HEADLINE HIGHLIGHT

Selera Proklamator di Istana Bogor

16 Desember 2012 00:31:22 Dibaca :

Lukisan, patung, dan beragam benda seni bertebaran di sini. Hampir semuanya bertemakan perempuan cantik lagi seksi.

"Sekitar sembilan puluh persen koleksi yang ada di tempat ini adalah milik Bung Karno," tutur Muhamad Indra sang pemandu Istana Bogor mengawali perjumpaan. Saya dan tujuh teman lainnya dari Komunitas Sahabat Budaya yang Sabtu itu (8/12) mengikuti acara Jelajah Istana sontak mengangguk-anggukkan kepala. Kami seperti dibuat maklum menyaksikan ratusan bahkan ribuan koleksi yang didominasi objek perempuan. Bukan rahasia lagi kalau Presiden pertama yang mengantar bangsa ini ke alam Kemerdekaan memang terkenal flamboyan dan pengagum keelokan wanita. Kami memasuki sayap barat alias bagian kiri bangunan Istana Bogor. Tampak di tengahnya berjajar kursi dengan aneka lukisan yang tergantung di tiap jengkal dinding. Satu sosok seperti tak asing bagiku, mengingatkan saya pada profil yang terpajang di beberapa baliho sudut Kota Bangkok. Ya, itu lukisan muda Ratu Sirikit Permaisuri Raja Thailand. Di ujung sana, berdiri lima bendera sebagai penanda kalau di tahun 1954 delegasi panca negara pernah bertemu di tempat ini untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika. Di samping bangunan utama sayap kiri terdapat ruang tidur tamu-tamu negara setingkat menteri. Layaknya suite room hotel kelas atas, kamarnya dirancang sangat lapang dengan lantai marmer mewah. Agaknya tak butuh pendingin udara di sini karena atap ruangan begitu menjulang ditambah suasana kota hujan yang tentu tak segerah ibukota.

Barangkali jika kita berlari ke dua setengah abad silam, pastilah Istana ini tak segagah sekarang. Bermula dari inisiatif Gubernur Jenderal Van Imhoff untuk membangun pesanggrahan di daerah Bogor yang masih sepi dan sejuk, lahirlah peristirahatan bernama Buitenzorg di tahun 1745. Lambat laun tempat ini kian molek. Daendels mempercantik dengan memboyong enam pasang rusa totol dari perbatasan India - Nepal untuk menghuni padang rumput sekelilingnya. Lalu beberapa tahun berselang lingkungan sekitar pesanggrahan juga dibangun kebun raya yang menjadikannya semakin teduh. Namun walau berjuluk Buitenzorg yang bermakna bebas masalah, ternyata tak membuat tempat ini betul-betul lepas dari bencana. Istana ini sempat luluh lantak oleh perang dan gempa bumi sebelum akhirnya dibangun ulang dengan desain ala Eropa klasik semasa pemerintahan Van Twist. Sayangnya kehadiran penjajah Jepang membuat kondisi istana menjadi tak terawat. Kekayaannya dikuras habis dan bangunannya dijadikan markas militer. Ironisnya, populasi rusa ikutan melorot lantaran tiap hari menjadi santapan para serdadu bermata sipit. Angin segar mulai berembus saat Republik mendapat pengakuan kemerdekaan. Pemerintah langsung mengambil alih dan menjadikannya sebagai Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Sesudahnya, tempat ini tercatat menjadi arena beragam pertemuan Internasional, seperti Konferensi Lima Negara, Jakarta Informal Meeting untuk konflik Kamboja tahun 1988, dan juga Pertemuan Pemimpin APEC tahun 1994.

Seorang gadis tampak menyambut kami di depan pintu yang menuju bangunan tengah Istana. Tubuhnya meliuk gemulai seolah menari. Konon gerakan ini semacam ritual meminta hujan. Dan perempuan yang aslinya tak berbaju ini hanyalah sesosok patung persembahan dari seorang pemimpin negeri di Eropa Timur.

Kami lantas memasuki ruang film yang cukup lega luasnya. Beberapa lukisan Basuki Abdullah tergantung di kanvas sepanjang dinding. Selintas mata saya dibikin terpesona oleh hasil sapuan kuas sang maestro bergambar Jaka Tarub dan para bidadari yang sedang mandi. Namun sesuatu mengganjal dalam benak, mengapa jumlah sang dewi hanya enam? Bukankah dalam legenda seharusnya ada tujuh? "Itu karena salah satunya sudah diambil Pak Karno," cetus Abang Ahmad Sang Ketua Komunitas Sahabat Budaya yang membuatku terpana. "Namanya Dewi Soekarno..." lanjutnya sambil tertawa. Sejenak aku terdiam sebelum akhirnya ikut terbahak menyadari bahwa itu adalah salah satu isteri Sang Proklamator yang berasal dari negeri matahari terbit. Saya melongok sebentar ke sisi kanan ruang film yang menjadi kamar kerja Presiden dan perpustakaan. Selanjutnya saya bergerak menuju Ruang Teratai di tengah istana yang menjadi tempat menerima tamu-tamu negara. Enam foto Presiden Indonesia terbingkai lengkap di sini, dari era Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Lantas saya menyusuri koridor yang di temboknya terpaku dua pengilon raksasa berjuluk cermin seribu. Tak jauh dari situ sebuah ruang yang tak kalah luas terbentang di depanku dengan burung lambang negara menggantung di ujung sana. Inilah Ruang Garuda. Menelusuri detil Istana Bogor tak ubahnya memasuki galeri seni. Ratusan lukisan, patung, dan keramik menjadi penghias setiap sudutnya. Semestinya kita berterima kasih pada Soekarno yang menghibahkan koleksi terbaiknya demi mempercantik tempat ini. Presiden pertama itu bahkan tak segan-segan mendatangkan seniman-seniman kelas atas demi menuangkan imajinasi seninya. Apalagi jika itu terkait dengan keindahan ragawi dan kecantikan kaum hawa. Tengoklah di satu sudut taman di sisi timur. Seorang wanita muda terlihat berpose menantang dengan menampilkan lekuk kewanitaannya yang merangsang. Dialah patung Si Denok karya seniman Trubus yang diinspirasikan dari seorang isteri pegawai istana bernama Ibu Ara.

Barangkali buat Sang Proklamator mengagumi kemolekan tubuh wanita sama mulianya dengan berjuang membela bangsa dan tanah air. Tak heran jika sosok Soekarno banyak dicintai perempuan dari pelosok negeri. Tiba-tiba Abang Ahmad yang memiliki nama asli Muhammad Sartono menarik tanganku sembari berbisik. "Ayo, saya tunjukkan koleksi spesialnya Bung Karno."

Saya jadi penasaran, sejenak menghampiri ruangan yang terkunci rapat. Kucoba mengintip dari jendela dan pintu kaca yang tak bertirai. Mendadak pemandangan di depan mata membuat dadaku berdesir. Beberapa kali saya dibuat menelan ludah. Ruang ini memang tertutup untuk umum. Namun kabarnya koleksi-koleksi tersebut sempat dipamerkan semasa Presiden B.J. Habibie. Bahkan menurut Muhamad Indra, presiden ketiga itu sangat bersemangat mengomentari, "Saya sungguh bersyukur memiliki mata untuk bisa menikmati keindahan ini..." Ucapan Habibie begitu saja kuamini. Tak henti-henti saya mengagumi selera Soekarno. Apalagi setelah mengintip koleksi tersembunyinya berupa sosok perempuan-perempuan rupawan yang terlukis tanpa ditutupi sehelai benang pun!

Budhi Kusuma Wardhana

/budhi_kw

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pekerja kantoran yang suka baca, penikmat sastra dan teater, menggemari fotografi, mencintai traveling demi sebuah reportase. Baginya menulis adalah bentuk aktualisasi diri, seperti kata Filsuf Perancis Rene Descartes, Cogito Ergo Sum, yang kemudian diplesetkan menjadi, "Aku Nulis, Maka Aku Ada!". Bisa ditemui di Facebook : budhi.wardhana, Twitter : @budhiwardhana, dan email : budhi.wardhana@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?