Humaniora highlight

Merdeka [Dengan dan Tanpa] Bendera

14 Agustus 2017   11:25 Diperbarui: 14 Agustus 2017   11:42 83 5 0
Merdeka [Dengan dan Tanpa] Bendera
http://www.voa-islam.com/photos6/sidikadi/apakah-kita-sudah-merdeka.png

Ketika Agustus tiba, kita berbondong-bondong dan sibuk memancangkan bendera Merah Putih berikut ornamen-ornamen pendukung di setiap depan rumah, perkantoran, motor dan tempat-tempat lainnya. Pun demikian, imajinasi membawa kita pada suasana perlombaan-perlombaan, karnaval dan hiruk-pikuk yang tak lepas dari nuansa kemerdekaan, bahkan dalam konteks kekinian, jika absen dari hal tersebut, tak sedikit cibiran masyarakat akan terlontar dan sangat mungkin "dikonotasikan" sebagai anti NKRI, anti Pancasila, tidak memiliki nasionalisme, tidak menghargai jasa pahlawan, atau sebutan sejenisnya. Hal tersebut disatu sisi tidak ada salahnya guna menghormati dan memperingati kemerdekaan Indonesia. Namun apakah dengan melakukan ritual simbolis tersebut kemerdekaan bangsa ini benar-benar terpatri dan cukup mewakili dalam mengisi kemerdekaan?

Memahami Makna "Merdeka"

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "kemerdekaan" berasal dari asal kata "merdeka" yang dapat dipahami dalam beberapa interpretasi. Pertama, Merdeka dapat bermakna bebas dari penghambaan, penjajahan, penindasan dan sebagainya. Kedua, Merdeka berarti mandiri, tidak tergantung pada orang atau pihak tertentu. Ketiga, tidak terpengaruh oleh siapapun dan apapun.

Pemahaman pertama diatas dapat dipahami bahwa seseorang dinyatakan merdeka dari segala bentuk penghambaan yang dapat mengekang, menindas dan menjajah seseorang atau sebuah bangsa/negara. Dalam pemahaman kedua dapat dipahami bahwa sebuah kemerdekaan dan kegiatan untuk mengisi kemerdekaan dibutuhkan sebuah perenungan dan perencanaan matang dan sesegera mungkin untuk selalu mandiri dan tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu dalam menjalani kehidupan sehari-hari dalam rangka menghirup kebebasan dan kemerdekaan. Tentu pemahaman ini dapat menimbulkan berbagai macam konsekuensi.

Mandiri tidak berarti lepas dari semua pengaruh orang/pihak lain. Mandiri dalam konteks ini adalah bagaimana kita bisa memilih dan mau melakukan pilihan kita tersebut untuk menjadikan kita dan orang lain bergerak maju menuju keadaan yang lebih baik dan lebih bermanfaat dari sebelumnya. Pemahaman merdeka yang ketiga lebih mendasar lagi. Kemerdekaan yang bermakna tidak terpengaruh oleh siapapun dan apapun dapat dipahami bahwa dalam menentukan sikap dan tindakan seorang yang dikatakan merdeka adalah mereka yang mampu membangun dirinya sendiri dan membawa orang lain untuk lebih memiliki tujuan yang baik dan dibarengi dengan sikap hendak ingin merubah keadaan yang tidak baik dari pengaruh orang lain menjadi lebih baik.

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib RA memaknai merdeka dengan "Jangan sampai keserakahan memperbudakmu karena Allah telah menjadikanmu seorang yang merdeka" (Lihat: Mizanul Hikmah 1/582, Bab Ghurar al-Hikmah No. 10317). Pendapat Ali R.A tersebut memberi penekanan dalam memaknai kemerdekaan berupa sikap dan tindakan kita harus merdeka dari keserakahan yang datang dari diri sendiri dan merdeka dari keserakahan yang datang dari orang lain.

Jika ditelisik lebih mendalam, merdeka dari keserakahan yang datang dari diri sendiri dapat bermakna kita harus bebas dari setiap tindakan kita yang serakah terhadap orang lain, tindakan kita yang menyebabkan orang lain tertindas, menyengsarakan orang lain, membuat orang lain tidak nyaman dan menghilangkan sifat egois dan menang sendiri yang selalu muncul dalam diri kita sendiri sehingga tidak dapat memahami kondisi orang lain dan tidak mau berbuat untuk menghilangkan ke-ego-an kita sendiri yang cenderung menganggap remeh orang lain sehingga tidak ada sikap dan tindakan untuk menghargai orang lain dan mungkin dalam era saat ini tidak mudah percaya kabar hoax dan jangan menyebar hoax juga masuk dari konteks ini. Melihat pemahaman itu, tentu sangat tidak cukup hanya memaknai merdeka dengan fenomena gegap gempita Agustus-an sebagaimana terurai diatas bukan?

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2017/03/27/826804/content_images/670x335/20170327203839-1-tan-malaka-006-ramadhian-fadillah.jpg
https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2017/03/27/826804/content_images/670x335/20170327203839-1-tan-malaka-006-ramadhian-fadillah.jpg

Nah, dalam konteks persoalan diatas, memahami kemerdekaan dengan gegap gempita menjadi dangkal dan multi tafsir. Apakah dengan memajang bendera, mengikuti perlombaan dan hiruk pikuk suasana peringatan kemerdekaan sudah cukup memberi representasi dari pemahaman merdeka pada pengertian diatas? Menurut hemat saya, secara sederhana sah-sah saja jika memancang bendera, mengikuti perlombaan tujuhbelasan dipahami sebagai bentuk membangun spirit kemerdekaan dan memupuk nasionalisme. Namun menjadi tidak cukup ketika kemerdekaan direfleksikan secara mendalam dan substansial.

Oleh karena itu, pemahaman kemerdekaan menjadi dangkal jika memahami kemerdekaan hanya sekedar melalui membangun suasana seremonial dan simbolik semata dengan pemancangan dan pemasangan bendera dan menggelar perlombaan tanpa melakukan aktivitas yang berusaha membangun dan bangkit dari kondisi saat ini menjadi lebih baik lagi dan tentu selalu mengajak orang lain melakukan hal sama menuju sesuatu yang lebih baik, sehingga kita selalu berjalan dalam koridor visi dan misi "manusia yang baik adalah manusia yang dapat memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungannya" benar-benar terpatri dan terwujud dalam diri kita semua sehingga kemerdekaan benar-benar dapat kita isi sepanjang tahun tanpa harus menunggu bendera terpancang. Semoga demikian. Merdeka. #Memandang Indonesia dari Raung; 14.8.2017