Jokowi, Menang Tanpo Ngasorake

02 Desember 2016 18:52:22 Diperbarui: 02 Desember 2016 19:25:50 Dibaca : Komentar : Nilai :

Kalo kita harus menilai, siapa pemenang di Aksi Demo tgl 2 Desember tadi siang? Buat saya jawabannya ada 3. 1. Tidak ada pemenangnya. 2. Dua-duanya jadi pemenang. 3. Itulah kemenangan bangsa Indonesia.

Satu hal yang saya catat di Aksi Demo kali ini adalah kepiawaian Jokowi dalam menghadapi Aksi Demo ini. Otaknya yang cerdas dan pribadinya yang halus telah membuatnya memenangkan pertempuran atas lawan politiknya. Tapi di lain pihak, para pendemo mengira merekalah pemenangnya. Dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan Menang Tanpo Ngasorake atau menang tanpa mengalahkan.

Tentu belum hilang dari ingatan kita, di Aksi Demo tgl 4 November yang lalu, Jokowi dihujat karena dianggap tidak mau menemui rakyatnya yang hendak menyampaikan tuntutan.

Di Aksi Demo kali ini, rasanya Jokowi tidak punya pilihan lain kecuali menemui pendemo. Tapi pilihan itu terlalu besar resikonya. Jokowi tentu saja tidak mau ditekan oleh lawan politiknya.

Jokowi bukan orang bodoh. Bersama dengan teamnya, dia menyusun strategi. Hal pertama yang dilakukannya adalah diplomasi meja makan, yaitu dengan cara menemui para petinggi partai politik. Di sini dia mau memberi pesan pada lawan politiknya, "Lu pasti kalah kalo mau main politik sama gue. Liat nih, hampir semua partai politik mendukung gue."

Hal kedua yang dilakukannya adalah menemui Brimob, Kopassus, Marinir dan Brimob. Di sini Jokowi tentunya hendak memberi pesan pada lawan politiknya, "Lu kalo mau main keras, gue juga siap ngejabanin."

Issue agama juga dipelajari dengan cermat oleh master strategi ini. Dengan cerdas, dia juga menemui para petinggi ormas berbasis agama Islam seperti NU dan Muhammadiah. Di titik ini, Jokowi ingin berpesan pada lawan politiknya dengan mengatakan "Lu mau pake issue agama buat bertarung? Okay! Gue juga siap melayaninya."

Sentimen agama memang sangat berbahaya. Jokowi sangat mengerti hal itu. Orang rela mati untuk membela agamanya. Jadi issue agama ini perlu disiasati dengan menambah sentimen lain yang kira-kira mempunyai fanatisme yang tidak kalah dengan agama. Akhirnya dipilihlah issue NKRI. Slogan “NKRI adalah harga mati” tentunya bisa menjadi mantera yang sangat ampuh.

Kombinasi sentiment agama dan NKRI ini adalah pilihan yang tepat. Indonesia memang negara dengan penduduk beragama islam terbesar di seluruh dunia. Tapi ingat! Indonesia bukanlah negara Islam. Kita adalah negara Pancasila dengan masyarakat yg majemuk.

Dua hari sebelum Aksi Demo tgl 2 Desember, rakyat yang berbasis NKRI pun berdemo di seputaran Monas. Semua memakai ikat kepala merah putih sebagai lambang perjuangan Para Pahlawan 45, termasuk Panglima TNI. Semangat patriotisme dengan basis pemikiran bahwa kami juga rela mati untuk mempertahankan NKRI tentu saja tidak kalah pesona dan wibawanya dengan sentimen agama.

Sang Lawan langsung keder nyalinya. Apalagi ketika mereka mendengar Kapolri dan Panglima TNI berkali-kali mengatakan akan melarang demo karena bisa mengganggu ketenteraman rakyat Jakarta. Pertemuan-pertemuan pun dilakukan untuk mencari kompromi. Di sinilah Jokowi mulai menjalankan bidak caturnya untuk menyerang.

Secara cerdik,  Jokowi meminta supaya sholat Jumat dilakukan di Lapangan Monas. Istilah demo tidak boleh dipakai lagi dan diganti dengan istilah Aksi Doa dan Zikir atau Aksi Super Damai. Demo harus berakhir setelah Jam 1 siang. Sebagai imbalannya, pemerintah akan mendukung aksi itu bahkan menjanjikan untuk menyiapkan segala keperluan sholat, toilet, ambulans dan apapun yang dibutuhkan pendemo.

Dan kesepakatan pun terjadi. Pada hari H, lautan manusia memenuhi Lapangan Monas. Tapi Jokowi tidak gentar. Semua kemungkinan termasuk resiko sekecil apapun sudah diantisipasi. Entah direncanakan atau tidak, para pendemo yang dianggap terlalu vokal dan berpeluang membuat panas suasana, pagi harinya ditangkepin dulu. Misalnya A. Dani, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang pamungkas dll.

Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang terlihat garang di demo tanggal 4 nov, hari ini tidak terlihat batang hidungnya, entah pada ngumpet di mana. Peristiwa penangkapan A. Dani cs dilakukan secara diam-diam., Kecuali Berita Satu, stasiun-stasiun TV yang lain luput atas pemberitaannya sampai sholat jumat selesai.

Ketika azan zuhur berkumandang, Jokowi dengan santai datang untuk ikutan sholat Jumat. Dia ditemani oleh Wapres Jusuf Kalla, Wiranto, Panglima TNI, Menteri Agama dan sejumlah menteri Kabinet Kerja lainnya. Dengan menggunakan payung biru, rombongan Jokowi berjalan kaki menerjang hujan deras menuju tempat sholat.

Dan cerita pun berakhir dengan damai. Jokowi bisa hadir dalam acara Aksi Doa itu tanpa ada kekuatiran ada tekanan. Dia tidak merasa perlu untuk menjawab pertanyaan apapun. Acara tersebut kan Aksi Doa, bukan demo. Kalau sedang berdemo, kita ingin tuntutan kita didengar oleh pemerintah. Tapi Aksi Doa? Masa habis bedoa lalu membacakan tuntutan? Ketauan dong ada agenda politiknya.

Semua orang yang memang tulus berjuang untuk agamanya tentu cukup puas dengan hasil yang dicapai hari ini. Mereka tidak punya agenda politik. Mereka sudah senang Presidennya mau menerima rakyatnya bahkan sholat bareng bersama mereka di Taman Monas. Itu sebabnya saya katakan bahwa acara Aksi Doa ini adalah kemenangan Indonesia.

Tapi lawan politik Jokowi? Pasti kesel dan gigit jari. Saya memperkirakan, esok harinya mereka akan mengadakan rapat paripurna, menyusun strategi untuk kembali menyerang  presiden kita.

Tapi begitulah politik. Sebagai rakyat, mari kita berdoa saja, semoga pertikaian politik itu tidak membawa-bawa issue sara yg mengadu domba rakyat. Jangan sampai rakyat saling serang dan menumpahkan darah sia-sia.

Aamiin.

Budiman Hakim

/budiman_hakim

TERVERIFIKASI

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article