Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan highlight

Stroke Tiga Pasal

13 September 2017   01:29 Diperbarui: 13 September 2017   02:02 336 1 0
Stroke Tiga Pasal
Nyoman Jebles, melakukan ritual sebelum mengambil air laut di pantai Saba Gianyar. Air laut itu kemudian dicampurkan dengan air kelapa tiga warna dan disiratkan di halaman rumah.(Dokumen Pribadi)

Stroke menjadi penyakit paling mematikan nomor satu setelah AIDS, kolera, malaria. Karena penyebab utamanya adalah terjadinya kegagalan jantung untuk mengatur organ tubuh tertentu akibat penyumbatan darah ke otak. Yang paling umum terjadi adalah penderita menjadi lumpuh, kehilangan memori, dan yang paling ditakuti adalah kematian mendadak.

Praktisi kesehatan, mulai dokter umum sampai spesialis mengkatagorikannya dengan dua pasal saja, kebanyakan pikiran, dan kelebihan berat badan akibat kebanyakan makan. Solusi yang ditawarkan kurangi keruwetan pikiran, turunkan berat badan. Tapi di Bali dua pasal pemicu stroke ditambah lagi menjadi tiga pasal.

"Yang ruwet pikiran bisa diatasi dengan melakukan konsultasi ke psikiater, yang kelebihan berat badan bisa ke ahli nutrisi," tutur Nyoman Jebles, 64 tahun penyembuh stroke dari desa Mas Gianyar Bali. Pasal tambahan yang menurut Jebles kerap menerpa penderita stroke di Bali adalah karena kiriman angin.

"Istri saya contohnya, dia selama 3 tahun piawai mengobati aneka penyakit, tidak banyak pikiran tidak gemuk tapi terserang stroke juga," ungkap ayah 3 anak ini.

Selama menjadi dukun menolong orang,  istrinya mengandalkan kemampuan berhubungan dengan alam metafisika.

"Penyakit yang ditanganinya mulai dari tak bisa punya anak sampai gila menahun," ungkap Jebles. Namun suatu sore sekitar 3 bulan lampau, ketika pulang kerja dia mendapati istrinya terkulai lemas di pojok tempatnya biasa menerima pasien.

"Saat saya tanya suaranya pelo, dan tangannya sulit digerakkan, dia yang biasanya mengobati orang sakit malahan jadi sakit sendiri," tutur Jebles. Dengan secepat kilat dia bawa istrinya ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Semua diperiksa termasuk tekanan darah, gula darah sampai aliran darah ke otak.

"Dokter tak mendapati gejala yang menjadi pemicu istri saya terkena stroke, maka saya kembali mengajaknya pulang dan meminta kepada yang diatas agar menunjukkan penyebab penyakitnya," tutur Jebles lagi.

Dari situlah kemudian disimpulkan bahwa penyebab dia lunglai karena serangan angin, dikirim oleh orang yang benci padanya.

"Saya disarankan untuk membersihkan pekarangan dengan menggunakan tiga macam air kelapa, juga air laut yang diambil di pantai Saba," tambahnya.

Setelah semua dilaksanakan sekarang istrinya berangsur membaik, bisa duduk tapi masih menggunakan tongkat untuk ke dapur atau ke kamar mandi.

Seminggu sekali, pagi buta dia sudah berangkat dari kediamannya di Mas Gianyar ke pantai Saba. Jaraknya tak kurang 8 km arah selatan. Di pantai yang ombaknya garang itu, dia akan melakukan ritual menghaturkan canang sari disertai dupa. Kemudian dengan cibur yang dibawanya dari rumah dia menyerok air laut pantai Saba dan disimpan dalam jerigen warna putih.

Sesampai dikediamannya, si istri diguyur kepalanya dengan air kelapa tiga warna, sisanya dicampurkan dalam air laut pantai Saba.

"Air itulah yang saya siratkan ke penjuru angin di sekitar rumah, ini bertujuan untuk mengusir angin  yang dikirimkan oleh orang yang benci pada istri saya," tuturnya.

Pasal ketiga karena angin sebagai pemicu serangan stroke juga dibenarkan oleh Pak Wis, 63 tahun, dukun khusus stroke yang tinggal di desa Bebalang Tabanan Bali. Dia telah lebih dari  10 tahun menjadi penyembuh aneka macam penyakit termasuk terutama stroke.

"Ada bahkan pasien yang sedang dirawat di rumah sakit yang saya tangani karena sumber strokenya tidak terdeteksi," tutur ayah 2 putra ini.

Sama seperti Jebles yang memanfaatkan air laut, dia juga memanfaatkan air tapi yang didapat di sumber air di sungai dekat rumahnya. Bukan untuk diminum atau dijadikan lulur, tapi dicipratkan di jalan masuk menuju rumah penderita.

Penyakit stroke biasanya memang membutuhkan proses kesembuhan yang lama, karena darah yang menggumpal perlu proses untuk mencairkannya. Yang biasa terjadi adalah, selama proses pengobatan medis,  keluarga penderita tidak betah berlama lama menunggu kesembuhan. Mereka memanfaatkan kemampuan praktisi spiritual seperti Pak Wis dan Nyoman Jebles untuk mempercepat proses penyembuhan.

Padahal bisa jadi selama proses pengobatan oleh dukun berlangsung, obat yang diberikan dokter tetap berjalan. Mulai dari mengencerkan darah, menormalkan detak jantung. Sehingga ketika mereka pada akhirnya sembuh dan bisa bergerak dari kelumpuhan dianggaplah bagian dari proses ritual yang dilakukan. Perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang penanganan stroke kepada kalayak. Dan yang paling penting, jauhkan pikiran dari keruweta, jaga berat badan dengan olahraga. Masalah angin yang dikirim orang yang iri, barangkali merupakan bagian dari bunga bunga proses kesembuhan penderita stroke itu sendiri.