Yang Gratis Yang Wajib Kritis

27 Juni 2012 05:24:06 Dibaca :
Yang Gratis Yang Wajib Kritis
B2174N *DOK PRIBADI

Udah dikasih gratis mbok' ya jangan protes aja. Tidak berminat dengan mengetahui lebih lanjut Mbok Ya itu  sebetulnya Simbok-nya siapa,  saya lebih tertarik dengan pernyataan bahwa gratis itu gak boleh kritis. Tentunya, berkaitan dengan blog keroyokan Kompasiana yang saat ini memang kita tumpangi beramai ramai dengan cara gratis . Ibarat sebuah lapangan bermain yang terbuka umum untuk publik, Kompasiana memang terbuka bagi siapa saja.    Sang pengelola lapangan disini adalah para administrator. Memberikan fasilitas. Adalah hak para administrator apabila mereka mau mengecat pagar lapangan dengan warna yang mereka sukai, mengganti rumput dengan sintetis atau asli dan membuat taman yang indah di tengah lapangan apabila memang diperlukan. Dan yang jelas, mereka pun berhak untuk menjual space di sekitar lapangan untuk kepentingan iklan yang berkontribusi untuk perawatan bahkan perluasan lapangan bermain itu tadi. Para pengguna, adalah para Kompasianer sendiri.  Riuh ramai dengan lapak mereka masing masing. Tak jarang banyak yang tak punya lapak, hanya sekedar mampir untuk bertegur sapa.  Selama koridor atau peraturan yang telah diberikan oleh para pemilik lapangan  sebagai satu satunya syarat untuk ikut bermain di lapangan dipenuhi dan ditaati, ya monggo. Silahkan ikut bermain disini. Tangan terbuka dan jabat erat bagi mereka yang ingin ikut nimbrung disini. Semuanya memang tidak dipungut biaya alias gratis.  Ya tentunya dengan sendirinya, rasa ikut memiliki atau 'sense of belonging' tentu tumbuh. Tidak buang sampah sembarangan,  ramah tamah terhadap para pengguna taman yang lain semestinya dilakukan. Semestinya, karena memang masih ada yang belum melakukannya. Ada yang melanggar, ya sah saja di apabila di persilahkan dengan hormat untuk keluar dari lapangan.  Aturan dibuat untuk menghindari faktor like or dislike.   Sesimpel itu, tidak ada yang rumit dalam mekanismenya. Tapi apakah benar para pengguna itu memang hanya gratisan disini. Sehingga ada yang beranggapan, supaya jangan terlalu kritis kepada para pengelola lapangan?  Secara prinsip, memang maaf maaf saja, para Kompasianer tidak dipungut biaya.  Tapi 'value'  atau nilai disini tetap ada. Lapangan yang penuh sesak dan padat dengan para pengunjung, itulah nilai sebenarnya.  Saat seorang pengiklan yang mempunyai produk yang dirasa 'cocok' dengan kebanyakan para pengunjung di lapangan tersebut, saat itu nilai jual lapangan tersebut ditentukan.  Sering ada petugas survey yang jalan jalan kan? Anda pernah mengisinya? Saat itulah anda sedang berkontribusi pada lapangan untuk memberikan profil anda yang sebenarnya.  Lamanya anda menggunakan, seringnya anda menggunakan lapangan, dan juga bagaimana cara anda menggunakan lapangan sehingga para pengunjung baik yang permanen maupun tidak permanen berbondong bondong memadati lapangan. Saat itulah value, atau 'nilai' dari lapangan menjadi semakin berharga bagi para pengiklan yang ingin memasang baliho produk mereka di pinggir lapangan. Inilah nilai, atau value, bagaimana para pengguna lapangan dan penikmat  dan pengunjung jadi sedemikian 'penting'  bagi para pengelola lapangan. Jadi maaf maaf saja, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para pengelola lapangan, saya dan yang lainnya bukan sekedar 'numpang' disini.  Kamilah aaset sebenarnya bagi para pengelola lapangan.  Nama bisa berganti ganti, tapi jumlah baik pemakai dan pengunjung adalah nilai sebenarnya lapangan ini. Lagipula, siapa bilang karena gratis gak boleh kritis?  Bukannya sebaliknya, karena kebaikan para pemilik lapangan pun para pengguna lapangan merasa ada rasa ikut menjaga dan memiliki lapangannya sendiri? Yang kurang sebenarnya hanya satu dari para pengguna lapangan disini. Apresiasi kepada para "keeper" alias admin. Ada kesalahan sedikit langsung sejuta ummat maju mengkritisi.  Tapi sangat kurang,  rasa apresiasi kepada mereka yang hadir sebagai teman, wasit dan juga ikut sebagai warga di lapangan yang hijau ini. Jadi, terima kasih ya ! Kritis itu bukan persoalan gratis atau bayar. Atau sekedar numpang dan yang lainnya. Kritis itu karena rasa memiliki. Yakin deh. Yakin  gak? Yakin dong ....

Baskoro Endrawan

/baskoro_endrawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Like to push the door even when it clearly says to "pull" You could call it an ignorance, a foolish act or curiosity to see on different angle :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?