budi prakoso
budi prakoso

seorang yang gemar berolahraga

Selanjutnya

Tutup

Kita Semua di 'Rumah' Bernama Indonesia

9 Agustus 2017   17:40 Diperbarui: 9 Agustus 2017   18:00 98 1 1
Kita Semua di 'Rumah' Bernama Indonesia
Indonesia Satu - http://nasional.kompas.com

72 tahun yang lalu, negeri ini mendapatkan puncak dari perjuangan selama ratusan tahun. 72 tahun yang lalu, Indonesia berhasil mendapatkan kemerdekaannya, setelah ratusan tahun hidup dalam penjajahan. Perjuangan yang tidak singkat itu, tentu harus diberikan apresiasi. Perjuangan para pahlawan yang telah gugur merebut kemerdekaan, harus mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya.

Setelah berhasil membebaskan diri dari penjajahan asing, masyarakat tidak sepenuhnya bisa menikmati kemerdekaan. Era orde baru telah membuat masyarakat terkukung. Nuansa otoritas dan tidak demokratis, membuat sebagian elemen masyarakat Indonesia turun ke jalan. 1998, orde baru tumbang dan berganti dengan era reformasi. Semuanya itu terjadi karena kita ingin nyaman di 'rumah' sendiri yang bernama Indonesia ini.

Perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan terus terjadi. Meski sudah bebas dari penjajahan fisik, dan masuk era demokrasi, ternyata sebagian pihak masih belum juga mendapatkan kemerdekaan. Kelompok minoritas masih belum bisa bebas memeluk dan melakukan ibadah berdasarkan keyakinannya. Sebagian pihak juga masih merasa dirinya paling benar, dan mengklaim berjuang di jalan Tuhan. Pihak yang salah selalu dianggap sebagai pihak yang berseberangan. Akibatnya, meski dalam negara yang sama, kita saling berseteru. Meski dalam 'rumah' yang sama, kita tidak bisa akur.

Apa jadinya, jika sesama saudara dalam satu rumah selalu terlibat konflik. Dan apa jadinya, hubungan antara orang tua dan anak tidak pernah harmonis, meski hidup dalam satu atap. Seorang istri dan suami juga pasti tidak akan selalu satu suara. Namun jika keduanya terus berkonflik meski dalam satu rumah, tentu akan membuat kondisi rumah tangga tidak kondusif. Pada titik inilah perlu yang namanya pengertian, rasa saling menghormati dan toleran antar sesama.

Ibarat rumah, harus ada kesadaran bersama diantara para penghuni rumah. Jika ada debu dilantai, maka harus ada kesadaran untuk membersihkannya. Jika warnanya sudah kusam, maka harus ada kesadaran untuk kembali membuatnya kembali cerah. Begitu juga dengan Indonesia. Jika masih ada perbedaan, maka harus dicarikan titik tengah, agar muncul pengertian dan kepedulian. Jika ada perselisihan, juga harus diselesaikan dengan cara musyawarah, agar tidak ada perseteruan.

Harus dibiasakan menghadapi persoalan dengan terbuka. Jangan merasa benar sendiri, dan jangan memposisikan pihak yang dianggap salah sebagai pihak yang berseberangan. Jangan juga saling menebar kebencian, hanya karena perbedaan pandangan. Karena kebencian bisa memicu terjadinya perpecahan diantara para penghuni rumah. Kebencian juga bisa memicu munculnya amarah secara massal di level masyarakat.

Mari kita membangun perdamaian diantara para penghuni rumah. Mari mempererat tali persaudaraan, diantara para penghuni rumah. Mari kita jaga bhineka tunggal ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Mari pertahankan keberagaman dan warna warni Indonesia. Karena banyak warna itu akan membuat kita semakin kaya. Dan ingat, keberagaman yang ada di Indonesia ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tekad untuk bersatu dalam 'rumah' yang sama, harus terus disuarakan. Jangan biarkan radikalisme, intoleransi dan perbuatan negatif lainnya merusak keberagaman yang telah ada. Karena kita di 'rumah' yang sama, sudah semestinya kita bersaudara, saling mengingatkan, saling mencintai, dan saling tolong menolong antar sesama.