PILIHAN HEADLINE

Nyoman Wija, Memancing Kakap dengan Dodol

18 Juni 2017 21:13:58 Diperbarui: 19 Juni 2017 14:36:36 Dibaca : 490 Komentar : 1 Nilai : 4 Durasi Baca :
Nyoman Wija, Memancing Kakap dengan Dodol
Nyoman Wija, pemancing handal dari Pulau Serangan memancing kakap dengan umpan dodol.(Dokumen Pribadi)

Memancing barangkali bagi sebagian orang dianggap hanya membuang waktu, kesenggangan yang modalnya ecek-ecek kurang bergengsi karena mesti berbasah air dan berjemur matahari. Tapi bagi Nyoman Wija, 67 tahun, memancing seperti tarikan nafas bagi kehidupan. Tanpa memancing dapur keluarganya tak akan mengebul. Karena sejak dulu kala tetangga kerabat dan handai talulannya di Pulau Serangan, Bali, sebagian besar adalah pemancing handal. Lebih tepatnya lagi sebagai nelayan yang mumpuni. Karena ikan tongkol dan lemuru yang ada di pasar Denpasar dan Sanur berasal dari Serangan.

“Kakek saya nelayan, ayah saya juga, sekarang saya anak saya dan cucu saya juga hidup dari kemurahan laut,” tutur Wija sumringah. Dia baru saja naik dari tempat dia memarkir dua buah jukung miliknya. Setelah hampir 5 jam melaut dia mendapatkan ikan kerapu sekitar 5 Kg. Bila sekilonya laku dijual Rp 40.000 maka pagi itu penghasilannya tak kurang dari Rp 200.000.

Dan itu baru hasil di pagi hari, ketika Pulau Serangan airnya masih surut dan matahari belum tinggi. Hasil tangkapan berupa kerapu jadi primadona di berbagai tempat makan yang menyediakan bakar-bakaran hidangan lauk.

Lebih siang lagi Wija bergegas lagi turun ke laut, tapi kali ini tidak memancing tapi jadi pemandu para penghobi mancing yang banyak berdatangan ke Pulau Serangan.

“Tengah hari saya turun ke laut mengantar orang yang menyewa jukung saya untuk memancing ke sekitar pantai Sanur, jaraknya 5 Km di timur Serangan,” tuturnya. Bila memandu pancing dengan penghobi, dia tak membawa jukung yang hanya dikayuh dengan kayu sederhana tapi menggunakan mesin tempel.

Sewanya sekitar Rp 300.000 untuk setengah hari, atau istilah Wija sampai ikan bosan memangsa pancing. Dia bukan pemandu amatiran, yang hanya mengantar penghobi mancing demi mendapatkan uang sewa. Wija merasa harus memberi balasan setimpal dengan uang yang dikeluarkan oleh para penghobi yang menggunakan jasanya. Bila di pagi hari dia memancing kerapu untuk mengebulkan asap dapur sendiri siang hari ikan buruan para penghobi mancing adalah kakap.

“Saya juga menyediakan umpan yang paling digemari ikan kakap yakni dodol,” ungkapnya serius. Dodol yang dia gunakan adalah dodol buatan tangan yang biasa ditemukan di pasar tradisional, bahan bakunya tepung ketan dicampur santan dan gula aren. Dodol berwarna hitam itu diolah lagi, yakni dibuka bungkus plastiknya dan dibuat bulatan sebesar jempol kaki orang dewasa.

“Umpan untuk kerapu biasanya udang dan cacing sedangkan siang harinya saya gunakan dodol untuk memaksa kakap keluar dari sarangnya,” tuturnya.

Umpan dodol memang tidak lazim bagi kebanyakan pemancing. Kebanyakan yang digunakan untuk umpan memancing di laut adalah kulian, udang hidup, cacing atau lumut, tapi sejak 10 tahun lalu Wija menggunakan dodol untuk memancing kakap.

Selain menggunakan dodol, Wija juga memancing seperti melakukan ritual sakral. Mulai naik ke jukung menghidupkan mesin, melewati sawangan sampai sail spot, dia seperti larut dalam dunianya sendiri. Tak boleh ada yang mengganggu, begitu seratus meter meninggalkan pangkalan jukungnya di Serangan, dia mesti belok kiri 45 derajat. Setelah melihat 5 gugusan karang di bagian timur pantai Sanur, barulah dia seperti sadar lingkungan dan itulah sasaran yang dituju.

“Selain hafal dengan spot terbaik untuk memancing kakap, ada banyak lagi pakem yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, misalnya 200 meter sebelum sampai di tujuan mesin harus dimatikan,” ungkapnya. Ikan termasuk yang amat sensitif terhadap getaran air laut. Kelemahan inilah yang digunakan oleh pengebom ikan untuk mendapatkan ikan dengan cara yang menurut Wija tak berperikeikanan. 

Selain tempat yang strategis, alam juga ikut mempengaruhi hasil tangkapan, terutama kakap. Pemancing seperti Wija harus paham juga dengan deras arus air laut saat itu, arah angin, ketinggian matahari. Karena ikan baru mau muncul kepermukaan dari persembunyiannya bila sekitar 7 instrumen kebutuhannya terpenuhi.

“Matahari tepat di atas ubun-ubun adalah saat yang tepat untuk memancing, karena di dalam air saat itu suasananya malahan temaram, berbeda dengan saat matahari condong ke barat atau ke timur,” ungkapnya. Kakap adalah jenis ikan predator, dia memiliki teritori yang sudah ditentukan dengan penjagaan ketat. Tengah hari adalah saat yang paling tepat bagi kakap untuk mengawasi wilayahnya. Bila saat itu berbarengan juga dengan turun hujan maka kemungkinan untuk mendapatkan kakap akan lebih besar.

“Saat hujan turun, maka suhu air akan turun, kakap senang dengan air yang temaram dan sejuk, juga rintik hujan menyebabkan pula kandungan oksigen di permukaan meningkat, yang menyebabkan kakap seperti menemukan surga,” tambahnya.

Dengan kondisi seperti itu ditambah umpan dodol temuannya, maka bisa dipastikan, siapapun yang menyewa jukungnya akan membawa berkilo-kilo ikan kakap. Kakap termasuk ikan yang memilih umpan, cacing dan udang mungkin membosankan, karena begitu banyak pemancing menggunakan umpan serupa.

“Dodol barangkali selain aroma dan rasanya gurih juga mirip seperti bawal dan tongkol sama sama bulat yang adalah musuh bebuyutannya,” tutur dia berkelakar. Dengan mengantar penghobi mancing ke spot yang benar, berbekal umpan dodol yang fenomenal walau janggal, Wija berhasil menjadi pemandu pancing idola di Serangan. Banyak yang berebutan menggunakan jasanya untuk mendapatkan sensasi menangkap kakap dengan umpan dodol.

Wayan Budiartha

/budiartha

TERVERIFIKASI

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana