dari:


  1. bersyahadat, bersaksi bahwa Allah SWT itu satu-satunya Tuhan dan Muhammad SAW itu adalah utusanNya
  2. melaksanakan shalat 5 waktu,
  3. berpuasa di bulan ramadhan,
  4. membayar zakat,
  5. melaksanakan ibadah haji jika mampu


Syariat dalam hal shalat 5 waktu misalnya adalah: kita harus berwudlu atau mensucikan diri terlebih dulu sebelum melakukan shalat, membaca niat untuk melakukan shalat dengan nama dan hanya karena Allah SWT, mengucapkan takbiratul ihram dan seterusnya.

Jadi boleh dibilang, kalau kita bicara syariat berarti kita membicarakan tatacara ritual/prosesi ibadah. Adalah tidak syah jika kita melaksanakan ibadat jika kita tidak mengikuti syariatnya.

Itu kira-kira pemahaman sederhana tentang syariat.

Sekarang kita coba lanjut ke pemahaman berikutnya tentang tarikat dan hakikat.

Sebelumnya, apakah Anda pernah membaca tulisan saya berjudul "Melakukan Shalat tanpa Harus Shalat!" serta komentar-komentarnya ? Coba baca dulu...

Secara normatif, beragama itu cukup dengan menjalankan syariat saja. Padahal, kita harus mencapai hakikat yang sesungguhnya.

Jika dalam beragama kita selalu berorientasi dan berfokus pada pencapaian hakikat maka melaksanakan syariat saja tentulah belum cukup. Tentu saja kita tidak dapat mencapai hakikat kalau kita meninggalkan syariat.

Muhammad SAW adalah acuan kita tentang seseorang manusia yang sudah mencapai hakikat. Dan ternyata Beliau tidak meninggalkan syariat.

Nah untuk mencapai hakikat, kita perlu mencari jalan yang bisa mengantar kita untuk mencapainya. Jadi jika kita bicara tarikat maka secara umum kita bicara mengenai jalan.. yaitu jalan menuju hakikat.

Nah, tarekat itu seringkali disebut sebagai berbagai macam aliran dalam sufi.

Kenapa begitu ? Sufisme itu difahami sebagai "ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi" seperti bisa dibaca di sini.

Nah apa yang dimaksud kebahagiaan abadi ? kebahagiaan abadi hanya bisa didapat ketika Allah SWT berkenan dan mau menerima kita serta manyayangi kita.

Jadi issue besar kebahagiaan abadi adalah tentang bagaimana mencapai suatu tingkat kedekatan yang dekat dalam berhubungan dengan Allah SWT. Dalam pengertian tersebut, berarti kita harus mendapatkan perkenan dari Allah SWT.

Nah tarekat itu adalah jalan untuk menuju hakikat yang tidak lain dan tidak bukan adalah mencapai tingkat hubungan yang terdekat dengan Allah SWT sang Pencipta.

Di kalangan orang yang mengikuti suatu kelompok tarekat, dikenal istilah maqam (baca:maqom) yang merujuk pada tingkat kedekatan dengan Allah SWT. Nanti detilnya saya jelaskan di tulisan saya berikutnya.

Sebagai catatan, sufisme dan tarekat itu bukan ilmu roh!

Adakah sufisme dan tarikat pada jaman Nabi Muhammad SAW ?

Pada zaman Muhammad SAW dan sahabat-sahabat yang sejaman dengan Beliau tidak dikenal yang namanya sufisme atau tarekat alias "jalan untuk mencapai hakikat".

Kenapa begitu ? Karena pada saat itu, umat Islam masih memiliki Utusan Allah SWT di kehidupan kesehariannya. Setiap masalah atau ketidakjelasan langsung dapat ditanyakan ke Utusan Allah SWT.

Bahkan walau Muhammad SAW sudah wafat, para sahabatnya yang dulu sempat mengenal Muhammad SAW pun tidak sampai pusing harus mencari jalan untuk mencapai kedekatan yang erat dengan Allah SWT.

Kenapa begitu ? karena mereka pernah mengenal Muhammad SAW dan tahu benar bagaimana keseharian Muhammad SAW dalam mencapai kedekatan dengan Allah SWT.

Mulainya sufisme

Masalah mulai timbul ketika masuk ke masa-masa setelah para sahabat Muhammad SAW juga wafat.

Jika kita bertanya dalam hati tentang bagaimana caranya mencapai hakikat untuk mencapai kedekatan dengan ALlah SWT maka akan ada banyak perbedaan pandangan tentang itu.

Lalu, mulailah ada orang yang berusaha mencari cara untuk mencapai kedekatan yang dekat dengan Allah SWT. Dari situlah mulai berkembang yang namanya Sufisme dan muncullah berbagai macam jalan (baca: tarekat) untuk mencapai Allah SWT.

Berbagai macam tarikat

Sampai saat ini ada beberapa kelompok tarikat yang cukup dikenal. Kelompok tarikat yang masuk Indonesia antara lain Tarekat Qodiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Silahkan klik nama tarekat tersebut untuk mengetahuinya lebih detil.

Apakah mengetahui sufisme dan mengikuti tarekat itu adalah suatu kewajiban ?

Jika kita termasuk orang-orang yang haus akan hakikat kebahagiaan yang abadi maka ada baiknya kita mengetahui atau memahami tentang sufisme.

Kenapa begitu ? Memang kita bisa mencari dan mencari dalam berbagai bentuk untuk menemukan caranya mencapai kedekatan yang dekat dengan Allah SWT tetapi mungkin akan terlalu lama untuk menemukannya dan membutuhkan effort yang tidak sedikit.

Menurut saya memahami sufisme adalah bagian dari cara shortcut kita untuk melengkapi pembelajaran kita dalam mencari kebahagiaan yang abadi. Tapi tentu saja tidak berdosa jika kita tidak mengetahui sufisme.

Lalu, apakah untuk mencapai hakikat kebahagiaan yang abadi hanya bisa dilakukan dengan mengikuti/bergabung pada kelompok tarekat tertentu ? Tentu saja tidak.

Menurut saya, semua orang yang SELALU berusaha (terus menerus) mendapatkan kebahagiaan abadi pasti akan menemukan jalannya menuju hakikat kebahagiaan yang abadi yaitu kedekatan yang amat dekat dengan Allah SWT.

Jebakan dalam mencapai tingkat kedekatan yang sangat dekat dengan Allah SWT

JEBAKAN PERTAMA--

Menurut pendapat subyektif saya, hal yang paling mendasar di awal adalah memahami bahwa Allah SWT tidak memerintahkan 24 jam dalam sehari untuk melaksanakan ritual ibadah.

Jika kita sadar sesadarnya memahami betapa tidak berartinya diri kita jika kita bandingkan dengan Allah SWT maka kita pasti tidak akan bisa meluangkan waktu dalam 24 jam itu selain untuk beribadah. Tetapi ternyata Allah SWT tidak menginginkan yang seekstrim itu.

Allah SWT menginkan kita menjadi mahluk hidup sekaligus mahluk sosial yang harus berusaha untuk bisa mencapai kehidupan duniawinya dengan baik dan mencukupi. Itulah kenapa yang namanya mencari nafkah, belajar, membahagiakan orang tua, berkeluarga, memandirikan fakir miskin juga termasuk ibadah.

Jadi, bagaimana kita bisa mencapai kedekatan dengan Allah SWT jika kita tidak bisa mencukupi nafkah bagi keluarga? Apakah kita bisa mencapai kedekatan dengan Allah SWT sementara kita berkata-kata yang menyakitkan pada orang lain yang berbeda agama ? ... Kita bisa perpanjang list nya..

Singkatnya, menurut pendapat subyektif saya, kita butuh kelengkapan ibadah ritual dan ibadah non ritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT.

Saya sangat tidak menyarankan Anda untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT dengan cara meninggalkan tanggungjawab Anda sebagai mahluk hidup dan mahluk sosial alias meninggalkan kehidupan duniawi..

Anda tidak perlu untuk tidak menikah... Anda tidak perlu meninggalkan suami/istri dan anak-anak Anda... Anda tidak perlu mangkir dari pekerjaan... kalau tujuannya adalah untuk mendekati Allah SWT !

Memberi nafkah wajib hukumnya.. Menepati janji, sesuai kontrak pekerjaan, juga wajib hukumnya.. Menikah, walau tidak wajib alias tidak berdosa jika tidak melakukannya, tetapi sangat disarankan.

Allah SWT tidak mensyaratkan Anda untuk mengorbankan kehidupan duniawi Anda jika ingin mendekatiNya.

JEBAKAN KEDUA--

Seringkali ketika kita mencari suatu hakikat, kita justru mengabaikan hal-hal yang normatif (baca:syariat).

Percuma shalat kalau perilakunya seperti itu! Itu contoh klasiknya..

Coba kita perluas sedikit contohnya dengan hal-hal yang paralel logikanya. Misalnya:


  • percuma ada polisi karena toh selalu ada maling.
  • percuma internet di filter untuk akses-akses dari lembaga pendidikan karena kan bisa di akses dari warnet
  • percuma ditutupin pakai baju dan celana, kan kita sudah tahu semua apa yang ada dibaliknya kurang lebih sama ;)
  • silahkan diperpanjang list nya..


Realitanya kita tetap butuh polisi, kita tetap butuh filter untuk semua akses dari lembaga pendidikan, dan tentu saja kita tetap butuh pakaian untuk menutupi tubuh kita..

Jadi, kita tetap butuh shalat dan ritual ibadah lainnya! Kenapa ? Seperti di tulisan saya sebelumnya, jika kita ingin mencapai tingkat kedekatan yang sangat dekat dengan Allah SWT maka lihatlah Muhammad SAW yang walaupun utusan Alllah SWT tetapi tetap shalat.

Singkatnya, mustahil kita mencapai hakikat kedekatan dengan Allah SWT kalau kita meninggalkan syariat..

JEBAKAN KETIGA--

Setelah Muhamamad SAW wafat, siapakah yang dapat mengkonfirmasi kepada kita bahwa :


  • bencana alam yang sekarang kerap terjadi adalah tindakan hukuman yang langsung diberikan oleh Allah SWT ?
  • hal-hal ajaib yang kita alami itu adalah benar-benar dari Allah SWT ?
  • rasa bahwa kita disayangi Allah SWT itu adalah benar-benar karena Allah SWT itu memang benar-benar menyayangi kita ?


Siapa yang bisa memastikannya ? Tidak ada kan ?

Kalau jaman nabi-bagi dahulu ada hukuman dari Allah SWT maka langsung bisa dikonfirmasi karena ada nabi pada saat itu. Misalnya, kasus hukuman banjir kepada umatnya Nabi Luth itu pasti kita percaya adalah hukuman dari Allah SWT. Kenapa ? karena ada nabi Luth yang bisa mengkonfirmasi soal itu.

Nah kalau bencana lumpur, gempa, banjir, bendungan jebol, gunung meletus, sunami dan lain-lain itu siapa yang bisa kita percaya untuk bisa bilang bahwa itu adalah benar-benar hukuman dari Allah SWT ? Apakah dia pernah diberitahu Allah SWT melalui malaikatnya ?

Begitu juga dengan hal-hal ajaib yang kita alami. Apakah itu semuanya LANGSUNG berasal dari Allah SWT ? Apakah kita tidak memahami bahwa manusia itu terdiri dari banyak komponen terasuk komponen supranaturalnya ? Apakah kita tidak faham bahwa ada unsur sugesti yang juga bisa membuat kita mampu melakukan hal-hal yang cukup luar biasa ? Apakah kita tidak tahu bahwa Syaitan dan bahkan Jin juga mampu melakukan hal-hal yang luar biasa dari sudut pandang manusia ?

Dan yang terutama adalah apakah perasaan yang kita miliki sekarang bahwa Allah SWT berkenan pada kita itu memang menggambarkan bahwa Allah SWT itu benar-benar berkenan dengan kita ? Bagaimana caranya kita memastikannya? Kemana kita mau konfirmasikan? Padahal, Allah SWT memang tidak pernah dan tidak akan berbicara langsung dengan kita..

Ketiga contoh diatas itu sering kita temui dimana-mana..

Ada semacam perasaan Ge-Er yang melanda kita sebagai manusia. Ge-Er bahwa kemaren kesenggol mobil itu adalah hukuman Allah SWT. Ge-Er bahwa kemaren bisa sembuh dari sakit kanker karena pertolongan Allah SWT. Ge-Er kemaren malam Allah SWT datang dalam mimpi dengan bentuk seorang tua bijak berpakaian serba putih.

Tentu saja secara logika, ada banyak kasus dimana sebagian darinya mungkin benar-benar berasal langsung dari Allah SWT.

Tapi kata kuncinya adalah jangan tergesa-gesa menyimpulkannya! Kalau tergesa-gesa, maka kita jadi Ge-Er. Padahal belum tentu benar!

Nah untuk menghadapi jebakan ini, Allah SWT membekali kita dengan akal fikiran.. Gunakanlah selalu akal fikiran untuk memahami apapun! Allah SWT menjadikan manusia memang dengan sperangkat alat untuk melakukan analisis.. termasuk didalamnya adalah akal fikiran..
Orang yang dekat dengan Allah SWT yang saya pernah temui adalah orang yang selalu merasa belum dekat dengan Allah SWT dan selalu memenuhi fikiran dan hatinya serta sikap dan perilaku hidupnya dengan Allah SWT agar selalu bisa mencapai tingkat kedekatan yang sedekat-dekatnya dengan Allah SWT.
Closing remark

Kedekatan dengan Allah SWT tidak butuh keajaiban tetapi butuh akal sehat untuk mengkonfirmasi semua yang kita alami itu.

Dan tentunya.. disertai usaha terus menerus yang tiada henti untuk maju mendekati Allah SWT walaupun harus tertatih-tatih..

Salam Kompasiana

Tunggu tulisan saya tentang pengalaman [nyaris] ikutan kelompok tarekat..

bunga kambodja

/bungakambodja

just another anak bangsa yang easy going..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?