Inilah Sutradara Utama Pilgub DKI

24 September 2016 02:53:32 Diperbarui: 24 September 2016 03:18:14 Dibaca : Komentar : Nilai :

Pilgub rasa pilpres. Begitu Andreas Pereira, Ketua DPP PDIP setengah berguyon menganalogikan panasnya pilgub DKI Jakarta, sewaktu membuka konferensi pers tentang calon kepala daerah pilihan partai banteng tiga hari lalu.

Jika merujuk pada poros koalisi yang terbentuk oleh partai-partai politik, tentu candaan Pereira itu sangatlah berbeda jika yang dimaksudnya adalah pilpres 2014 lalu. Lihat saja, di 2014, hanya ada dua koalisi besar yang terbentuk. Indonesia Hebat dimotori PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI, sementara Merah Putih digawangi Gerindra, PKS, PPP, Golkar, PAN dan PBB.

Sekarang ini, di DKI, dipastikan ada tiga koalisi. Ahok-Djarot yang diusung PDIP, Nasdem, Hanura dan Golkar. Agus-Sylvia dijagokan Demokrat, PAN, PPP, PKB, sementara Anies-Sandi oleh Gerindra dan PKS.

Namun jika ditelisik lebih jauh, poros-poros yang terbentuk ini adalah sebuah grand desain yang telah diatur oleh para elit parpol di negeri ini. Indikasinya, para petinggi nomor satu semisal Megawati, SBY dan Prabowo “turun gunung” demi kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernurnya. Yang paling terlihat adalah Megawati Sukarno Putri yang mengantar langsung Ahok-Djarot mendaftar ke KPUD DKI. Hal yang tidak dilakukannya sewaktu Jokowi-JK maju di pilpres lalu. Ia bahkan duduk berdampingan dengan Ahok-Djarot di deretan terdepan, kursi yang sedianya diperuntukkan pagi pasangan calon dan ketua-ketua DPD parpol pengusung.

Mega seperti ingin menunjukkan bahwa dia dan partainya benar-benar serius ingin memenangkan pilgub DKI. Ia ingin memberi pesan kepada kader-kader PDIP yang menolak Ahok, bahwa dirinya masih berkuasa. Mulai detik itu, semua harus ikut garis kebijakan partai.

Di kediaman Prabowo, bos Gerindra, PKS justru merelakan jatahnya kepada Anies Baswedan. Apapun alasannya, Prabowo akan dominan dalam lahirnya duet Anies-Sandi. Di Cikeas pun demikian, publik akan membaca SBY adalah sosok di balik lahirnya pasangan Agus-Sylvia. Kemunculan Agus yang awam politik menjadi indikasinya.

Tapi benarkah Mega-SBY-Prabowo adalah sutradara utama terbentuknya tiga poros tadi? Buat saya, ada sosok yang menjadi king maker dari semua ini, walapun memang melibatkan para petinggi parpol.

Siapa dia? Inilah kerja politik tingkat tinggi yang dimainkan oleh Jokowi. Untuk melihat ini, tak bisa dilihat secara parsial, tetapi harus ditelusuri sejak pasca pilpres. Bagaimana Jokowi secara perlahan menaklukkan Koalisi Merah Putih hingga hanya tersisa Gerindra dan PKS. Golkar dan PAN sepakat untuk merapat ke pemerintahan dengan tawaran kursi menteri.

Terdengar seperti konspirasi, namun itulah yang terlihat. Bagaimana Jokowi ingin tetap menempatkan Jakarta sebagai ibukota dalam genggamannya, dengan menempatkan orang pilihannya. Sesuatu yang tak akan dilakukannya di provinsi lain. Di lain sisi, ia ingin memukul para lawan politiknya yakni SBY dan Prabowo, lagi dengan telak.

Kuncinya tentu pada Mega, bagaimana ia harus meyakinkan sang ibu untuk mendukung Ahok maju lagi di periode berikut. Beberapa kejadian, seperti pesannya lewat Adian Napitupulu agar Ahok maju lewat parpol. Ada waktu di mana ia, Mega dan Ahok semobil ketika menghadiri Rapimnas Golkar.

Dan akhirnya Mega menyerah. Tri Rismaharini, kader PDIP yang digadang-gadang maju di DKI terpental. Apa resep Jokowi? Jokowi meyakinkan Mega, jika Risma terlalu lemah untuk memimpin DKI yang disebut mantan Kepala BIN Sutiyoso penuh binatang buas. Kemudian, dari hasil survey, disebutkan jika para pemilih PDIP lebih banyak memilih Ahok. Tentu Mega tak mau mengambil risiko dipecundangi oleh SBY dan Prabowo. Lagian, sebenarnya, Mega punya hubungan baik dengan Ahok.

Nasdem dan Hanura disusul Golkar, bermain lebih awal, dengan menyatakan dukungan tanpa syarat ke Ahok. Ini juga untuk meyakinkan relawan Teman Ahok untuk tak khawatir Ahok tidak maju di pilgub. Kalau Nasdem dan Hanura adalah pengusung Jokowi di pilpres, bagaimana dengan Golkar, parpol besar yang tiba-tiba saja masuk mendukung Ahok. Mungkinkah tidak ada “tangan besar” di belakang itu. Padahal Golkar bukanlah parpol kemarin sore. Lihat bagaimana Golkar lepas dari tangan Aburisal Bakrie ke Setya Novanto, lalu dini hari mendaulat Jokowi sebagai capres 2019.

PAN, PKB dan PPP adalah pemain lain yang diturunkan menjelang injury time. Tidak sulit bagi orang-orang selihai Muhaimin, Zulkifly dan Romahurmuzy membujuk SBY memajukan putra mahkotanya. Tak heran, munculnya nama Agus Yudhoyono begitu heboh. Hebohnya karena orang bertanya, mungkinkah SBY bisa sebodoh itu, mengorbankan karir militer anaknya yang cemerlang? Banyak orang menertawakan langkah ini, sekalipun ada juga yang membaca jika SBY sedang menyiapkan Agus menjadi penerusnya di Demokrat.

Sejauh ini, skenario ini berjalan mulus. Kebenarannya akan diuji menjelang pada Februari tahun depan. Jika mulus, maka Ahok-Djarot akan menghadapi Anies-Sandi di putaran kedua. Saat itulah trio PAN, PKB dan PPP akan kembali ke rumah, rumah sesungguhnya.

Dan jika Ahok-Djarot kembali berkuasa, maka tiada yang lebih sumringah selain Sang Sutradara Utama, sesumringah mayoritas warga Jakarta.

Baca juga prediksi Blind Side jauh hari sebelumnya di sini.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article