Televisi LED

20 Oktober 2016 05:56:49 Diperbarui: 20 Oktober 2016 07:16:11 Dibaca : Komentar : Nilai :
Televisi LED
Televisi crt yang masih menggunakan tabung.(dok.pribadi)

Ketika televisi crt migrasi ke led jedanya cukup lama sekitar 10 tahun. Selama puluhan tahun akrab dengan televisi yang menggunakan playback, tabung yang memakan banyak watt saat start dan mengubah tegangan 220v menjadi 11kv begitu akrab dengan kebanyakan tehnisi. Kerusakannya berkisar pada kematian ic regulator yang memberi tegangan pada playback. Gejalanya adalah lampu stand by menyala merah tak kunjung menjadi hijau walau remote telah ditekan sampai lebay.

Selain ic regulator yang kerap nyahok televisi crt juga kerap membobol ic horozontal yang bertugas membuka layar. Gejalanya televisi hanya memunculkan garis horizontal istilahnya layar tergulung. Suara normal, lampu stanbay berubah jadi hijau, tetapi suara serak. Mengganti ic seharga limaribu perak itu sudah cukup untuk membuat televisi segar kembali. Setelah agak bosan dengan televisi tabung karena boros listrik muncullah televisi plasma, tehnologinya sama, pemancar masih analog tapi tabung crt dibuat agak pipih sehingga ketebalan crt bisa dikurangi. Tapi masih menggunakan tabung hanya saja lebih gepeng dan ukuran terbesa tak sampai 50 inchi.

Kemudian di tahun 2000an muncul televisi lcd. Liquid Cristal Dioda, data gambar dimasukkan lewat ribuan kaki di sisi kanan layar, akan berubah jadi gambar setelah ditembak sinar neon di bagian atas. Untuk memendarkan cahaya digunakan zat merkuri yang menyebar di lapisan ketiga layar lcd ini. Ciri khasnya adalah dia hanya bisa ditonton dari depan tepat, kekiri akan merubah warna merah jadi biru sedang ke kanan semua warna kuning akan jadi hitam.

Kerusakan biasanya karena neon yang memendar mercuri melemah sehingga gambar kerap kali buram seperti suasana senja. Sampai sekarang televisi lcd masih dibuat tapi disarankan untuk menghentikan karena layarnya berisi menggunakan mercury yang sangat merusak kesehatan bukan saja penonton dan tehnisinya tapi juga bila dibuang ke halaman belakang dia akan menyebabkan cacing terkena gejala minamata.

Lalu terakhir keluarlah televisi LED, light emiting dioda. Layarnya tidak lagi memanfaatkan data dari bagian kiri atau kanan dan ditembat sinar neon bagian atas yang menyebabkan  mercury di lapisan tengah mengeluarkan gambar. Layar  led beriri jutaan lampu led yang bisa merubah jutaan warna berdasarkan data yang dia dapatkan dari tuner televisi. Layar berkembang menjadi luar biasa, bisa sampai 80 inchi, tergantung dari kemampuan untuk mencetak lampu led. Tidak lagi mesti ditonton dari depan tapi dari berbagai sudut tanpa ada perubahan warna yang berarti.

Namun led inipun walau sudah mendukung HDMI dan beberapa ada yang bisa disuntikkan program android tapi masih menerima pemancar analog. Artinya dia masih boros bandwith. Walaupun beberapa perusahaan raksasa Korea bisa menghasilkan layar led cekung yang mampu menampilkan gambar 3D seakan monyet melompat diatas kepala kita, tetap saja pemancarnya masih bergabung dengan pemancar jadul yang frekwensinya beberapa giga hertz, padahal di banyak negara pemancar digital sudah merupakan keharusan.

Televisi dengan teknologi led dengan kemampuan menangkap pemancar digital merupakan yang paling dinanti sampai menjelang tahun 2017 ini. Dengan layar besar dan pancaran digital kita bisa memutar ulang gosip artist tanpa perlu menunggu pemancar utama melakukannya. Mirip seperti teknologi multi tasking yang sudah akrab bagi para pengguna desktop sejak 25 tahun tepatnya ketika Windows95 diperkenalkan oleh Microsoft.

Cikal bakal televisi led dengan kemampuan menangkap siaran digital juga pasti akan membuat televisi lcd, crd dan led analog akan terjun bebas harganya. Saat ini harga lcd 29 inchi hanya 1 jutaan. Sedangkan led 40 inchi bisa didapat dengan sekitar harga 2 jutaan. Keluarnya led digital akan menjungkir balikkan harga televisi. Bahkan televisi crt sudah tak dibuat lagi oleh pabrik arus utama kecuali perakit lokal yang memanfaatkan tabung monitor crt komputer desktop.

Wayan Budiartha

/budiartha

TERVERIFIKASI

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article