Ekonomi

Bedah Buku "Revolution" Tentang Era Digital

16 Juli 2017   14:36 Diperbarui: 16 Juli 2017   15:41 127 0 0
Bedah Buku "Revolution" Tentang Era Digital
Bedah Buku "Revolution" Tentang Era Digital

Buku ini ditulis dengan tujuan untuk membantu orang-orang muda saat ini untuk mengubah pola pikir dalam menghadapi masa depan di zaman ini. Sebagaimana perjalanan dunia pekerjaan dan bisnis dari masa ke masa mengisyaratkan adanya suatu perubahan yang memaksa kita ikut terlibat dalam perubahan tersebut.

Sekolah tinggi dengan tujuan pekerjaan tidak lagi memberikan suatu jaminan bagi masa depan. Semenjak tahun 2000, dengan adanya perubahan dalam ekonomi dunia dan juga teknologi membuat suatu teori yang tidak bisa diyakini saat ini. Pergeseran era dari pertanian ke industri dan dari industri ke informasi dan sampai hari ini di era informasi dan digital, membuat suatu pergeseran keyakinan. Dulu di era industri, penting sekali bagi setiap orang untuk mengambil pendidikan tinggi sebagai profesional mempersiapkan diri mereka menjadi tenaga ahli atau profesional di dalam perusahaan. Dengan berkembang pesatnya dunia industri di abad ke 19, para industri berlomba lomba mencari tenaga pekerja profesional untuk dipekerjakan di industri yang mereka bangun. Tetapi pergeseran mulai terjadi saat ini.

Didalam 15 tahun terakhir ini dimulainya kesulitan bagi pencari pekerjaan baik itu yang berpendidikan tinggi untuk memperoleh pekerjaan. Sangat kontras berbeda dibawah tahun 2000 an, bahwa kita masih melihat banyak perusahaan berusaha merekrut tenaga-tenaga terdidik dengan mendatangi kampus-kampus. Puncaknya adalah di tahun 2008 ketika terjadi krisis global yang memaksa berbagai perusahaan dari skala kecil sampai perusahaan raksasa untuk tutup atau melakukan perampingan perusahaan. Data-data yang saya masukan didalam buku ini mengisyaratkan bagi setiap orang yang meyakini profesi karyawan mulai mengkhawatirkan. Dalam buku disini tidak hanya berbicara mengenai kaya atau miskin atau bahwa untuk kaya harus menjadi pebisnis. Tetapi lebih berbicara kepada profesi karyawan yang semakin mengkhawatirkan. Karenabanyak juga orang yang tidak butuh kekayaan berlebih tetapi sekedar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kaya adalah bagian dari kerja keras yang lebih mudah didapat kalau kita terjun kedunia bisnis dengan konsistensi dan fokus.

Dimulai dari krisis global tahun 2008, seluruh dunia dientakkan dengan banyaknya PHK yang terjadi di seluruh dunia. Jeritan tangis dan teriakan yang terjadi dimana-mana. Apakah hal itu berhenti di krisis global saat itu? Kita kadang berpikir bahwa setelah selesai krisis global, ekonomi dunia akan kembali pulih dan profesi karyawan akan semakin terbuka lebar. Ternyata tidak, dengan pulihnya ekonomi dunia secara perlahan-lahan, bukan berarti nasib para pencari kerja semakin baik. Ternyata semakin sulit dan sulit. Hal itu terbukti dengan pulihnya ekonomi dunia dan pertumbuhan ekonomi indonesia mencapai 5%, tidak membuat yang dicita-citakan para pencari pekerjaan terwujud. Ternyata ekonomi Indonesia bisa pulih karena sektor ekonomi ditopang oleh makro bukan mikro, termasuk para pelaku industri digital dan kreatif.

Dalam 5 tahun terakhir ini, dengan perlambatan ekonomi global termasuk Indonesia membuat para tenaga terdidik kesulitan mencari pekerjaan. Data yang saya kumpulkan di buku ini menunjukkan bahwa masalah masa depan karyawan semakin tidak baik. Setiap tahun bukan hanya buruh, pengangguran tamatan pendidikan tinggi bertambah dari tahun ke tahun. Semakin sulitnya mencari pekerjaan saat ini sangat mengkhawatirkan para mahasiswa yang sedang belajar. 

Disamping itu, pada umumnya sekolah pendidikan tinggi saat ini masih melakukan metode lama yaitu mempersiapkan mahasiswa menjadi karyawan. Pertanyaan saya, mereka akan mencari pekerjaan kemana apabila tidak ada lapangan pekerjaan yang terbuka. Hanya berapa persen para tamatan pendidikan tinggi yang memperoleh pekerjaan. Hal ini yang saya sorot dan perlu dirubah. Banyak industri yang muncul saat ini tetapi bukan lagi industri seperti yang ada di eraindustri, tetapi industri kreatif dan digital yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebut saja industri raksasa digital seperti Facebook dan Google di Amerika Serikat atau Alibaba di China yang tidak membutuhkan karyawan yang begitu banyak tetapi mempunyai omset yang luar biasa yang menjadikan pemiliknay masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia.

Pertumbuhan ekonomi beberapa negara di Asia yang tinggi seperti di India dan china bukan karena tersedianya lapangan pekerjaan, tetapi tanggapnya mereka terhadap era yang sudah berubah dan mulai menciptakan kemandirian finansial.  Mereka mulai mencoba industri kreatif dan industri digital untuk menciptakan uang. Kita bisa menghasilkan uang di Indonesia dari luar negeri hanya dengan menggunakan metode digital internet. Misalnya saya selalu berjualan di amazon.com dimana costumers saya berada di seluruh dunia dan dari seluruh dunia membeli produk saya. Inilah yang sedang berubah saat ini dimana kita tertinggal dalam mengubah pola pikir. Kita di Indonesia masih meyakini tujuan kita sekolah pendidikan tinggi adalah untuk menjadi karyawan. Padahal lapangan pekerjaan tidak tersedia. Presiden Jokowi pernah menyampaikan bahwa kita selalu tertinggal dari negara-negara berkembang saat ini dalam hal perubahan. Sehingga kita juga tertinggal dalam hal ekonomi dan kemandirian finansial.

Saya berharap dari analis dan motivasi yang saya sampaikan dalam buku ini bisa membuka pikiran kita untuk berubah dan cepat dalam menanggapi perubahan dunia saat ini. Buku ini akan membantu kita memahami ekonomi saat ini dan bagaimana bereaksi dan bertindak dalam mencapai masa depan yang lebih baik. Semoga dengan buku ini masa depan Indonesia dari generasi penerus semakin baik.