Hati-Hati Penyesatan Berita oleh Media

04 Maret 2011 02:33:21 Dibaca :

Akhir-akhir ini kita banyak mendapat asupan banyak informasi yang terbilang up date dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Perkembangan informasi yang beredar melalui media lebih cepat dari pada apa yang kita pikirkan. Sebagai contoh, informasi mengenai revolusi di Timteng yang jauh ada disana bisa sampai di hadapan kita dalam hitungan detik. Sungguh ajib. Kehidupan masyarakat sekarang sangat bertolak belakang dari kehidupan masyarakat dahulu. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi merubah pola hidup sekaligus pola pikir kita. Boleh dikatakan, dahulu, kebutuhan akan informasi bisa dibilang kebutuhan kesekian.Namun, sekarang ini, kebutuhan informasi bisa dikatakan menduduki sama rata dengan kebutuhan primer. Sehari bahkan sedetik tanpa informasi terbaru, kita seakan teralienasi dari masyarakat informasi. Informasi menjadi barang kebutuhan dan kebutuhan tersebut bergeser menjadi gaya hidup.


Adapun media sendiri merupakan bagian dari elemen masyarakat informasi. Ia lah yang menjadi tokoh utama arus perkembangan informasi. Kemajuan teknologi telah mendukung kecanggihan pula distribusi berita di media. Sistem cetak jarak jauh maupun satelit menjadi salah satu penunjang efektifitas dan efisiensi distribusi informasi di media kepada publik.


Yang menjadi pertanyaan sekarang, sudahkah kita mengukur kebenaran dan validitas berita di media? Sebagai bagian dari masyarakat informasi tentunya pola pikir kita juga semakin terbuka dan krtitis akan setiap berita yang kita konsumsi. Kita jangan hanya menjadi consumer berita yang pasif tapi bersikaplah kritis. Keberadaan media tidaklah bebas dengan sistem ekonomi politik yang berkembang. Apalagi kepemilikan media sangatlah erat dengan kaitannya kekuatan modal yang memayunginya. Maka, tak mengeherankan jika kita jeli melihat konten-konten media yang beredar, khususnya media TV (elektronik), banyak infomasi yang melebih-lebihkan dan kadang-kadang menyudutkan pihak yang lain. Yang paling gamblang contohnya adalah berita kemelut PSSI.


Sebagai awam tentunya pribadi sangat berharap perkembangan informasi mengenai PSSI. Tapi yang terjadi ada beberapa informasi yang saling bela dan menyudutkan. Melihat seperti ini pribadi mafhum, karena keberadaan media sudah menjadi pemilik modal, bukan milik masyarakat. Hanya jargonnya saja seakan milik masyarakat. Sangat mustahil sekali jika berbicara media sekarang dipisahkan dengan kepemilikan modal. Media pun butuh modal untuk kelangsungan hidup mereka. Nah dari itu, siapapun yang memilki modal maka dia pun berhak mengendalikan media tersebut. Lha wong itu milik dia sendiri kok. Nah kita-kita ini yang sebagai awam dan berpredikat konsumen harus legowo mengetahui fakta ini. Kita pun harus jeli dan lebih cerdas jika dalam mengkonsumsi informasi berita yang disampaikan oleh media. Jangan sampai kita tersesat dan menyesatkan yang lain hanya gara-gara kita bersikap pasif. Tapi mencoba bersikaplah kritis. Semua yang disampaikan media tidak semuanya benar dan sangat sarat kepentingan terlebih jika kepentingan itu terkait kepentingan pemilik modal media tersebut.


Tulisan ini bukan bermaksud antipati dengan keberadaan media. Tapi, lebih mencoba mencari kebebasan kemerdekaan pemahaman diri sendiri. Arus informasi yang begitu banyak sangat resisten terhadap pemahaman yang keliru akan sebuah informasi. Saking banyaknya informasi kita pun terjebak dalam pemahaman yang semu. Tapi kita pun harus bermain cantik dan cerdas dalam memahami semua informasi yang beredar di media. Hitung-hitung sebagai kontrol kita terhadap media. Jangan sampai media hanya menjadi alat permainan kepemilikan modal dan mempermainkan kebutuhan kita akan informasi yang sangat kita butuhkan.



Bintang Fajar Timur

/bintangfajar

Bintang yang ingin selalu bersinar
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?