Budi Baskoro
Budi Baskoro lainnya

lahir di pangkalan bun, kalimantan tengah. tertarik pada banyak hal tentang pengetahuan, politik, kebudayaan, sastra dan olahraga. blog ini, saya dedikasikan, terutama, buat tulisan-tulisan tentang pulau dan kampung halaman saya, tanah kalimantan dan bumi kotawaringin.

Selanjutnya

Tutup

Satgas Karhutla Kotawaringin Barat Siap Berjibaku dengan Api

12 Agustus 2017   19:38 Diperbarui: 12 Agustus 2017   19:55 16 1 0
Satgas Karhutla Kotawaringin Barat Siap Berjibaku dengan Api
Dokumentasi Pribadi

Cuaca tak terlalu terik karena hujan sehari sebelumnya. Namun, kebakaran hutan lahan gambut di seberang Sungai Arut, Jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah, terjadi Kamis (10/8/2017) pagi.

Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pun dibuat kelimpungan memadamkan dua titik api yang tampak cukup besar.

Satgas yang terdiri dari unsur Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan polisi pamong praja harus berenang menyeberang kanal yang cukup dalam untuk mencapai lokasi titik api.

Kali ini mereka terlihat lebih sigap dibanding penanganan karhutla parah pada 2015. Dengan membawa pemadam portabel yang dilengkapi mesin pompa air serta pelampungnya, pemadaman api jadi lebih mudah. Dengan memanfaatkan air dari kanal itu, mesin pompa air mengapung di permukaan air, dan selang-selang besar pemadam tak kehabisan air.

Aksi petugas itu mengejutkan dua terduga pembakar lahan. Mereka yang masih berada di sekitar lokasi tak menyadari petugas terjun dengan kekuatan yang besar. Mereka pun langsung diciduk aparat.

Itulah rangkaian simulasi pemadaman kebakaran hutan yang digelar Pemkab Kotawaringin Barat, masih dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup. Api besar di tepi hutan itu hanya buatan. Begitu juga pembakar lahan hanya menjalankan peran.

Namun, kawasan tersebut sebenarnya menjadi salah satu titik rawan bencana kebakaran lahan. Dua tahun lalu, saat bencana asap parah terjadi akibat karhutla, api merambah hampir di sekitar tiga lokasi simulasi itu. Saat itu petugas sangat kesulitan melakukan pemadaman karena minimnya kemampuan fasilitas menjangkau lokasi yang sulit itu.

Tahun ini, seiring musim kemarau tak seperti pada 2015, ancaman karhutla relatif kecil. Namun, itu tak berarti tidak ada titik panas (hotspot) yang berpotensi menjadi penyebab kebakaran luas. Petugas pun harus tetap berjibaku dengan api dalam pelatihan dan simulasi.

Anggota DPR-RI dari Komisi IV yang membidangi urusan pertanian dan kehutanan, Hamdhani, yang hadir di simulasi itu menuturkan, titik panas terpantau di beberapa lokasi di Kabupaten Seruyan, seratus kilometer dari Pangkalan Bun dua hari lalu.

Karena itu, kata dia pemerintah tetap memberi perhatian serius untuk mencegah karhutla utamanya di lahan gambut. Ia menuturkan, melalui pos anggaran di Badan Restorasi Gambut (BRG), Komisi IV telah menyetujui anggaran untuk pencegahan karhutla.

"Di BRG hampir Rp800 miliar. Tetapi ada pengurangan, sekitar Rp600 miliar-lah sekarang," jelasnya pada Kompas.com, Kamis (10/8/2017) pagi.

Menurutnya, Kalimantan Tengah masih tergolong tujuh daerah rawan karhutla, sebagaimana juga di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Ia menambahkan, tanpa banyak kejadian kebakaran, kini masyarakat di sekitar lokasi eks karhutla dituntut keterlibatannya dalam pencegahan karhutla, selain adanya bantuan fasilitas untuk Satgas Karhutla.

"Seperti daerah-daerah gambut yang dulu sudah diperbaiki. Dibuatkan agenda baru, seperti melibatkan masyarakat untuk memperbaiki lahan tersebut. BRG, KLHK membantu pemberdayaan masyarakat. Itu sudah dilakukan," kata dia.

Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah, pun mengungkapkan tak ingin daerahnya menjadi korban bencana asap seperti dua tahun lalu, yang nyaris melumpuhkan aktivitas perhubungan antar kota dan pulau. "Semua harus bersinergi mencegah karhutla," tegas dia.