Boedi Santosa, S.Pd.I
Boedi Santosa, S.Pd.I karyawan swasta

Seorang guru madrasah pembelajar yang bercita-cita mulia menjadikan Indonesia lebih baik, dengan membekali ilmu dan teknologi dibarengi penanaman akhlak mulia di setiap diri peserta didik.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar Dari Sejarah Khilafah, Selalu Ada Pergolakan Dalam Memilih Kepala Negara

29 Juni 2014   08:03 Diperbarui: 18 Juni 2015   08:19 158 1 1
Belajar Dari Sejarah Khilafah, Selalu Ada Pergolakan Dalam Memilih Kepala Negara
1403978195349200607


Bicara mengenai budaya, maka budaya adalah suatu kebiasaan dimasyarakat yang mana dijalankan menjadi sebuah tradisi secara turun temurun yang terbentuk pola kebiasaan tertentu atau berupa peraturan tidak tertulis namun sebagai mana dapat kita pahami bersama bahwa hal demikian sangat di pegang teguh dan kuat oleh masyarakat yang menjaga tradisi tersebut. Demikian pula dalam Islam adanya warisan tradisi yang dipegang teguh umat islam yang menjaga tradisi tersebut. Demikian pula dalam islam adanya warisan tradisi yang dipegang teguh oleh umat Islam yang mana tidak lain berasal dari kebiasaan-kebiasaan dimasa lalu oleh kalangan sahabat yang selanjutnya menjadi budaya dikemudian hari dalam masyarakat islam dalam perkembangannya sampai saat ini.



Salah satu dari tradisi Islam itu sendiri adalah tidak lain dengan berdakwah sambil berdagang. Indonesia sendiri memaklumi hal tersebut melalui perdagangan yang mana Islam dibawa dan disiarkan oleh pedagang dari Gujarat India. Sejarah mencatat bahwa rasul sendiri adalah seorang pedagang dan dimasa jahiliyah pun salah seorang sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq berniaga guna mencukupi kebutuhan hidup sembari menyebar luaskan agama Islam setelah beliau masuk Islam[1].



Di masa Jahiliah beliau terkenal sebagai seorang yang jujur dan berhati suci. Tatkala agama Islam dating segeralah dianutnya. Dalam mengembangkan dan menyiarkan agama Islam beliau mendapat hasil yang baik. Banyak pahlawan-pahlawan Islam menganut agama Islam atas usaha dan seruan beliau Abu Bakar.[2]


1. Pembai’atan Abu Bakar


Pada tahun 632 M Abu Bakar akhirnya dibaiat atau di lantik sebagai khalifah pertama setelah wafat Nabi Muhammad saw. Abu Bakar sangat dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, sebagai amirul mu’minin misalnya: Beliau masih tinggal di sebuah rumah di luar kota yang amat sederhana dan selama enam bulan mondar mandir ke tempat kerjanya di Madinah untuk melaksanakan tugas.[3]


Namun sebelumnya sempat terjadi perselisihan tentang siapa pemimpin yang meneruskan kepemimpinan rasul Ali bin Abi Thalib menginginkan kedudukan beliau dalam Islam. Tetapi bahagian terbanyak dari kaum muslimin menghendaki Abu Bakar maka dipilihlah beliau menjadi khalifah.[4] Hal ini juga tidak luput dari upaya sahabat lainnya yang lebih berhasil meyakinkah kaum elite Islam: yaitu Umar bin Khatab yang dengan kepandaiannya mampu menyatukan umat degnan satu suara mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti kepimpinan rasul.[5]


Sesudah Abu Bakar diangkat menjadi khalifah beliau berpidato. Dalam pidatonya itu dijelaskannya siasat pemerintahan yang akan beliau jelaskan.[6]


Hanya dua tahun Abu Bakar memangku jabatan sebagai khalifah pertama Islam, jadi tidak mengalami masa jatuhnya Siria. Pengabdiannya itu terpaksa diakhiri karena maut telah dating tanpa sedapat dicegah. Sejarah mencatat selama masa jabatannya itu Abu Bakar telah berhasil mengangerahkan sejumlah sukses. Permtama, di bawah masa kepemimpinannya Islam telah tersebar di Mesopatimia. Kedua, dalam waktu bersamaan dua tokoh Nabi palus telah berhasil dilenyapkan yaitu Tulaihah dan Musaelamah al Kadzab. Ketiga, di samping itu gagasannya untuk melakukan kodifikasi Qur’an telah mewujudkan hasil awal yaitu mengumpulkan naskah-naskah yang sebelumnya masih terserak.[7]


Dalam masa pemerintahan beliau tidak dapat dipungkiri ada beberapa masalah mencuat dikalangan muslim di antaranya munculnya para Nabi-nabi palsu hingga banyaknya syuhada yang hafiz Alquran sehingga mendorong kodifikasi Alquran itu sendiri sampai masalah pemberontakan suku-suku yang tadinya mengaku beriman menjadi murtad dan berbalik berhianat.


Di dalam kesulitan yang memuncak inilah kelihatannya kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar. Dengan tegas dinyatakannya seraya bersumpah, bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang telah menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, maupun mengaku jadi Nabi, ataupun yang tidak mau membayarkan zakat, sehingga semuanya kembali kepada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan kemuliaan agama Allah.[8]


Ketegasan Abu Bakar ini disambut dan didukung kuat oleh golongan terbesar dari kaum muslimin atau oleh seluruh kaum muslimin[9] walaupun sikap damai, karena huru-hara yang melandan hampir meliputi seluruh tanah Arab.




B. Umar Bin Khatab


Sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam, Umar bin Khattab lebih menyukai sebutan amirul mukminin atau pemimpin mereka yang beriman ketimbang sebutan khalifah. Bagaimanapun dia tetap di anggap sebagai khalifah kedua dari kelompok khulafaurrasyidin atau khalifah yang mendapat petunjuk.


Pengangkatan, itu sebagai hasil penunjukan Abu Bakar sebelum wafat, meskipun setelah itu harus mendapatkan persetujuan para sahabat senior. Ditentukan bahwa meskipun dia mendapatkan kekuasaan atas penunjukkan Abu Bakar, untuk selanjutnya dia tidak akan melakukan hal yang sama. Dia akan menyerahkan pemilihan kepada majelis pemilihan yang lebih bebas. Bahkan dalam kesempatan itu dia minta dikoreksi dan ditegur manakala melanggar janji.


Janjinya itu memang ditepati, sehingga kepemimpinannya di kenal sangat tegas, jujur, dan adil, meskipun tetap rendah hati dalam penampilannya. Tokoh itu banyak diceritakan sebagai orang yang sangat sederhana.[10]



1. Ekspedisi ke Timur


Ekspedisi ini dipimpin oleh Khalid bin Walid. Dimasa Umar lah kemenangan Khalid dipresembahkan dengan menduduki Damaskus (Damsyik), ibu koa Siria atau Suriah pada tahun 641. Pada tahun 637 M mereka menaklukkan Persia.


2. Ekspedisi kekawasan Magribi


Dalam ekspedisi ini dipimpin oleh Amr bin As. Langkah selanjutnya yang dilakukan Khalid bin Walid adalah menjadikan kota Heliopolis sebagai ibu Kota Islam di Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya kota itu kelak dikenal sebagai Kairo lama yang kelak menjadi ibu kota Mesir. Tentu saja semua kesuksesan itu dilaporkan kepada khalifah Umar di Madinah.


Setelah mendapatkan izin dan restu khalifah pasukan Amr bin As meneruskan ekspedisi mereka kekawasan-kawasan matahari tenggelam di jalur utara Afrika. Dalam ungkapan bahasa Arab kawasan itu disebut Magribi, yang berasal dari kosakata Ghurubi Syamsi yang berarti tenggelam matahari.[11]


3. Peta administrasi pemerintahan


Setelah hampir semua kawasan Magribi takluk dibawah kendali Islam, maka lengkaplah sudah kawasan Islam terbentang dari Magribi di barat sampai India disebelah timur. Ternyata kawasan seluas itu menimbulkan konsekuensi yang tidak mudah dalam bidang pengaturan administrasi pemerintahan. Hal itulah yang dihadapi khalifah Umar yang dikenal sebagai L’organisateur de la victoire[12]



C. Usman Ibnu Affan


Siapa Usman Ibnu Affan?


Beliau adalah Usman ibnu Affan. Ibnu Abil Ash ibnu Umaaiyah. Dilahirkan diwaktu Rasulullah berusia 5 tahun dan masuk Islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq.


1. Usman di angkat jadi khalifah.


Di waktu Umar kena tikam beliau tiada bermaksud hendak mengangkat penggantinya. Tetapi kaum muslimin khawatir kalau-kalau terjadi perpecahan sesudah Umar meninggal dunia, karena itu mereka mengusulkan agar Umar menunjuk siapa yang akan menjadi pengganti beliau. Beliau mencalonkan enam orang sahabat Rasulullah yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surge, mereka adalah orang-orang yang paling baik. Orang yang berenam itu aalah. Usman, Ali ibnu Abi Thalib, Thalhah, Zubair ibnu Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash dan Abdur Rahman Ibn Auf.


Umar berpulang ke rahmatullah, maka sahabat-sahabat yang berenam itu berkumpul untuk bermusyawarat. Maka, bermusyawarahlah segenap lapisan kaum muslimin, begitu juga dengan para calon (sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar). Dari permusyawarahan itu dapatlah dia mengambil kesimpulan bahwa pendapat tertuju kepada Usman dan Ali. Maka dipilihnyalah Usman, karena Usman lebih tua dari Ali dan prilakunya lunak.[13]


2. Perluasan Islam di Masa Usman


Perluasan Islam di masa Usman dapat disimpulkan pada 2 bidang:


a. Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa negeri yang telah masuk ke bawah kekuasaan Islam di zaman Umar.


b. Melanjutkan perluasan Islam ke daerah: yang sampai di sana telah terhenti perluasan Islam di masa Umar.


1) Penumpasan pendurhakaan dan pemberontakan


Daerah-daerah yang mendurhaka itu terutama ialah khurasan dan Iskandariah. Usman mengirimkan pasukan ke Khurasan dan Iskandariah tentara yang besar jumlahnya dengan perlengkapan yang cukup. Bala tentara ini dapat menghancurkan kaum pemberontak, serta dapat mengembalikan keamanan dan ketentraman dalam daerah tersebut.


2) Perluasan Islam


Dengan mempergunakan angkutan laut yang dimpimpin oleh muawiyah Ibnu Abi Sufyan tahun 28 H, pula Cyprus dapat pula dimasukkan ke dalam wilayah Islam dan salah satu pertempuran paling penting yaitu pertempuran “Dzatis Sawari” (pertempuran tiang kapal).[14]




D. Ali Ibnu Abi Thalib


1. Riwayat hidup Ali Ibnu Abi Thalib


Ali Ibnu Abi Thalib Ibnu Abdil Mutthalib, putera dari paman Rasullah dan suami dari puteri beliau Fatimah. Ali semenjak kecil sudah dididik dengan adab dan budi pekerti Islam. Lidahnya amat fasih berbicara. Pengetahuannya dalam agama Islam amat luas. Hamper pada setiap peperangan yang di pimpin oleh Rasulullah, Ali tetap ada di dalamnya. Sering Ali dapat merebut kemenangan bagi kaum Muslimin dengan mata pedangnya yang tajam.[15]



2. Pembai’atan Ali


Pembai’atan Ali adalah pembai’atan dari rakyat terbanyak, yakni orang-orang yang telah menjatuhkan Usman. Tak ada diantara sahabat-sahabat terkemuka yang dapat menolak untuk membai’atan Ali, karena tidak seorang, juga diantara mereka yang sanggup menghadapi pancaroba. Oleh karena itu mau tak mau mereka memai’at membai’at Ali, Kemudian banyak para Muhajirin dan Anshar yang mengikuti tindakan mereka. Ali di bai’ah oleh rakyat terbanyak.


Dengan memperhatikan suasana pembai’atan Ali, dapat diambil kesimpulan bahwa pembai’atan itu bukanlah dengan sepenuh hati kaum muslimin. Terutama Bani Umaiyah, mereka yang mempelopori orang-orang yang tidak menyetujui Ali.[16]


3. Politik Ali dalam Pemerintahan


Sesudah beliau dibai’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya dua buah ketetapan:


a. Memecat kepala-kepala daerah angkatan Usman


b. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Usman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Usman kepada siapapun yang tiada beralasan, diambil Ali kembali.[17]


Banyak peperangan yang mencetus di masa pemerintahan Ali, dan yang terpenting adalah dua buah, yaitu:


4. Peperangan Jamal


Dinamakan peperangan Jamal (Unta) karena siti Aisyah istri Rasulullah dan puteri Abu Bakar As Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai Unta.i[18]


5. Perpangan Shiffin


Peperangan shiffin adalah peperangan antara Ali dan Mu’awiyah.[19]


6. Bertahkim


Akhirnya kedua golongan bersepakat bahwa masing-masingnya memilih seorang hakim. Orang syam memilih Amr ibnul Ash dengan suara bulat. Tetapi dalam golongan Ali terjadi pertikaian pendapat suara terbanyak memilih Abu Musa al-Asy’ari.[20]


7. Sesudah peristiwa tahkim


Peristiwa tahkim telah menguntungkan Mu’awiah, tetapi keuntungan itu bukanlah diumumkan pemberhentian Ali, dan penetapan Mu’awiha, melainkan karena peristiwa tahkim itu telah menimbulkan perpecahan pada lasykar Ali.


Kaum khawarij mulailah memberontak dan meninggalkan Ali. Malahan berani pula mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa, dan melakukan penganiayaan-penganiayaan dan pelanggaran-pelanggaran di Irak.


Dalam pada itu, keadaan Mu’awiyah di Syam telah stabil. Maka para sahabat yang besar-besar seperti Sa’ad Ibnu Abi Waqqash, dan Abdullah Ibnu Umar mulailah berdatangan kesana menggabungkan diri dengan Mu’awiyah.


Mua’wiyah pun telah berhasil menggabungkan negeri Mesir ke dalam wilayah kekuasaannya. Demikianlah kekuasaan Ali makin lama makin berkurang, sebaliknya kekuasaan Mu’awiyah terus menerus bertambah naik’.[21]


8. akhhir-akhir Riwayat Ali


diwaktu beliau bersiap-siap hendak mengirim balatentara sekali lagi untuk memerangi Mu’awiyah, terjadilah suatu komplotan untuk mengakhiri hidup masing-masing dari Ali, Mu’awiyah dan (Amr ibnu Ash).


Tetapi diantara ketiga orang itu hanyaolah Ibnu Muljam yang dapat membunuh Ali. Ibnu Muljam menusuk Ali dengan pedang, waktu beliau sedang memanggil orang untuk bersembahyang.


Dengan demikian berakhirlah riwayat Ali. Dengan berpulang nya Ali kerahmatullah habislah masa pemerintahan al-Khulafaur Rasyidin.[22]


Kesimpulan


Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan: Dapat kita ketahui bahwa khulafaur Rasyidin itu ada 4 orang yaitu: Abu Bakar Ash Shhiddiq, Umar bin AL Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin mereka adalah para khalifah pengganti Rasulullah. Dan banyak sekali jasa-jasa yang telah mereka lakukan untuk islam, mulai dari penaklukan-penaklukan dan perluasan daerah, pemeliharaan Alquran, mempersatukan banyak Negara menjadi satu Negara yaitu Negara Islam dan ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah, dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA


Su’ud, Abu, Islamologi Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta. PT Rineka Cipta, 2003.


Al-Kandahlawy, Muhammad Yusuf, Sirah Sahabat, Keteladanan orang-orang di Sekitar Nabi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.


Syalabi, A. Sejarah Kebudayaan Islam 1, Jakarta, PT. Pustaka al-Husna Baru, 2007.


[1]A. Sya’abi, Sejarah Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2007), h. 195.


[2]Ibid. h. 195.


[3]Abu Su’ud, Islmology, (Jakarta : PT Asdi Mahasatya, 2003), Cet, ke-1, h. 55.


[4]Op,cit. h. 195-196.


[5]Lihat A. Sya’labi, Sejarah Kebudayaan Islam h. 55 dan Abu Su’ud, Islamologi, h. 195.


[6]Op,cit, A. Sya’labi, h. 196


[7]Ibid, h. 200.


[8]Sebagaimana dikutip dari Al Baladzuri, Fathul Buldan: 104.


[9] Op,cit, h. 201.


[10]Abu, Su’ud, Op,cit, h. 56-57.


[11]Ibid. h. 57-58


[12]Ibid. h. 59-60.


[13]A. Syalabi, Op,cit,h. 229-231.


[14]Ibid. h. 231-232.


[15]Ibid. h. 243.


[16]Ibid. h. 244-245.


[17]Ibid. h. 246


[18]Ibid. h. 248


[19]Ibid. h. 257


[20]Ibid. h. 281


[21]Ibid. h. 262-264


[22]Ibid. h. 284.