HIGHLIGHT

Apresiasi Puisi: "Perempuan Perkasa" dan Hartoyo Andangjaya

21 April 2010 07:58:00 Dibaca :

"Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka,
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa,
sebelum peluit kereta pagi terjaga,
sebelum hari bermula dalam pesta kerja"

Kepekaan dan ketulusan hati penyair Hartoyo Andangjaya menguak kehalusan budinya dengan mengeja gerak kekuatan para wanita tulang punggung ekonomi pedesaan. "Pesta kerja" adalah kehalusan kata penuh makna yang memberi pengakuan pada kerja sebagai sebuah "destiny", "sukacita", tapi juga perjuangan nan tiada henti.



Di hari Kartini, tidak berlebihan mengutip budi-bahasa seniman Hartoyo untuk mengantar kita kedalam perjuangan para wanita di tanah dan pangkuan pertiwi, meskipun obyeknya adalah para wanita petani, tetapi jiwanya adalah pekerja wanita yang bergerak dengan raga dan "jiwa baja".



Hartoyo, dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991, atau kurang lebih satu dekade lalu. Dalam bait kedua, dari tiga bait puisinya berjudul "Perempuan Perkasa", sang penyair menggambarkan pertarungan antar desa-desa "mengepung" kota, yang direpresentasikan para wanita. Pertarungan itu dapat berarti pulang dengan kemenangan, atau tidak jarang, atau lebih sering dengan "un-succes story" . Tapi, kota telah menghisap dan menyedot mereka ke kota, mungkin sekedar mempertahankan hidup, adalah interpretasi paradoks yang disajikan sang Penyait.



"Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota"

Tapi, sang Seniman tidak mengarahkan kita untuk terjebak membela siapa menang, dan siapa kalah dalam judi di kota. Yang dominan ditonjolkan adalah gerak hidup, atau ditarik untuk mempertahankan hidup menuju kota, para wanita itu mempertahankan kegigihan dan kedig-dayaan cinta para wanita perkasa, ya para Ibu di desa (dan kota), untuk menghidupi desa demi desa. (Atau, Rumah Tangga demi Rumah Tangga, di perkotaan.)




"Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa"


Yang pasti ini, bukan sekedar ceritera atau permenungan wanita desa masuk kota, tetapi mengurainya rekat cinta para wanita yang bergerak dan memberi hidup pada geliat desa, dan tentu saja kota yang sering telah mereduksi nilai perjuangan wanita, mengaburkan, atau menganggap tidak ada.



Hartoyo menghantar kita sekedar malam datang, pesta pun berakhir, menunggu perlombaan bersama surya, di hari berikutnya. Di seluruh pelosok negeri, oleh semua wanita, bahkan para Tenaga Kerja Wanita, penyumbang Devisa teramat besar bagi Negeri Kartini ini. Namun, mereka sering kembali di atas roda baji, peti atau pengusung jenazah.


Baca dan renungkan sebelum tidur, dan bacalah do'a untuk para Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang rela meninggalkan Tanah Air, pangkuan Ibu Pertiwi, sekedar mempertahankan roda hidupnya, bahkan roda hidup negara ini, dan lupa pada petugas pajak.




PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja


Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota


Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Oleh Hartoyo Andangjaya


Berthy B Rahawarin

/berthybrahawarin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

berthy b rahawarin, aktivis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?