Makalah Sosiologi Ekonomi -- Konsumsi dan Gaya Hidup

20 Juni 2012 16:09:05 Dibaca :

BAB II


PEMBAHASAN




A. Konsumsi dan Gaya Hidup


Dalam sosiologi, konsumsi tidak hanya dipandang bukan sekedar pemenuh kebutuhan yang bersifat fisik dan biologis manusia, tetapi berkaitan dengan aspek-aspek social budaya. Konsumsi berhubungan dengan masalah selera, identitas, atau gaya hidup. Menurut ekonom, selera sebagai suatau yang stabil, difokuskan pada nilai guna., dibentuk secara individu, dan dipandang sebagai suatau yang eksogen. Sedangkan menurut sosiolog, selera sebagai suatau yang dapat berubah, difokuskan pada suatu kualitas simbolik suatau barang, dan tergantung persepsi selera orang lain.


Weber ([1922 1978)] berpendapat bahwa selera merupakan pengikat kelompok dalam (ingroup). Actor-aktor kolektif berkompetisi dalam penggunaan barang-barang simbolik. Keberhasilan dalam berkompetisi ditandai dengan kemampuan untuk memonopoli sumber budaya, sehingga akan meningkatkan prestis dan solidaritas kelompok dalam.


Sedangkan Veblen ([1899] 1973) memandang selera sebagai senjata untuk berkompetisi. Kompetisi tersebut berlangsung antar pribadi. Antara seorang dengan orang lain. Hal ini tercermin dalam masyarakat modern yang menganggap selera orang dalam mengkonsumsi suatu barang akan dapat melihat selera dasar dan penghargaan yang didapat .


Konsumsi dapat dipandang sebagai bentuk identitas. Barang-barang simbolik juga dapat menunjukkan kelompok pergaulannya. Simmel ([1907]1978:323) mengatakan bahwa ego akan runtuh dalam kehilangan dimensinya jika ia tidak dikelilingi oleh objek eksternal yang menajdi ekspresi dari kecenderungannya, kekuatannya dan cara individualnya karena mereka mematuhinya, atau dengan kata lain miliknya. Sebagai contoh, seorang pejabat yang meletakkan ensiklopedi dalam rak ruang tamu atau kantornya yang menandakan bahwa ia mampu membeli barang yang harganya relative mahal tersebut. Walau sebenarnya tidak pernah ia baca, sehingga dapat dikatakan hanya sebagai pajangan semata.



B. Hubungan Konsumsi dan Gaya Hidup


Webber ([1922]1978) mengatakan bahwa konsumsi terhadap suatu barang merupakan gambaran gaya hidup tertentu dari kelompok status tertentu. Konsumsi terhadap barang merupakan landasan bagi penjenjangan dari kelompok status. Sehingga situasi kelas ditentukan oleh ekonomi sedang situasi status ditentukan oleh penghargaan social. Misalnya, pada masyarakat pedesaan, status guru dan pedagang lebih tinggi guru walaupun pendapatannya lebih besar pedagang. Hal ini dikarenakan guru mempunyai peluang yang besar untuk mencari peluang tambahan. Sebagai contoh bekerja sampingan sebagai pedagang. Guru akan lebih berhasil dari pada pedagan tulen karena masyarakat menganggap guru adalah orang yang berpendidikan dan tidak mungkin berbuat curang. Sehingga orang akan cenderung berbelanja pada guru. Atau pada masyarakat perkotaan, para pengusaha berhak mendapat gelar bangsawan karena dia mampu memberi suatu sumbangan pada keraton. Walau ada pihak yang lebih berhak mendapat gelar tersebut.


Sedang menurut vablen ([1899] 1973), penghargaan social terhadap masyarakat luas terletak pada keperkasaan, misalnya perang. Sedang pada masyarakat industry terletak pada kepemilikan kesejahteraan seseorang. Juga pada konsumsi yang dilakukan sebagai indikator dari gaya hidup kelompok status.


Han peter Mueller (1989), mengatakan ada 4 pendekatan dalam memahami gaya hidup :


1. Pendekatan psikolog perkembangan : tindakan seseorang tidak hanya disebabkan oleh teknik, ekonomi dan politik, tetapi juga dikarenakan perubahan nilai.


2. Pendekatan kuantitatif social struktur : mengukur gaya hidup berdasarkan konsumsi yang dilakukan seseorang. Pendekatan ini menggunakan sederet daftar konsumsi yang mempunyai skala nilai.


3. Pendekatan kualitatif dunia kehidupan : memandang gaya hidup sebagai lingkungan pergaulan.


4. Pendekatan kelas : mempunyai pandangan bahwa gaya hidup merupakan rasa budaya yang direprodiksi bagi kepentingan struktur kelas.



C. Gaya Hidup dan Kelas Menengah Indonesia


Kelas menengah di Indonesia banyak dibicarakan karena dianggap sebagai agen penggerak kedinamisan masyarakat atau secara pendekatan konflik, kelas menengah adalah pendobrak kemapanan (politik dan ekonomi).


Aliran pemikiran


Dalam masyarakat, aliran pemikiran dikelompokkan dalam dua kutub, yakni arus pemikiran abangan dan arus pemikiran santri. Kedua arus pemikiran ini dapat ditaraik sebagai suatu gais kontinum, dimana pada satu sudut merupakan sumber arus pemikiran abangan sedangkan sudut lain merupakan sumber pemikiran santri.


arus pemikiran abangan arus pemikiran santri


Gambar : dikotomi aliran pemikiran di Indonesia


Perbedaan antara kedua arus tersebut berakar pada penghayatan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam agama serta pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam pemikiran santri, cara berbusana harus berdasarkan ketentuan agama, yakni menutup aurat. Tapi dalam pemikiran abanangan, boleh memakai rok mini karena dalam etika yang mereka anut tidak melarang hal demikian. Perbedaan yang demikian juga menorah pada kanvas sejarah politik Indonesia, yakni ketika pada orde lama terdapat partai Masyumi sebagai pemikiran santri dan Partai Nasional Indonesia sebagai arus pemikiran abangan.


Heterogenitas Kelas Menengah Atas


Dua arus pemikiran yang memberi warna pada kanvas kelas atas masyarakat Indonesia juga turut memberikan warna pada kanvas kelas menengah Indonesia. Dengan dasar pemikiran tersebut, kita dapat mengklasifikasikan kelas menengah Indonesia atas : (1) kelas menengah abangan; (2) kelas menengah santri.



kelas atas


kelas menengah


kelas bawah


arus pemikiran santri arus pemikiran abangan


Gambar : Struktur kelas dan arus pemikiran dalam gaya hidup manusia Indonesia


Dengan demikian setiap lapisan kelas mempunyai arus pemikiran yang berbeda. Inilah penyebab mengapa kelas menengah Indonesia tidak mampu menjadi agen pembaharu. Struktur kelas Indonesia terpotong oleh nilai-nilai yang diwarisi secara sejarah semenjak sebelum pergerakan kemerdekaan. Dalam persaingan untuk memperebutkan dan memperjuangkan kepentingan maka arus pemikiran yang ada dapat mengkristal menjadi kelompok-kelompok strategis.


Kelas menengah abangan diperkirakan lahir pada dekade 1970-an. Kemunculan kelas menengah abangan dirangsang oleh menguatnya arus ekonomi Jepang ke Indonesia dan kemapanan kekuasaan (politik dan ekonomi pada kelompok tertentu). Hal ini ditandai dengan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang digerakan oleh mahasiswa terutama Universitas Indonesia, yang diarahkan pada dominasi ekonomi Jepang pada perekonomian Indonesia dengan perusakan sesuatu yang berhubungan dengan Jepang, misalnya pembakaran mobil-mobil buatan Jepang.


Sedangkan kelas menengah santri diperkirakan lahir satu dekade setelah kelahiran kelas menengah abangan yaitu sekitar 1980-an. Kelahirannya ditandai dengan kemunculan studi-studi keagamaan di kampus-kampus elit di Indonesia. Kemunculan studi keagamaan tersebut merupakan reaksi terhadap ketidakmampuan gaya hidup “modern” untuk mengakomodasikan permasalahan kehidupan masyarakat seperti hak-hak asasi manusia, bank penyelamat semu keuangan, dan seterusnya. Perbedaan keduanya adalah demonstrasi disertai perusakan oleh kelas menengah abangan dan demonstrasi damai oleh kelas menengah santri.


Gaya Hidup Kelas Menengah Indonesia


Kelas menengah abangan mengikuti arus perkembangan gaya hidup yang ditawarkan melalui proses globalisasi, yaitu gaya hidup barat (Gerke, 1994). Mereka mengikuti perkembangan mode yang ditawarkan oleh perusahaan garmen internasional seperti kaos berlengan buatan Hammer atau Benelton, menikmati fast-food, misalnya seperti di restoran Mc Donald, di Pizza Hut, dan di Burger King.


Sedangkan kelas menengah santri mengikuti arus perkembangan gaya hidup yang mereka ciptakan sendiri yang dilandaskan pada nila-nilai keagamaan yang mereka anut. Mereka mengikuti perkembangan jilbab yang ditawarkan oleh Ida Royani atau rumah mode Ummi Collection, mengadakan liburan dengan melakukan kegiatan umrah ke Mekkah atau kegiatan shalat tarawih di Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawiah di Madinah, serta memakan makanan yang berlabel halal misal di restoran padang atau masakan nasional lainnya.


Jika kelas menengah abangan lebih suka meramaikan pasar swalayan dan menonton bioskop maka kelas menengah santri lebih suka menghadiri pengajian agama dari rumah ke rumah atau di masjid. Jika kelas menengah abangan lebih suka menikmati bunga yang ditamankan pada bank umum maka kelas menengah santri lebih suka menikmati hasil kerja sama dengan bank Islam, meskipun hasil yang diperoleh lebih kecil dari bunga yang didapat jika ditabung pada bank-bank umum.


Konsumsi Simbolik


Tidak semua anggota kelas menengah mampu mengkonsumsi barang-barang simbol kelas menengah secara nyata. Dengan kata lain mereka mengkonsumsi barang-barang simbol kelas menengah secara tidak langsung pada barang yang dimaksud tetapi melalui makna dari barang yang disimbolkan. Contohnya konsumsi simbol yang dilakukan kelas menengah abangan, orang-orang muda mengabiskan waktunya untuk duduk sambil makan di Mc Donalds atau Burger King. Dirumah mereka berjejer miniatur patung Liberty, Merlion yang semuanya menunjuk pada suatu tempat yang jauh dimana banyak orang yang ingin datang ke sana.


Hal yang sama juga dialami oleh kelas menengah santri, misalnya dalam rumah mereka pada ruang tamunya ditempel gambar Ka’bah atau Masjid Nabawiah Madinah walaupun mereka belum pernah berkunjung ke sana. Atau mereka memakai songkok putih yang lazim dipakai oleh para haji Indonesia sebagai pengenal telah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, padahal mereka belum pernah melakukannya di sana.


Dampak Ekonomi dari Gaya Hidup


Produsen yang berhasil adalah produsen yang mengetahui dan mengikuti perkembangan selera dari konsumen. Perkembangan kelas menengah santri telah pula menyebabkan menjamurnya rumah-rumah mode yang khusus memperlihatkan busana muslim dan muslimah seperti Ida Royani serta menjamurnya jumlah penerbit seperti “Gema Insani Press” dan “ Salahuddin”. Konsekuensinya dari hal tersebut adalah berkembangnya toko-toko yang khusus menjual produk-produk yang berhubungan dengan (simbol-simbol) keagamaan. Selain itu, munculnya tawaran-tawaran baru berumrah ke Mekkah atau berziarah ke tempat yang ada hubungannya dengan sejarah Islam. Semua itu dapat dipandang sebagai dampak ekonomi dari perkembangan gaya hidup dari kelas menengah santri Indonesia.


Sedangkan dampak ekonomi dari perkembangan gaya hidup dari kelas menengah abangan adalah muncul dan membesarnya kelompok perusahaan pasar swalayan seperti Matahari, Borobudur dan lainnya, dimana tidak hanya menjual barang-barang yang diproduksi untuk konsumsi dalam negeri tetapi juga menyajikan barang yang berkualitas ekspor. Kemudian banyak muncul bioskop twenty-one, pesatnya perkembangan media massa yang melakukan spesialisasi dan ekspansi pasar seperti Gramedia. Lajunya pertumbuhan dan perkembangan bank-bank swasta seperti BCA dan Danamon. Suburnya pertumbuhan pusat-pusat “kesegaran jasmani” yang menawarkan sejumlah aktivitas fisik yang dapat mempercantik dan memperindah tubuh seperti senam dengan berbagai macam jenisnya mulai dari tradisional sampai modern. Gerakan mempercantik tubuh ini berkembang seiring dengan arus informasi yang digulirkan lewat media komunikasi yang berskala internasional dan nasional, dimana menggiring peminatnya pada suatu opini tentang apa itu cantik, indah, molek, anggun dan lainnya.




















BAB III


PENUTUP




KESIMPULAN


Konsumsi berhubungan dengan masalah selera, identitas dan gaya hidup. Konsumsi dapat membentuk identitas seseorang dari barang-barang simbolis yang ia konsumsi. Hubungan antara konsumsi dan gaya hidup terbentuk ketika kita melihat seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang maka akan terlihat bagaimana gaya hidup mereka. Selain itu konsumsi dapat juga dijadikan acuan dalam penjenjangan suatu kelas social.


Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah bahwa penggerak kedinamisan dalam masyarakat adalah kelas menengah. Ketika kita menbedakan masyarakat kelas menengah dalam dua bagaian, yakni abangan dan santri, maka akan terlihat jelas bagaimana konsumsi dan gaya hidup yang terjadi pada dua kelompok tersebut. Mereka lebih suka berpegangan pada keyakinan masing-masing. Sehingga baik konsumsi dan gaya hidup kaum santri maupun abangan, masing-masing dari mereka telah berperan dalam perkembangan perekonomian nasional, walaupun dengan keyakinan dan pilihan sendiri-sendiri.







Bernadetta Beka

/bernad

Mahasiswa Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang bercita - cita menjadi seorang Violis ^_^)/
Belajar menulis ^^
Follow me on twitter @hallobernad

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?