HEADLINE

Cairo Ramai Indonesia

07 Februari 2011 01:19:00 Dibaca :
Cairo Ramai Indonesia
Ilustrasi-Mesir Bergolak/Admin (KOMPAS.com/AFP)

Krisis Mesir belum kunjung reda. Para demonstran tidak mau pulang ke rumah sebelum si baba (Hosni MUbarak) turun dari jabatannya sekarang juga. Sekitar pusat imigrasi di Cairo disulap menjadi pemukiman dadakan. Mereka tidak bisa keluar karena sudah dihadang oleh militer di mana-mana dan sudah pasti kalo keluar arena tempat demonstrasi selalu masuk penjara. Lalu gimana nasib WNI ? Tadi siang, usai melakukan wawancara singkat di Liputan 6 berkat bantuan bapak Mauludin Anwar yang mengenalkan saya dengan Kru SCTV bapak Mahmud dari Jember, kami satu rumah bersama Omar ingin mencoba menengok keadaan di kawasan Nasr City. Sudah beberapa hari saya tidak keluar rumah dan hanya sibuk bekerja. Rencananya kami berlima mencari rumah makan Mesir untuk mencoba menu khasnya. Jalan-jalan masih banyak berserakan sampah. Di Saqar Quraish, ada markaz partai Nasional Demokrat yang masih dibiarkan hancur akibat dibakar masa ketika situasi memanas beberapa hari lalu. Cuaca mendung, seakan langit Cairo sudah rindu untuk hujan. Aneh. Ya, itu yang saya rasakan pada jalan-jalan kali ini. Tidak seperti biasanya. Kali ini saya tidak melihat orang asing sama sekali, padahal wilayah Nasr City merupakan satu kawasan yang lumayan dan paling banyak dihuni dan ditempati oleh orang asing terutama mereka yang dari asia tenggara. Rumah apartemen Malaysia yang terletak di Toubromly yang berjumlah 5 bangunan apartemen dengan satu apartemen ada lima lantai sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Tetapi, hanya ada satu warga negara yang menjadi perhatian saya, ya, siapa lagi kalau bukan warga negara Indonesia. Di kawasan ini, di jalan-jalan masih berkeliaran warga negara Indonesia. Kalaupun ada warga asing, mereka hanya segelintir dari orang Somalia dan Syishan Rusia yang notabene keduanya di negaranya sedang terjadi perang dan lebih baik memilih tinggal di Mesir karena sama-sama gentingnya. Omar beberapa kali bilang ke saya sambil menyopir mobil, "shuf…kullu indonesi bas. Ma fish agnabi kholish!!", "perhatikan dan lihatlah, semua yang kita lihat dari tadi adalah orang Indonesia, tidak ada warga dari negara asing lain". Semua negara memang sudah secara maraton mengeluarkan warganya keluar dari Mesir sejak Mesir bergolak, hanya Indonesia yang mencicilnya. Malaysia hanya butuh waktu 4 hari untuk memboyong warganya yang berjumlah ribuan dan lebih banyak dari Indonesia. Asal tahu saja, di sini orang Malay ada sekitar 11 ribu, dua kali lipatnya orang Indonesia. Kami menuju rumah makan Gabir. Warung buka tapi tidak ada pembeli sama sekali. Kami memesan 3 kufta, sejenis daging panggang, saya lebih suka menyebutnya dengan bakso pentol Mesir, kedua teman saya memesan 2 ayam bakar. Kali ini ketika saya bersama kawan-kawan sedang duduk di warung, banyak orang Mesir yang memandang aneh kami. Ya, gimana gak aneh, hanya saya dan ke empat teman saya yang berkewarganegaraan selain Mesir. Kali ini orang asing memang sering menjadi sasaran setelah beberapa hari lalu televisi seperti al-jazeera menayangkan bahwa kerusuhan demonstrasi yang terjadi di Mesir salah satunya dimotori oleh orang asing. Sudah terlalu banyak fakta yang menyebutkan bahwa orang asing sering kena razia, sering kena intimidasi, sering kena interogasi. Hujan rintik-rintik menemani obrolan saya bersama Omar. Dia yang selama ini banyak berjasa kepada kami. Yang menjadi penyambung lidah ketika selalu ada masalah. Teman-teman Indonesia di sini sudah banyak yang mengenalnya. Omar sangat menghargai kami, karena bagaimanapun dia bisa menjadi seperti sekarang, menjadi bisnisman di bidang suplier untuk hotel dan restoran di Mesir juga atas jasa bos saya yang orang Indonesia. Ya, kali ini Cairo hanya Indonesia. Indonesia masih berkeliaran di mana-mana. Di Nasr City khususnya. Mereka masih menunggu kepulangan ke Indonesia untuk periode berikutnya. Menunggu kecepatan dan ketepatan kerja para pemimpinnya yang menjadi jembatan mereka untuk evakuasi. Kabarnya, pihak atasan sana sudah siap untuk mengevakuasi keseluruhan warganya yang mau. Tinggal tunggu saja waktu dan tanggal mainnya. Kami terus makan dan sesekali bergurau. Omar juga langsung mengingatkan  kejadian kemarin saat saya, dia dan teman satu rumah digelandang ke markaz tentara ketika ada beberapa patroli tentara lewat. "Shuff…shuf…ahoo..militer", "lihat..lihat..tuh..militer", katanya, lalu tertawa, seakan memberitahu kami udahlah santai saja. Tapi, rasa ngeri itu masih terasa, sudah tahulah seperti apa karakter militer Mesir, yang orang biasa aja wataknya keras-keras apalagi militernya yang biasa tahu kekerasan, sekalem-kalemnya tetap saja serem. Nasr City masih dibanjiri orang Indonesia. Semoga EVAKUASI TOTAL segera tiba setelah tadi banyak teman-teman yang rapat di KBRI yang mengabarkan hal itu. Semoga secepatnya dan tidak menunggu lagi lebih lama. Apalagi Aljazeera barusan sudah mulai memberitakan keterlibatan Indonesia dalam aksi nyata untuk demonstrasi ini. Nyawa kita itu tidak ada harganya, jadi evakuasi sekarang juga! Salam Kompasiana Bisyri Ichwan

Bisyri Ichwan

/bisyriichwan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir karena banyak kisah dalam Al Qur'an yang terjadi di negeri ini. Seorang yang mencoba mengais ilmu pengetahuan di ramainya kehidupan. Seorang yang ingin aktif kuliah di Universitas terbuka Kompasiana.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?