HIGHLIGHT

Obrolan Dengan Wakil Ketua Komdis PSSI

10 April 2012 20:17:09 Dibaca :
Obrolan Dengan Wakil Ketua Komdis PSSI
@bubup_prameshWR

Beberapa waktu yang lalu Komisi Disiplin PSSI mengeluarkan beberapa hukuman terkait sejumlah pelanggaran dalam kompetisi. Bagiku, peran Komisi Disiplin adalah peran yang sangat vital, karena komite inilah yang menjadi tolak ukur dari sebuah sistem yang fair-play.

Disini kami P.S.K (Pengamat Sepakbola Koplaksiana) akan mencoba menyoroti sisi lain, tapi masih dengan tema yang sama, yakni mengenai Komisi Disiplin PSSI. Memang tak dapat dipungkiri, peran Komisi Disiplin saat ini belum memuaskan banyak pihak (yaiyalah, kalo cari kepuasan mending ke tempat lain aja, ancol misalnya). Namun tentu saja kita harapkan Komisi Disiplin mampu mengemban kepercayaan dari masyarakat pecinta bola, jangan sampai terulang episode “KOMDIS SAMSAT” (komisi duit segepok, sistem ampunan satu atap) seperti pada era sebelumnya.

Pada 25 Maret lalu, kebetulan kami diajak beberapa rekan Pasoepati untuk menghadiri undangan perayaan ultah ke-11 Panser Biru (suporter PSIS Semarang) yang diadakan selama dua hari dengan diskusi interaktif, sarasehan, potong tumpeng, dll. Untuk acara kali ini juga mengundang pak Catur Agus Saptono (CAS), wakil ketua Komisi Disiplin PSSI sebagai narasumber.

1334087714135562242
Satu buku dulu buat pak Catur Agus Saptono

Baik dalam acara resmi maupun santai, semua peserta yang notabene merupakan pendukung PSSI dibawah kepemimpinan pak Djohar Arifin, ternyata semua hampir sama dalam menyikapi Komisi Disiplin. Berbagai kritik banyak sekali dilontarkan rekan-rekan dalam menyikapi kondisi sepakbola secara umum, dan komdis secara khususnya. Tentu saja hal ini membuktikan bahwa memang para suporter ini berperan untuk mengawal revolusi, bukan hanya fanatisme buta maupun fanatisme semu yang labil dalam hal dukung-mendukung. Pak CAS pun menjawab satu per satu beragam kritikan dengan beberapa kondisi faktual yang terjadi.

Meski secara umum dapat dikatakan bahwa sepakbola kita harus masih banyak belajar agar bisa menjadi profesional sesuai standart internasional, disini kami akan beberkan beberapa kendala sekaligus standart semestinya yang harus dipersiapkan dalam dalam lingkup kerja Komisi Disiplin. Yang akan kami sampaikan ini pula, sekaligus diharapkan menjadikan sebuah SOSIALISASI MENGENAI KOMISI DISIPLIN agar dapat memberi pencerahan kepada masyarakat pada umumnya, dan suporter pada khusunya. Ada beberapa poin yang bisa kami rangkum dalam obrolan santai bersama pak CAS, diantaranya adalah :

1. 1. Batas waktu pelaporan

Ketika saya pribadi mengkritisi mengenai kejadian pelanggaran disiplin yang mungkin ada beberapa yang terkesan tak terpantau, maka hal utama yang saya ingin memperoleh informasi langsung dari Komdis adalh mengenai waktu. Tentu saja waktu adalah hal vital, karena bila memang terjadi sebuah pelanggaran disiplin, maka waktu pelaporan harus diperhatikan. Ketika saya tanyakan mengenai batas waktu lapor (kalo ke RT/RW kan 1x24 jam) yang diperbolehkan, ternyata tidak ada batasan spesifik mengenai hal ini. Kejadian satu tahun pun bisa diperkarakan ke Komdis bila memang disertai bukti-bukti yang akurat.

2. 2. Pemain yang tidak sah

Apa saja perkara yang menjadi domain dari Komdis PSSI ini? Diantaranya adalah mengenai tindakan yang dilakukan oleh para pemain, baik itu saat di kompetisi maupun di timnas. Bisa pelanggaran teknis seperti saat di lapangan (bertindak tak sportif), maupun perkara non-teknis di luar lapangan (misalnya mangkir dari latihan timnas). Hal yang paling aktual saat ini adalah, saat laga lanjutan Piala Indonesia mempertemukan antara PSIS Semarang melawan Bontang FC, ternyata Bontang FC diindikasikan menggunakan 4 pemain asing dalam starting line up, entah disengaja atau tidak. Panser Biru pun kini masih mempelajari pasal-pasal yang mengatur tentang penggunaan pemain, sebelum akan melaporkan ke Komdis PSSI (ayoooo buat Panser dan Bontang Mania, selesaikan secara legal, tapi tetap jaga perdamaian, hehee).

Selain kasus aktual diatas, tak hanya kuota pemain asing saja, namun Komdis juga dapat menerima pelaporan mengenai pemain yang tidak sah yang dimainkan dalam pertandingan. Contohnya adalah: pemain yang sudah mendapatkan akumulasi kartu, pemain yang tidak sesuai (kali aja ada), maupun mengenai perijinan pemain asing yang belum keluar namun sudah dimainkan oleh klub yang bersangkutan.

3. 3. Bukti otentik (kamera)

Hal yang paling banyak dihadapi oleh klub di Inbdonesia adalah mengenai ketidak-tersediaan rekaman pertandingan. Pihak Panpel  Pertandingan pun jarang yang memang menyiapkan kamera khusu sebagai dokumen pertandingan (atau malah semua klub di Indonesia?). Hasil rekaman pertandingan biasanya diperoleh dari pihak stasiun tivi pemegang hak siar, itupun kalau ditayangkan secara siaran langsung.

Inilah yang harus dipikirkan oleh semua manajemen klub dan Panpel Pertandingan, sehingga bila memang merasa dicurangi atau dirugikan, tidak hanya koar-koar di media, namun dapat menunjukkan bukti berupa rekaman atas insiden tersebut secara utuh dalam hal sebab-akibat. Yang namanya mafia pasti saja punya celah, nah untuk mengantisipasi adanya “invisible hand”, bila memang pihak tuan rumah tak sanggup menyediakan kamera,  maka pihak tuan rumah juga dilarang menghalang-halangi tim tamu bila tim tamu membawa kamera sendiri untuk merekam jalannya pertandingan. Ayo-ayooooo poin no.3 ini DISOSIALISASIKAN agar pihak yang merasa dirugikan tidak hanya bisa koar-koar saja, tapi memberi bukti. Tentu rekaman pertandingan adalah sangat penting. Hal ini tak lepas dari pengalaman Komdis yang menyidangkan kasus pemukulan yang dilakukan oleh Emanuelle De Porras terhadap Gunawan Dwi Cahyo. Dalam sidang Komdis, De Porras tetap ngotot menyangkal hal tersebut, namun setelah diperlihatkan rekaman ulangnya, barulah De Porras mengakuinya. Ayooo poin no.3 belum ada di media mainstream nich, tugas CJ dan suporter buat mensosialisasikan.

4. 4. Laporan hasil pertandingan

Pihak suporter bila merasa timnya dirugikan atas jalannya pertandingan, maka sasaran utama adalah kinerja wasit. Memang tak dapat dipungkiri pula bahwasanya tingkat kinerja wasit kita sangat jauh dibawah negara-negara lain, jangankan wasit kita ada yang dikirim ke pentas Piala Dunia, pentas Piala Asia aja sangat jarang terjadi. Berbeda dengan tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Namun soal wasit, mungkin bisa dibahas pada lain tema, karena Komisi Wasit juga berdiri sendiri berbeda dengan Komisi Disiplin. Ada satu hal yang banyak dilupakan oleh para suporter mengenai permasalahan seperti ini, yakni setiap[ selesai pertandingan, maka laporan hasil dan jalannya pertandingan akan dikirimkan ke PSSI/PT LPIS. Dalam laporan ini juga ditandatangani oleh kedua tim yang bertanding, wasit (dan asisten), dan pengawas pertandingan. Nah, mungkin inilah yang harus dikritisi oleh para suporter bila mau menganggap keputusan wasit tak sejalan dengan apa yang ada di pikirannya. Selain timnya harus menyiapkan bukti terkait, suporter lihat juga dong hasil laporan pertandingannya. Kalau dalam laporan, semua tanda-tangan bahwa pertandingan berjalan secara aman dan lancar, terus gimana hayooo?

Oooaaaaahemmmm, ngantuk juga nich meski tiap malem emang “ngalong” jagain bini. Mungkin sekian dulu dari kami P.S.K, sebenarnya Komdis ada domain juga dalam kasus keributan suporter, namun karena terbatasnya daya “melek” mata ini, mungkin bisa dibahas di lain artikel.

Terimakasih sudah mau menyimak rangkuman versi "seadanya" :)

{[P.S.K]}

13340888631397373525Blekutu Puwol, Catur Agus Saptono, Helmi Atmaja

1334087968669591636Mari Berseru Indonesia Bersatu, DUKUNG PSSI !!!

Bubup Prameshwara

/bubup

Kadang saya memikirkan apa yg terjadi di indonesia ini, sungguh bikin "miris". Tapi kadang saya juga merasa tak ada gunanya memikirkan apa yg sedang saya pikirkan :O
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?