HIGHLIGHT

Menghitung Pemenang Pilgub DKI 2012

23 Agustus 2012 21:00:24 Dibaca :
Menghitung Pemenang Pilgub DKI 2012
Foke-Jokowi (sumber: Tribunnews.com)

“Tanpa ikhtiar lebih ekstra dari Tim Foke-Nara, pada hemat saya, runner-up adalah capaian tertinggi. Tidak lebih, kurang masih mungkin. Semua pasangan Pilgub, tetapi terutama Jokowi-Ahok dan Alex-Nono, tidak hanya mengubah kekuatan peta Foke, tapi menjauhkan Foke-Nara dari kemenangan pilgub DKI 2012, dari grafik yang terus menurun,” itu alinea terakhir tulisan saya dalam Kompasiana (9/5/2012) berjudul “Empat Faktor Pasangan Foke-Nara  di Garis Minus”, jauh sebelum Foke-Nara benar-benar hanya menjadi runner-up atau  urutan ke-2.

Dalam konteks putaran ke-2 pilgub DKI, empat faktor itu masuk dalam wajah yang lain dengan tekanan pada konteks penajaman estimasi angka final yang mungkin dicapai kedua pasangan, Foke-Nara dan Jokowi-Basuki. Sejumlah faktor ini, telah disadari oleh kedua pasangan pesaing dengan indikator-indikator, terutama yang  ‘dikuatirkan’ Foke telah menjadi potret jelas pada pilgub DKI 2007.

Faktor pertama, soal koalisi dan mitra politik pasangan di grand-final, tidak lagi semata “koalisi Gajah” lawan “koalisi Rakyat”. Sederhana kalkulasinya. Pada Pilkada 2007, Adang-Anwar yang hanya didukung PKS kalah (terhormat) dengan 42,13%, dibanding “koalisi Gajah” (termasuk PDI-P, minus Gerindra) yang mendukung Foke-Prijanto ‘hanya’ mengumpulkan 57,87%, prosentase yg dianggap jauh di bawah ekspektasi. Di satu pihak, Partai PDIP sebagai Partai besar ke-3 pemenang Pemilu legislatif 2008, plus Gerindera, telah membuktikan diri bahkan menang secara di luar ekpektasi pada putaran pertama, dengan prosentase 42,6% (atau 1.847.157 suara). Di pihak lain, dengan modal demikian besar, dan beda dengan petahana yang meraup suara 34.05% (atau 1.476.648).

Faktor Kedua, dalam hitungan matematis, suara pasangan Hidayat-Didik (11,72% atau 508.113 suara) menjadi faktor penentu tertentu pemenang putaran ke-2. Namun, Tim Jokowi-Ahok percaya diri, pun bila elit PKS menghendaki lain. Faktor-faktor soliditas Partai, hingga karakteristik Pemilih, apalagi di DKI, barometer pemilih cerdas. Maka, konstituen Hidayat-Didiek, tidak dapat “ditarik” penuh sebagai sejumlah gerbong mengikuti ‘lokomotif’ keputusan elit PKS, pendukung Hidayat-Didiek.

Keputusan partai PKS untuk mendukung Foke-Nara menjadikan konstituen PKS tidak hanya kebingungan. Pada Pemilu 2007, Foke dan “koalisi Gajah” menjadi lawan tanding satu-satunya terhadap PKS, kemudian masih dikamapanyekan sebagai ‘lawan’ pada Pilkada 2012, kalau mendadak petingginya mengubah pilihan politik, soliditas PKS tidak hanya terganggu. Konstituen PKS mengalami political shock dan dapat berani beda dengan pimpinannya, minimum menjadi golput, jika merasa tidak wajib memilih di grand final. Didiek J Rachbini sebagai pasangan Hidayat Nur Wahid memberi ruang,  bahwa konstituen pemilih pasangan mereka sebagiannya akan mendukung Jokowi-Ahok. Di situ mungkin sebagiannya loyalis PKS dan tentu  non-konstituen Partai tertentu sama sekali.

Faktor Ketiga, pasangan dari Cagub, suka tidak suka, menjadi faktor yang pada putaran kedua telah menjadi obyek fear and smear campaign. Dengan mengambil seorang purnawirawan Nachrowi menjadi pendampingnya, sebenarnya Foke tidak menghitung “kekuatan orang ke-2” sebagai pendorong atau penyempurna kemenangan. Pentingnya “orang ke-2” dalam demokrasi Amerika, bahkan telah lama dan jauh menjadi diskusi serius suatu pemenangan Pemilu. Bagi Tim Jokowi-Basuki, hal ini bukan sekedar penting untuk pemenangan, tetapi tentang pencitraan politik terbuka.

Foke-Nara, jika tidak berlebihan dapat dikatakan, hanyalah pengulangan pasangan Foke-Priyanto. Setidaknya, Foke menganggap sepenting-pentingnya Priyanto, Nara adalah sosok tepat untuk pemenangan. Meski, secara obyektif kalau dipaksa mengatakan, pilihan orang ke-2 atau Nara, pendamping Foke, adalah optimisme berlebihan, tanpa evaluasi posisi dan kritik mantan pendampingnya, Prijanto. Hal yang sebaliknya terjadi pada pasangan Jokowi, yang telah menjadi bahan pergunjingan, seolah Konstitusi kita telah lenyap.

Tetapi, dalam segala “fear and smear campaign”, Jokowi-Ahok justeru menunjukkan kematangan komunikasi politik, dan masyarakat tampak makin percaya. Popularitas Jokowi-Ahok malah makin menjadi di tengah serangan terhadap Joko Widodo, hingga kepada “Orang Kedua”-nya, Ahok.

Faktor Keempat, pemenang putaran pertama pada umumnya akan segera memenangkan putaran selanjutnya, meski ini tidak mutlak. Hal ini terkait psikologis yang unggul dan yang terpukul. Militansi pendukung pemenang putaran pertama di satu pihak, dan menurunnya semangat juang pendukung runner-up di pihak lain. Jika disederhanakan: dengan kekuatan penuh pada putaran pertama, sudah tidak mencapai posisi pertama, bagaimana dengan posisi start berbeda. Lahirnya golput pada putaran kedua, koalisi setengah hati, dan “smear campaign” yang menjadi bumerang, dapat menjadi usaha yang kontraproduktif, kalau tidak dikatakan sia-sia.

Faktor Kelima, last but not least, khusus untuk Pilkada DKI 2012, dalam segala diskusi dan debatnya, Joko Widodo adalah figur yang dirindukan (sebagian) warga DKI. Ketokohan mitos-mitos atau ceritera rakyat tentang seorang pemimpin yang rendah hati, jujur, ramah dan kata-katanya patut dipercaya, adalah ceritera dari mulut yang satu ke kuping yang lain. Itulah seorang Joko Widodo, yang merakyat dan berada di tengah rakyat. The rising star atau The Phenomenon ataupun sebutan lainnya.

Kalau harus mengakhiri dengan memberi angka estimasi pemenang Pemilukada DKI 2012, saya menghitung dengan angka maksimal yang akan dicapai Foke-Nara adalah 1.956.648. Sementara, angka minimal yang diperoleh Jokowi-Ahok adalah 2.157.157. Artinya lagi, dalam keadaan biasa, Foke-Nara tidak mudah untuk memperoleh jumlah suara 2 juta pemilih. Sementara, dengan menjaga kinerja tim-nya seperti sekarang, Jokowi-Ahok telah mengantongi 2 juta lebih suara.

Rincinya: suara Hidayat-Didiek (508.113) dibagi dengan perkiraan tertinggi 250 ribu akan ke Foke-Nara; sementara kurang-lebih 100.000 suara (loyalis PKS+loyalis Didik non-partisan) ke Jokowi-Ahok.   Suara untuk Faizal-Biem (215.935) akan paling banyak beralih ke Jokowi-Ahok dengan perkiraan 150.000, dan 50.000 maksimal untuk Foke-Nara. Sebaliknya, suara Alex-Nono (202.643) maksimal 100.000 ke Foke-Nara, dan 50.000 minimum ke Jokowi-Ahok. Suara untuk Hendarjie-Rieza (85.990) dibagi dua, 40.000 untuk masing-masing pasangan. Prediksi golput dan swing-voters menambah-mengurangi angka perkiraan.

Total pemilih pada Daftar Pemilih Tetap (DPT), putaran pertama 6.983.692, dan daftar terakhir 6.962.348, nanti jadi kisah lain, setelah Quick-Count.  Ini estimasi angka mendahului quick-count 20 September 2012.

Berthy B Rahawarin

/berthybrahawarin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

berthy b rahawarin, aktivis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?