Bisa Jadi, Inilah Pemenang Pilkada DKI Putaran II

20 Maret 2017 09:44:10 Diperbarui: 20 Maret 2017 10:07:10 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Rekapitulasi KPU DKI hasil pilkada putaran I sudah disahkan.  Jumlah seluruh pemilih adalah 7.218.244. Jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya adalah 5.563.207. Jumlah suara tidak sah adalah 68.644. Jumlah yang tidak menggunakan hak pilihnya adalah  1.655.037. Dari jumlah suara sah, AHY-Silvie mendapat 936.461 suara, Ahok–Jarot mendapat 2.357.785 suara, dan Anies-Sandi mendapat 2.193.530 suara. (https://pilkada2017. kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta)  

Pendukung Anies-Sandi adalah partai Gerindra dan PKS. Para kader kedua partai tersebut terkenal militan. Mencoba menarik suara mereka agar berubah memilih Ahok-Jarot adalah sesuatu yang hampir mustahil. Melakukan black champagne atau negatif champagne terhadap Anies-Sandi justru akan menciptakan bumerang. Bukannya simpati yang akan didapat, tapi justru antipati.

Pendukung Ahok-Jarot adalah kelompok nasionalis yang logis. Kelompok ini tak kalah militannya dengan pendukung Anies-Sandi. Bahkan, menurut survey litbang Kompas yang dilakukan pada saat menjelang pilkada putaran I, jumlah strong voters mencapai 85% dari jumlah pemilih. Lebih tinggi daripada jumlah pemilih Anies-Sandi yang mencapai 77%.  Artinya, mencoba menggoyang mereka dengan isyu SARA atau kriminal, justru akan menambah kemantapan mereka dalam melakukan pilihan.

Berdasarkan asumsi tersebut, seharusnya tim sukses nomor urut 2 dan 3 sudah tahu apa yang harus dilakukan. Saling menjatuhkan kredibilitas calon lain agar pemilihnya berbalik arah adalah sebuah siasat yang tidak tepat. Suara yang harus diperebutkan adalah suara pemilih Agus-Silvie dan suara golput yang jumlahnya cukup besar.

Berdasasarkan hasil rekapitulas, terdapat 68.644 suara tidak sah, 1.655.037 suara golput, dan 936.461 suara dari pemilih Agus-Silvie. Artinya ada 2.660.142 suara untuk diperebutkan masing-masing calon. Berikut ini, saya akan mencoba membuat perkiraan kemana suara tersebut akan berlabuh dan bagaimana perhitungannya.

Berdasarkan perkiraan bahwa sebagian besar pemilih Agus-Silvie adalah kelompok yang tidak akan memilih Ahok karena pertimbangan tertentu, maka sebagian besar kelompok ini pun akan lebih memilih Anies-Sandi. Pembagian persentasinya bisa mencapai 60% dan 30%. Sedang yang 10% akan memilih golput.

Dengan perhitungan ini, jika kita anggap semua pemilih pada putaran 1 akan kembali memilih paslon yang sama pada putaran II, maka paslon nomor urut 2 akan memperoleh suara 2.357.785 + (30% X 936.461) = 2.638.723. Sedangkan paslon nomor urut 3 akan memeroleh suara  2.193.530 + 60% X 936.461 = 2.755.407. Selisih suara antara keduanya berjumlah 116.683 suara dengan paslon nomor 3 sebagai pemenangnya.

Sedangkan jika kita menggunakan persentase tingkat kemantapan pemilih pada putaran 1 berdasarkan litbang kompas,  maka paslon nomor urut 2 akan memperoleh suara (85% X 2.357.785) + (30% X 936.461) = 2.285,055,55.  Sedangkan paslon nomor urut 3 akan memeroleh suara  (77% X 2.193.530) + (60% X 936.461) = 2.250.894,7. Selisih suara antara keduanya sangat tipis, yaitu berjumlah 34.160,85  suara dengan paslon nomor 2 sebagai pemenangnya.

Menurut survey LSI, tingkat pendidikan orang yang memutuskan golput adalah lulusan SLTA/sederajat 40,2%, kelompok sarjana mencapai  12,6 %, dan sisanya adalah lulusan SMP dan SD. Dari data tersebut dapat disimpulkan, sebagian besar golput berasal golongan yang berpendidikan menengah dan menengah ke atas.  Alasan memilih golput bermacam-macam: tidak tahu, tidak punya waktu karena harus bekerja, tidak peduli, bingung dengan calon yang ada, dan menganggap pilkada tidak ada manfaatnya baginya.

Dari suara golput, saya memperkirakan hanya akan ada 50% yang akhirnya memutuskan untuk menggunakan hak pilihnya. Perkiraan tersebut sudah tergolong sangat tinggi. Pada putaran I jumlah yang menggunakan hak pilihnya sudah mencapai 77,1%. Dengan penambahan 50% dari pemilih golput tersebut, jumlah pengguna hak pilih akan mencapai 6.3907.25,5 suara atau 88,5% dari seluruh daftar pemilih. Dari 50% tersebut, sesuai karakteristik kelompok golput yang sebagian besar punya pemikiran logis, pesimis, apatis, kritis, smart, dan tidak buta politik, saya perkirakan 60% akan memilih Ahok-Jarot dan 40% akan memilih Anies-Sandi.

Dengan perhitungan tersebut, jika kita anggap seluruh pemilih pada putaran I semua akan kembali memilih paslon yang sama, paslon nomor urut 2 akan memeroleh suara  2.357.785 + (30% X 936.461)  +  (60% X 827.518,5)  =  3.135.234. Sedangkan paslon nomor urut 3 akan memeroleh suara 2.193.530 + (60% X 936.461) +  (40% X 827.518,2) =  3.086.523.  Selisih suara antara kedua paslon 48.711,4 suara dengan paslon nomor 2 sebagai pemenangnya.

Sedangkan jika kita menggunakan persentase tingkat kemantapan pemilih pada putaran 1 berdasarkan litbang kompas,  maka paslon nomor urut 2 akan memperoleh suara (85% X 2.357.785) + (30% X 936.461) + 60% X 827.518,5 = 2.781.567.  Sedangkan paslon nomor urut 3 akan memeroleh suara  (77% X 2.193.530) + (60% X 936.461) + (40% X 827.518,5) = 2.581.986. Selisih suara 199.580,6 dengan paslon nomor 2 sebagai pemenangnya.

Dalam membuat artikel ini saya adalah pihak yang netral. Artikel ini hanyalah analisis mentah. Perhitungannya hanya menggunakan rumus yang sederhana. Walaupun menurut saya cukup logis, bisa saja salah. Jika perhitungan di atas dianggap  memiliki margin error 3%, keadaannya akan berubah. Jadi, bagi pemilih dan tim sukses paslon yang menurut perhitungan di atas keluar sebagai pemenang, jangan bertepuk dada. Sedangkan bagi pemilih  dan tim sukses yang kalah, jangan marah dan mencaci saya sebagai buzer. Justru, jika Anda percaya dengan analisis ini,  Anda akan tahu apa yang harus dilakukan agar jagoan Anda menang.

Menurut saya, kemenangan Jokowi pada pilpres 2014 lalu lebih banyak ditentukan oleh pemilih yang semula golput kemudian menentukan untuk memilih Jokowi. Hal tersebut tampaknya akan kembali terulang pada pilkada DKI putaran II nanti. Jadi, bagi tim sukses dan pemilih masing-masing paslon, kalian harus hati-hati dalam mengelola suara dari pemilih golput. Kelompok ini sangat rentan untuk kembali golput pada putaran ke II. Belajar dari hasil pilpres tersebut,  gunakan strategi kampanye yang tepat dan beradab. Terbukti paslon yang paling banyak difitnah dan dijelek-jelekkan ternyata justru mendapat simpati dan suara dari kelompok golput. Ingat, sebagian besar dari mereka adalah kelompok terpelajar yang melek teknologi dan informasi. Penggunaan strategi play victim justru akan menjadi bumerang karena pasti akan ketahuan oleh kelompok ini. Penggunaan strategi black campagne atau negative champagne mungkin justru akan membuat mereka jadi muak pada politik dan kumat untuk memilih golput lagi. Bahkan, bisa saja mereka akan mengambil keputusan untuk menghukum kelompok pelakunya dengan memilih paslon lainnya.

Kesimpulan dari artikel ini adalah pemenang pilkada putaran II nanti akan ditentukan oleh 3 hal, yaitu tingkat kemantapan pemilih pada putaran I, suara yang didapat dari suara pemilih Agus-Silvie, dan suara yang didapat dari pemilih golput.  Paslon yang paling sukses mengelola 3 komponen itulah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Selamat mengadu strategi. Salam netral.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana