Dan Kartini Itu Bernama Ahok

22 April 2017 06:10:08 Diperbarui: 22 April 2017 09:15:52 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Dan Kartini Itu Bernama Ahok
sikapmu sendiri. Quotes Ra Kartini . sumber:informasitips.com

Ahok lengser dari jabatan Gubernur DKI kemudian jualan kebaya? Atau malah kondean ?

Bukan. Bukan itu maksud dari judul artikel ini. Dan jangan sekali sekali membayangkan seorang Basuki Tjahaya Purmana memakai kebaya lengkap dengan sanggulan nya. Kalau itu bayangan anda saat membaca artikel ini, anda berarti entah seorang pendukung yang die hard, atau disisi lain seorang pembenci yang die hard pulak. Sepertinya gak pernah ada yang setengah setengah atau " so-so" ( sambil telapak tangan digoyang ) saat ngomongin Ko Ahok. Harus pro, atau harus kontra. Jarang atau tidak ada yang ditengah tengah. 

Lantas, siapa kemudian sosok Kartini yang bernama Ahok itu?

Apakah dia seorang wanita yang juga gemar ngomong pedas " Pemahaman Nenek Lu" , sosok yang bisa sedih saat mendengar keluhan warga atau sosok yang mukanya tiba tiba berubah kecut beringas saat mendapatkan laporan tentang ketidak beresan yang terjadi pada pelayanan warga? Ibu Risma maksudnya?

Bukan juga Beliau. Meski kalau ada sosok "Ahok Wedok" ( Amit nyuwun sewu sanged nggih, Ibu RIsma) yang mungkin mendekati figur tersebut adalah Ibu Risma. Atau bisa jadi Ibu Susi yang ngetop dengan meme Tenggelamkan Saja dan bahkan apresiasi dari Bangsa Jepang pun dituangkan kedalam Manga golgo yang menceritakan keperkasaan seorang Ibu Susi dalam menenggelamkan kapal kapal ikan ( nelayan;red) negara tetangga. Dalam manga yang berisi 'jeritan hati' itu, mereka bahkan berharap kapan Jepang bisa setegas Indonesia dalam hal Tenggelamkan Saja Ala Ibu Susi ?

Jepang berharap seperti Indonesia ? Ketemu pirang perkoro, coba ? 

Tenggelamkan ! sumber: tribunews.com
Tenggelamkan ! sumber: tribunews.com

Lantas, siapa sebetulnya Kartini yang bernama Ahok itu? Karena jelas ia bukan wanita betulan, dan sepertinya ia hanya kiasan. Jawabannya benar. Memang tidak ada Kartini yang bernama Ahok sebetulnya. 

Ini hanya sebuah penggambaran, dimana pada saat ini berita tentang seorang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok lebih menyita perhatian mayoritas pengguna media sosial saat ini, ketimbang pada peringatan Hari Kartini pada 21 April 2017 lalu. Sepertinya Pilkada masih membekas. Antara pihak yang pro dan pihak yang kontra. Yang terus terang menyisakan pertanyaan besar di penulis dan mungkin juga sebagian besar dari kalian para pembaca. Apakah seorang Ahok sebegitu pentingnya bagi diri kalian sehingga wajib dinista sedemikian rupa, atau disisi yang berseberangan di bela seolah olah tidak ada orang baik lainnya yang ada diluaran sana?

Secara subyektif, meski jujur kesal saya malah lega amanah untuk Gubernur DKI yang selanjutnya tidak jatuh ke Ahok. Jatuh kesiapa, enggak penting, justru asal bukan Ahok. Bahkan untuk mengingat ingat siapa yang mendapatkan amanah untuk menjadi Gubernur DKI pun sudah tidak terlalu penting bagi saya. Karena memang bukan warga DKI, tentu boleh lah berpikiran seperti itu.  Dan yang lebih penting lagi ?

Ahok dan Anies| (Kompas.com/David Oliver Purba)
Ahok dan Anies| (Kompas.com/David Oliver Purba)

Bukan sok suci, tapi ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang jalannya sistem secara benar, dan tentang amanah.

Mestinya, fokus kita bersama adalah kesana. Bukan ke SIAPA sosok atau orangnya.  

Siapa pun orang yang memegang amanah menjadi Gubernur DKI atau pemegang amanah di roda pemerintahan yang lain, tidak menjadi masalah apabila SOP baku tentang pelayanan masyarakat yang benar sudah terlaksana. Bukan siapa sosoknya, namun program kerja nya lah yang harus dikawal bersama. Terlebih, bukan pula keyakinan sosok yang dipercaya atau dipilih untuk melayani masyarakat secara umum. Ini esensi yang (sepertinya) kita sedang banyak lupa. 

Persetan apa kata Daniel Ziv yang berkicau di burung biru dengan kata kata kurang lebih Indonesia sedang dimasa kegelapan bla bla bla. Lha kuwe ki sapa ? Kok sok tau bilang Indonesia begini dan Indonesia begitu? Lha kalau emang kamu pikir, Daniel, kalau Indonesia tidak pantas dapet pemimpin begini dan begitu, emang menurut kamu selama ini tidak ada orang baik di pemerintahan atau pelayanan di Indonesia? Atau bahkan kedepannya nanti ? 

Lha kalau emang sedari dulu 'tidak ada', kamu ngapain masih disini dari tahun (officialnya) 1999? Ngawasin Indonesia dari Mei 98, atau gimana? Mau nuduh kamu yang ngomporin dari dulu sampai sekarang, tapi tidak bisa kan? Dan jangan pakai alasan "karena saya cinta Indonesia" atau apalah. I am Indonesian, I was born as an Indonesian, and no doubt that I am more Indonesian than your Canadian Passport.  By All means, Daniel, ngomong sama tembok aja sana .

kicauan sotoy daniel siv. Kuwe ki sapa, Nil? sumber : Twitter @DanielZiv
kicauan sotoy daniel siv. Kuwe ki sapa, Nil? sumber : Twitter @DanielZiv

Saya, dan warga Indonesia yang lain tidak perlu petuah kompor politik mu tentang bagaimana menjadi orang Indonesia atau apa yang baik dan tidak bagi Indonesia. Dan bagi kalian yang termanggut manggut tersepona setuju dengan petuah katrok ini ( dan bahkan sempat ngeshare dengan bangga) ,  tolong jangan diulangi lagi ya. Seabrek orang baik yang masih peduli akan nasib bangsa ini masih terus menerus bekerja untuk Indonesia. Tidak pernah mendengar nama mereka, atau bahkan prestasi mereka bukan berarti mereka tidak ada. Ahok adalah seorang yang baik. Setuju dengan pendapat ini. 

Tapi terus menerus meratapi? Bagi yang melakukan, bukan lah seorang pendukung Ahok sejati. Dan hanya pemalas lah yang hanya berpangku tangan dan pasrah nasib sebuah daerah dan bahkan bangsa di tangan beberapa gelintir orang saja. Apabila anda memang betul betul menghargai semangatnya, ya teruslah berkarya. Memperbaiki sikap itu lebih baik ketimbang nangis bombay ala India, atau nangis kimchi ala drama Korea. Itu, menyebalkan.

Hak pilih yang tempo lalu dipergunakan, juga mesti dipergunakan dengan baik dengan mendukung calon yang terpilih. 

Kata Kang Mick Jagger dalam bahasa Sunda nya, "You Can't Always Get What You Want. But if you try sometimes well you just might find. You get what you need "  Jangan fokus pada apa yang kita mau, tetapi mencoba fokus kepada apa yang kita butuhkan. 

Anda mau ( atau tidak mau) Ahok, atau lebih penting fokus pada sisi Pemerintahan dan Pelayanan yang Profesional, Bersih , Efisien, Efektif dan Maju? Mana yang lebih penting? 

Pilkada DKI ini sebuah pelajaran. Yang sialnya, tidak hanya pelajaran bagi warga DKI saja, namun secara keseluruhan.  Ke sisi yang manapun, ada satu pelajaran penting yang dapat diambil dimana ketidak solid an kita sebagai sebuah Bangsa yang besar sangatlah rawan. Masih banyak lubang yang rawan dapat disusupi yang dapat memporak porandakan tatanan yang sudah berjalan apik. Banyak pihak yang tidak ingin kita bersatu sebagai sebuah bangsa yang besar.

Ingat lho, kita adalah bangsa yang besar. Kapan kita mau ( bersama sama) sadar akan hal ini ? 

Mungkin ( dan berharap banyak) bahwa hanya kami di level akar rumputlah yang ribut seperti ini. Sementara tatanan baik politis dan ekonomis di level menengah dan atas sejatinya masih bahu membahu bersama mencoba untuk membawa Indonesia maju satu langkah secara perlahan, namun progresif. Tapi apabila level grassroot lah yang ternyata lebih banyak menentukan nasib suatu bangsa dan bergerak atau tidaknya, maka kacaulah kita.

Karena entah disadari atau tidak, kita mendapat nilai merah di ujian yang lalu.  Saat ini masih masalah menang atau kalah, itu bukan target sebenar benarnya. Saat masih ada pihak yang merasa menang atau dikalahkan, itu bukan satu hasil diskusi atau negosiasi yang sama baik.

Mudah mudahan ( Hari) Kartini, masih belum basi. Dan disini harus setuju dengan kata mutiara Raden Ajeng Kartini :

"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang dapat benar-benar menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri "

Baskoro Endrawan

/baskoro_endrawan

TERVERIFIKASI

Like to push the door even when it clearly says to "pull" You could call it an ignorance, a foolish act or curiosity to see on different angle :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana