Cinta Diam-diam Fatin dan Mika

04 Juli 2013 16:31:41 Dibaca :
Cinta Diam-diam Fatin dan Mika
Cinta Diam-iam fatin dan Mika (foto: kapanlagi.com)

“OM, Fatin pulang dulu, ya. Jangan lupa, besok malam harus datang!”

Om Darwis yang duduk di kursi sutradara, hanya mengangguk. Sebenarnya, ia tengah bersemangat menyelesaikan sinetron yang sedang digarapnya. Tapi, Fatin adalah seorang bintang. Ia sudah berpesan sejak kemarin bahwa hari ini hanya bisa syuting sampai sore. Sedangkan besok, ia ingin libur karena malamnya akan menggelar pesta ulang tahun ketujuh belas. Om Darwis nggak bisa berbuat apa-apa terhadap bintangnya itu.

Fatin berjalan menuju BMW hitam, yang diparkir tak jauh dari lokasi syuting. Mang Sanip langsung membukakan pintu untuknya.

“Langsung pulang, Non?” tanya Mang Sanip sambil menyalakan mesin mobil.

“Antar saya dulu ke rumah lama. Saya pengin ketemu Rosi dan Mika,” jawab Fatin . Ia ingin memastikan, kedua sahabat masa kecilnya itu datang ke pesta ulang tahunnya besok.

Mang Sanip menjalankan mobil dengan kecepatan yang sudah dihapalnya. Fatin nggak suka ia mengemudi terlalu lambat atau pun terlalu ngebut.

Di kursi belakang, Fatin melemparkan lamunannya jauh ke belakang. Masa kecil yang suram. Bahkan, untuk sebuah pesta kecil ulang tahunnya pun, mama nggak bisa menyelenggarakannya. Padahal, setelah Fatin menghadiri pesta ulang tahun Rima, ia ingin sekali mengundang teman-temannya ke rumah dan bertepuk tangan semuanya, setelah ia meniup lilin ulang tahun.

“Bikin aja pesta ulang tahun yang sederhana,” usul Rosi.

“Yang diundang, nggak usah banyak-banyak,” tambah Mika.

Fatin memandang kedua kakak-beradik di depannya. “Tapi, aku nggak punya uang,” timpalnya kemudian.

Rosi dan Mika berpandangan. “Pokoknya, besok ulang tahun kamu kita rayakan. Nggak usah bingung-bingung,” kata Mika kemudian.

Besok sorenya, Rosi dan Mika mengajak Fatin ke halaman belakang. Di bawah pohon nangka, mereka duduk di tanah. Mika mengeluarkan lima batang lilin putih, yang kemudian dipotongnya menjadi dua bagian. Sementara, Rosi mengeluarkan permen dan kacang kulit dari kantong plastik. Sepuluh batang lilin itu kemudian dinyalakan di atas tanah.

“Sekarang, kamu tiup lilinnya. Jangan lupa, minta sesuatu di dalam hati,” seru Mika.

Dengan girangnya, Fatin menuruti permintaan Mika. Suara tepuk tangan kemudian terdengar ,dan bersamaan pula suara Mika dan Rosi melantunkan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Mereka kemudian menghabiskan permen dan kacang kulit. Terakhir, Fatin sengaja menyanyikan sebuah lagu untuk kedua tamunya.

“Boleh kutahu, apa yang kamu minta tadi ketika meniup lilin?” usik Mika ketika pesta kecil itu berakhir.

“Aku nggak bisa memberi tahu kamu. Nanti nggak akan dikabulkan,” elak Fatin .

Mika mendengus kesal.

Fatin tertawa geli. Dan, ia terus menyimpan rahasia itu sampai sekarang. Pada saatnya nanti, Fatin berjanji akan membukanya.

Mobil yang dikendarai Mang Sanip, berhenti di dekat sebuah gang kecil. “Perlu diantar, Non?” tanya Mang Sanip.

“Nggak usah. Tolong tunggu aja, mungkin agak lama.”

Fatin melangkah memasuki gang. Inilah kampung halamannya.

Setahun lalu, Fatin masih tinggal di kawasan ini. Sampai ketika, Mika memaksanya mengikuti audisi nyanyi. Fatin terpaksa mengikuti permintaan Mika. Nggak nangka dia lolos, bahkan enam bulan kemudian menjadi juara kontes nyanyi di sebuah televise swasta.

Satu bulan kemudian, ia menandatangani kontrak album, lalu sinetron. Belum ditayangkan sinetronnya, ia mendapatkan kontrak dari sebuah produk kartu prabayar sebagai bintang iklan. Yang terhebat, Fatin terpilih sebagai penyanyi paling berbakat di Asia oleh sebuah produk jeans ternama di dunia.

Semua itu telah mengubah dunianya. Ia lantas memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih asri bersama keluarganya. Namun, sedikit pun Fatin nggak pernah melupakan masa lalunya.

Fatin berhenti sebentar di depan sebuah rumah kayu yang dulu pernah ditempatinya. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah sebelahnya. Sudah menjadi kebiasaannya, masuk ke rumah itu tanpa mengucapkan salam.

“Eh, ada bintang beken nyasar ke rumah kita!” Teriakan suara Rosi terdengar nyaring begitu melihat kedatangan Fatin .

Tiga orang yang ada di ruang tamu, langsung berebut memberi tempat untuk Fatin .

“Mika kok, nggak kelihatan?” tanya Fatin .

“Ada di kamar. Belakangan ini, kerjanya cuma bertapa. Mungkin, biar masuk SPMB nanti.”

Fatin langsung berjalan ke dalam. Ia mengetuk pintu kamar Mika, yang langsung terbuka tak lama kemudian. Nyaris Fatin tertawa lepas, ketika melihat rambut Mika dipotong model jabrik.

“Rupanya, kamu udah jadi cowok trendi sekarang!” komentar Fatin . Ia menggamit lengan Mika dan menyeretnya ke ruang depan, bergabung dengan Rosi, Ibu dan Pak Rusli.

“Pokoknya, semua yang ada di rumah ini, nggak boleh ada yang absen besok.”

“Kami sih, pasti hadir. Nggak tahu Mika, tuh. Katanya, bingung mau ngasih kado apa,” sahut Bu Rusli.

“Bawain aja kacang kulit sama permen kayak dulu,” timpal Rosi.

“Ide bagus. Sekalian sama lilin putihnya,” Fatin melirik ke arah Mika. Tapi, tak ada reaksi.

Percakapan berlangsung terus. Lama-lama, Fatin menyadari, Mika memang tak mau membuka mulutnya sama sekali. “Ada apa sih, dengan Mika? Kok, diam melulu dari tadi?” usik Fatin .

“Lagi stres kali. Biarin aja. Kalo mau jadi pengusaha, kan harus belajar stres.”

HP Fatin berbunyi. Setelah bicara sebentar, Fatin kemudian terpaksa pamit karena harus kembali ke rumah. Rosi mengantarnya sampai mulut gang.

“Sekarang, abangku memang berubah. Dia paling benci kalo di teve ada iklan kamu. Bahkan, kalo dulu getol nonton sinetron kamu, sekarang belum apa-apa, semalaman nggak ada di rumah,” ucap Rosi ketika hendak berpisah.

Fatin mengangguk. Mungkin kesalahan ada pada dirinya. Dan, ia berjanji akan membenahi dirinya.

^_^

MALAM pesta ulang tahun Fatin begitu meriah. Fatin tampil seperti bidadari yang diutus para dewa. Dibalut sutra putih dengan potongan sederhana, Fatin tampak bersahaja. Ia memang sengaja tampil tak terlalu glamor di pestanya. Ia ingin menunjukkan kepada tamunya, kepribadiannya jauh menarik daripada atribut yang menempel pada dirinya.

Tidak lelah Fatin menyalami dan melempar senyum kepada tamu-tamunya. Senyumnya kian mengembang, ketika keluarga Bu Rusli datang menghampirinya. Rosi kelihatan ceria didampingin pacarnya. Tapi, di mana Mika?

“Mika nggak ikut bareng, Ros?’ tanya Fatin berbisik kepada Rosi.

“Bilangnya mau nyusul. Habis pas mau berangkat tadi, dia belum siap-siap. Jadi kami tinggal aja.”

Fatin menarik napas pelan. Diliriknya arloji bertahtakan berlian di pergelangan tangannya. Acara puncak masih sekitar setengah jam lagi. Ia langsung menerobos deretan tamu. Lewat pintu samping gedung megah itu, Fatin menyelinap ke luar dan langsung menuju mobil kesayangannya. Ia mengendarai sendiri mobilnya dan memacunya dengan kecepatan di atas biasanya.

Fatin tahu, Mika pasti nggak akan datang ke pestanya. Entah apa alasan Mika memperlakukan Fatin seperti itu. Tapi Fatin yakin, ia harus bicara empat mata dengan cowok itu, malam ini juga.

Fatin memarkirkan mobilnya tak jauh dari mulut gang. Ia merasa perlu menguncinya dengan hati-hati. Beberapa orang di sepanjang gang menyapanya. Langkahnya amat tergesa-gesa hingga nyaris tak menggubris tegur sapa beberapa orang yang dilewatinya. Tangannya langsung membuka pintu rumah Mika begitu sampai. Nggak dikunci. Berarti, Mika masih ada di rumahnya. Namun, sewaktu Fatin membuka kamar Mika, ia tak menemukan sosok Mika.

Fatin terpana sebentar di dalam kamar Mika. Begitu banyak gambar dirinya memenuhi dinding kamar Mika. Sadar akan tujuannya, Fatin buru-buru menerobos ke belakang rumah. Didapatinya Mika tengah duduk di bawah pohon nangka. Sementara, di dekatnya beberapa batang liling menyala, sebagian padam tertiup angin malam

“Mika, kenapa kamu nggak mau ke pestaku?”

Mika terperanjat mendengar suara itu. Setelah melihat sebentar, ia tertunduk dalam. Tangannya sibuk menyalakan lilin putih yang padam

“Kita harus membicarakannya. Kamu jangan membuat aku serbasalah gini,” desak Fatin seraya duduk di samping Mika.

“Aku memang nggak ingin datang ke pestamu. Kulakukan untuk menjaga perasaan dan hatiku sendiri.”

“Menjaga dari apa?”

“Dari mimpi-mimpi yang terlalu mengawang.”

“Sederhanakan kalimatmu. Aku nggak ngerti.”

“Dari dirimu. Kamu semakin jauh ke atas langit. Kamu adalah bintang sekarang, yang tak mungkin lagi kudekati.”

“Jangan aneh gitu. Lihatlah ke arahku. Aku masih di bumi. Duduk pun sekarang aku masih di tanah. Baiklah, aku ngerti yang kamu maksud. Aku memang sudah berbeda dengan yang dulu. Tapi, aku nggak pernah ngelupain sedikit pun gimana aku dulu. Aku masih sering main ke sini. Heh, bukankah dulu kamu yang justru membukakan pintu bagiku menuju ke dunia yang berbeda ini?”

Mika memandang ke arah Fatin . Ia seperti melihat bidadari impian hatinya.

“Aku juga memahami perasaanmu. Tapi, kenapa kamu nggak pernah mau memahami perasaanku? Aku ini cewek. Seperti yang lainnya, aku cuma bisa menunggu ungkapan perasaan seseorang. Termasuk … perasaanmu terhadapku yang sebenarnya.”

Mika terpengarah. “Aku ….”

“Jangan kamu katakan kalo memang sulit. Tapi, sikapmu yang berubah belakangan ini, meyakinkanku bahwa kita ternyata menyimpan perasaan yang sama. Tadinya, aku ingin mendesakmu pada pesta ulang tahunku. Aku ingin mengumumkan tentang hubungan kita di depan orang banyak. Dan, itu masih bisa kita lakukan, kalo kamu mau ikut denganku sekarang.” Fatin berdiri menunggu reaksi Mika.

Tapi, Mika malah menarik telapak tangan Fatin , untuk kembali duduk di dekatnya. “Kamu nggak pengin kita rayain dulu ulang tahunmu berdua? Tiuplah nyala lilin putih ini, seperti yang dulu pernah kamu lakukan. Jangan lupa, untuk mengajukan permintaan dalam hati,” pinta Mika.

Fatin tersenyum. Ia menuruti apa yang dipinta Mika.

“Boleh kutahu, apa yang kamu pinta tadi?” tanya Mika kemudian, setelah lilin-lilin putih itu padam.

“Masih sama dengan yang dulu pernah kupinta.”

“Dulu, kamu nggak mau mengatakannya.”

“Aku minta agar Rosi bisa menjadi saudaraku dan kamu menjadi pendampingku kelak. Itulah yang kupinta dulu. Ya, sejak dulu aku memang sudah punya pikiran konyol, kamulah calon suamiku. Kamulah yang menjadi pangeran dalam setiap lamunanku. Aku nggak pernah mengharapkan cowok lain, kecuali kamu, Mika.”

“Sudah, sudah. Ayo, kita berangkat! Kamu terus membuatku melayang-layang.”

Fatin tertawa pelan. Berdua mereka berjalan menuju pesta lain yang lebih besar. Sementara di langit, bintang-bintang dan rembulan berlomba menerangi kebahagiaan cinta mereka.

^_^

Benny Rhamdani

/bennybhai

TERVERIFIKASI (BIRU)

Menulislah hal yang bermanfaat sebanyak mungkin, sebelum seseorang menuliskan namamu di nisan kuburmu. http://bennyrhamdani.com/ | follow @bennyrhamdani_
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?