Bing Sunyata
Bing Sunyata

Pekerja di sebuah industri percetakan kertas (packaging)

Selanjutnya

Tutup

Negari Para Bodhi dan Naga (Hal. 20)

12 Agustus 2017   15:45 Diperbarui: 12 Agustus 2017   15:50 14 0 0

Halaman 19 ...

"Kalau saya boleh bertanya mengenai dua hal, pak ?", Parjo mengatakannya sambil mengerutkan kening, tampak ada sesuatu ... terkait dengan yang dikatakan oleh komandannya, yang sulit dinalar olehnya.

Sambil melambaikan tangan pertanda memperbolehkan, Rustam mengangguk pelan lagi.

"Tidakkah bila kami dikirim kesana pada saat sekarang, akan didapati kemungkinan terjadinya perubahan keadaan saat kami berada dalam perjalanan ?" "12 tahun ...", Parjo menambahkan, untuk memperjelas maksud dari pertanyaannya.

Yang ditanya tersenyum lebar. "Hal itu pula, yang sempat menjadi faktor pemberat pikiranku". "Namun karena itu pula, kalian harus sesegera mungkin berangkat kesana". "Terlambat, itu lebih baik daripada tidak sama sekali", katanya mengutip sebuah ungkapan terkenal.

"Kemudian ada hal yang terasa janggal pula, pak", setelah mengangguk tanda mengerti, Parjo memulai pertanyaannya yang kedua. "Berkaitan dengan jenis masalah yang terjadi, mengapa kami yang dipilih untuk berangkat kesana ?" "Dan apakah hanya kami saja yang diberangkatkan kesana ?", tambahnya.

"Hei, pertanyaannya menjadi tiga kalau begitu", tukas Rustam sambil tersenyum datar. Mungkin beliau mencoba untuk mengusir galau yang ada di pikiran kami berempat. Senyap sejenak. 

"Kalian diberangkatkan kesana untuk mengemban beberapa tugas". "Tugas pertama adalah kalian melakukan pengawalan terhadap seseorang yang akan ikut diberangkatkan kesana". "Dimana dia sendiri mendapat kepercayaan dari para panitia ... mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang ada". "Tugas kedua adalah membantu penyelidikan terhadap kasus tersebut, dimana nantinya kalian akan melaporkan hasil penyelidikan itu kepada orang yang kalian kawal, ... dan petugas yang berwenang disini ... nantinya". Rustam berhenti sejenak. "Terkait 12 tahun itu ..." imbuhnya.

"Pak, tidakkah tugas pengawalan itu seharusnya dilakukan oleh pihak lain ?", ganti Emily yang bertanya.

"Dan tidakkah tugas penyelidikan itu juga seharusnya dilakukan oleh pihak yang kiranya lebih berkompeten dalam bidang tersebut ?", Bara turut menimpali. 

"Terkait 12 tahun itu, bagaimana bila kondisinya kemudian menjadi parah ...", Lesti turut menambahkan pertanyaan, tetapi terhenti saat komandannya itu mengacungkan tangan menyetopnya.

Memandang ketiganya, pandangan Rustam kemudian terhenti ke arah Lesti. "Kami yang disini, tetap akan terus memonitor perkembangan yang ada disana". Ia menjawab pertanyaan si Lesti. "Dibantu dengan BiBi* untuk memperhitungkan dan menganalisa kondisi yang ada, dimana bila ditemui kemungkinan terjadinya konflik yang lebih parah, kami akan sesegera mungkin ... mengirim tenaga bantuan kesana", tambahnya.

*BiBi, Big Brain. Sejenis program simulasi berbasis Artificial Intelligence yang dijalankan dari sebuah piranti semacam super computer ... kalau disini. Biasa digunakan saat itu untuk memperkirakan kejadian-kejadian seputar kehidupan manusia dan seputar pengembangan ilmu pengetahuan.

Yang diberi jawaban mengangguk, walau raut mukanya masih dipenuhi rasa ketidak pastian.

Rustam kemudian menoleh ke Emily dan Bara. "Mengenai mengapa kalian yang dipilih ...", Rustam berhenti sejenak setelah mengatakannya. "Disebabkan kalian adalah kandidat terbaik yang kita miliki pada saat ini", tambahnya.

Mendengar jawaban itu, raut wajah bertambah bingung tertampak pada Bara dan Emily.

Ia kemudian  menambahkan. "Dari pertanyaan-pertanyaan yang kalian ajukan, aku semakin yakin bahwa pilihan yang diberikan oleh BiBitidaklah salah". "Kalian mengajukan pertanyaan itu karena kalian menaruh perhatian pada kemungkinan mengenai pemecahan masalah yang ada". "Kemudian, dari penilaian ... saat kalian melamar kerja disini dan juga saat bertugas dalam keseharian, menunjukkan bahwa kalian menaruh harapan besar dan juga kepercayaan ... akan misi yang selama ini kita lakukan".  "Dan tentunya, dari penilaian itu pula, didapatkan bahwa kalian telah memenuhi persyaratan yang ada untuk bisa diberangkatkan kesana". "Tidakkah kalian juga mempunyai keinginan untuk itu ?" "Berangkat kesana ?", Rustam balik bertanya.

Serempak keempat orang yang ditanya mengangguk cepat.

"Dimana hal itulah, faktor utama yang diperlukan dan terpikirkan pada saat ini ... untuk memecahkan masalah yang ada". "Berkaitan dengan masalah kompetensi, tidakkah aku tadi mengatakan bahwa kami akan terus memonitor keadaan yang ada ..", kata Rustam mengingatkan. "Dan tentunya ... itu juga berarti ... bahwa selama melakukan tugas, kalian akan mendapat suport penuh dari kami disini", tambahnya menegaskan.

Hening sejenak.

Sedikit demi sedikit raut muka Bara dan ketiga rekannya menampakkan tanda pengertian. 

"Satu pertanyaan lagi, siapakah yang hendak kami kawal itu, pak", Emily bertanya. "Presiden ?" "Anggota panitia ?" tebaknya.

"Hmmm, bila dipandang dari status sosialnya ... disini, kiranya tingkatan berada lebih dari yang kau sebutkan", jawab Rustam. 

Emily memalingkan muka sedikit, melirik Parjo yang duduk disebelahnya. Yang dilirik, sedikit mengangkat bahu, menunjukkan tidak mengetahui yang dimaksud oleh komandannya.

"Yah, agar kalian tidak kaget nantinya ...". Rustam kemudian berkata dengan suara pelan. "Sang dewi".

Bersambung ...

Peeeace 4 all