Mohon tunggu...
Budiman Hakim
Budiman Hakim Mohon Tunggu... Administrasi - Begitulah kira-kira

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Anies Baswedan, Presiden RI 2024?

5 Januari 2020   02:37 Diperbarui: 6 Januari 2020   04:07 8097
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Banjir melanda Jakarta. Saya tidak akan membully Anies Baswedan. Tidak! Sudah terlalu banyak orang yang melakukannya. Di tulisan ini saya cuma ingin menyampaikan bahwa Anies itu sebetulnya bukanlah orang jahat. Dia hanyalah orang yang sangat-sangat ambisius.

Sejak dulu, Anies Baswedan sangat ingin menjadi presiden. Sebagai orang yang ambisius, dia mampu melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya itu. Hal ini dapat kita lihat ketika Partai Demokrat membuka audisi untuk menjadi calon presiden. Tanpa sungkan dia langsung melamar. Dan hasilnya? Tentu saja 0 besar.

Partai demokrat pada waktu itu hanya ingin ngetest air. Tidak mungkinlah seorang SBY mau mempercayakan orang di luar Partai Demokrat untuk menjadi calon presiden. Kita semua tau SBY sangat ingin anaknya yang jadi presiden. Atau paling sial orang itu haruslah kader dari partai yang dia yakini sangat loyal padanya.

Gagal dipilih sebagai calon presiden, Anies menyusun strategi baru. Dia beralih haluan dari kubu Jokowi ke kubu Prabowo. Sasarannya untuk menjadi gubernur DKI Jaya. Dia sangat tahu bahwa jabatan Gubernur DKI adalah posisi yang paling strategis untuk melangkah ke kursi presiden. Jokowi telah membuktikan hal itu. Anies ingin mengikuti jejaknya.

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut tanpa malu-malu dia menggunakan strategi menjual agama, menjual ayat dan menjual mayat. Secara marketing, memang cara itulah satu-satunya yang paling ampuh untuk mengalahkan gubernur petahana yang kebetulan beragama Nasrani dan dari suku Chinese. Dan terbukti! Dia berhasil menduduki jabatan itu. Sebuah kemenangan tak bermartabat. Tapi kita harus menerima karena politik memang tak ada hubungannya dengan martabat.

Sekarang ini Anies Baswedan banyak dibully sehubungan dengan banjir besar yang melanda Jakarta. Apakah peristiwa ini akan mengurangi elektabilitasnya sebagai calon presiden nanti? Atau apakah Anies akan jatuh pamor sehingga tak terpilih bahkan sebagai calon presiden? Belum tentu!

Di jaman digital ini tata nilai berubah. Dulu orang merasa harus menjadi tokoh protagonis dan paling takut dianggap sebagai tokoh antagonis. Tapi itu dulu dan tidak berlaku lagi. Yang dipentingkan orang di era digital adalah bagaimana mendapatkan exposure sebanyak-banyaknya. Tidak peduli caranya. Dan menjadi tokoh antagonis adalah cara yang paling gampang dibandingkan menjadi tokoh protagonis. Tidak percaya?

Cara ini sudah dibuktikan oleh Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Rocky Gerung. Ketiga orang ini menjadi public figure bukan karena prestasinya. Mereka menjadi selebriti hanya bermodal membully presidennya sendiri, Jokowi. Dan hasilnya? Mereka diundang ke acara talk show politik di berbagai media elektronik. Bahkan ketiganya menjadi tamu langganan ILC di TVONE. Karni Ilyas mengerti bahwa kehadiran mereka akan mengangkat rating acaranya. Yang satu butuh rating, yang lain butuh exposure. Simbiosis mutualism.

Seorang teman pernah berkomentar, "Gue gak suka, loh, sama ketiga orang itu. Tapi gue harus mengakui bahwa acara ILC gak seru kalo gak ada ketiganya." See? Ternyata efektif, kan?

Sebetulnya cara ini bukan barang baru. Syahrini telah melakukannya sejak lama. Dia sering membuat video-video yang keliatannya memang sengaja dirancang untuk dibully netizen. Believe it or not: Pancingan dimakan umpan. Netizen membully artis ini sampe menjadi viral di mana-mana. Syahrini mendapat exposure yang luar biasa. Itu sebabnya kita lebih banyak mengenal Syahrini dari cerita-cerita sensasinya daripada prestasinya.

Kembali ke masalah Anies. Kita tau sekarang ini begitu banyak orang yang mem-bullynya. Contohnya video di bawah. Memang bisa dipahami kalo banyak orang marah padanya karena banjir yang melanda Jakarta begitu hebat. Tapi perlu dicatat: semakin banyak yang membully artinya dia juga mendapatkan exposure yang luar biasa tinggi. Namun apakah hasil yang dicapainya juga berdampak positif seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung atau Syahrini? Sekali lagi, belum tentu!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun