Gelar S. Ramdhani
Gelar S. Ramdhani

Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain (Hadits) | Untuk silaturahmi dengan saya bisa melalui instagram @gelarsramdhani

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Surat Terbuka untuk Menteri Perhubungan RI

6 Agustus 2017   14:40 Diperbarui: 8 Agustus 2017   11:34 739 1 0
Surat Terbuka untuk Menteri Perhubungan RI
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (sumber gambar: elshinta.com)

Yth. Menteri Perhubungan

Bapak Budi Karya Sumadi

di. Jakarta


  • LATAR BELAKANG

Penulis sebagai warga negara Indonesia, merasa bangga mempunyai Menteri Perhubungan seperti anda, kenapa bangga? karena jika penulis amati setiap pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh anda, mengisyaratkan bahwa anda adalah seorang Menteri Perhubungan yang memiliki pandangan serius terhadap pembangunan transportasi umum di Indonesia. Seperti yang saya kutip dari media Bisnis.com, anda mengatakan pada tanggal 30/05/2017 "LRT itu lebih efisien tiga kali lipat dari bus dan bus lima kali lipat lebih efisien dari kendaraan pribadi, sehingga layanan bus ini harus diselenggarakan secepatnya dengan tingkat pelayanan yang baik"sumber berita

Sebagai Menteri yang bertanggung jawab mengurusi transpotasi, sudah seharusnya urusan tata kelola angkutan atau transportasi umum menjadi salah satu agenda prioritas anda. Karena seperti yang kita ketahui bersama, kalau masalah transportasi (baca: kemacetan) di Indonesia sudah menjadi "penyakit" yang tidak kalah menakutkan dari ancaman terorisme. 

Macet Parah (sumber gambar: geotimes.co.id)
Macet Parah (sumber gambar: geotimes.co.id)

Bagaimana Indonesia tidak macet, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah perkembangan kendaraan bermotor terus mengalami kenaikan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun, terutama pada sepeda motor dan kendaraan pribadi. Tahun 2015 saja jumlah mobil penumpang sudah sebanyak 13.480.973 (sumber data), angka tersebut terus mengalami kenaikan. Sedangkan kenaikan jumlah kendaraan tidak sejalan dengan penambahan ruas jalan, akibatnya terjadilah kepadatan atau kemacetan.

Data Perkembangan Jumlah Kendaraan (sumber: BPS)
Data Perkembangan Jumlah Kendaraan (sumber: BPS)

Kenapa dalam paragraf sebelumnya saya mengatakan kalau kemacetan tidak kalah menakutkan dari bahaya terorisme? Masih ingatkah tragedi "kemacetan maut" yang terjadi pada tahun 2016 di Brebes, Jawa Tengah yang memakan korban jiwa hingga belasan orang? (berita: 12 Orang Meninggal Dunia Akibat Terjebak Maut Macet Horor di Brebes) Jadi kita semua tidak bisa menganggap sepele masalah kemacetan ini. 

Apabila penulis memperhatikan Pemerintah Presiden Joko Widodo, pemerintah memang sedang terfokus pada pembangunan infrastruktur,  -walapun banyak juga pihak yang menilai bahwa pembangunan masif yang dilakukan Presiden Jokowi dibiayai oleh hasil pinjaman atau hutang, it's okitu urusan ekonomi dan politik, mari kita kembali ke pembahasan transportasi masal! - Pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintahan Jokowi salah satunya adalah pembagunan transportasi, sebut saja pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Dalam berbagai kesempatan yang saya amati di media, anda (Pak Menteri) dan Gubernur Jawa Barat Bapak Ahmad Heryawan sangat optimis bahwa Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Biasa beroperasi tahun 2018. Saat ini tahun 2017 artinya kurang lebih hanya 1 (satu) tahun lagi Bandara kebangaan masyarakat Jawa Barat bisa digunakan. 

  • MASALAH

Hadirnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Harus betul-betul menjadi solusi transportasi masyarakat Indonesia, dalam arti solusi yang mampu mempercepat pertumbuhan perekonomian Bangsa Indonesia khususnya perekonomian masyarakat Jawa Barat.

Jangan sampai hadirnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal khusunya oleh masyarakat Jawa Barat. Atau lebih parahnya lagi, dengan hadirnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Malah membuat transportasi di Indonesia semakin bermasalah, sebut saja macet!

BIJB butuh bis airport yang layak untuk penumpang (sumber gambar: cdn.tmpo.co)
BIJB butuh bis airport yang layak untuk penumpang (sumber gambar: cdn.tmpo.co)

Menurut analisa sederhana yang dilakukan penulis sebagai warga Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dalam hal transportasi umum, ada beberapa potensi masalah yang dapat terjadi, apabila tidak diantisipasi dengan baik, diantaranya:

  1. Letak Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) berada di Majalengka. Mungkin bagi warga masyarakat sekitar Kabupaten Majalengka, seperti Kab/Kota Cirebon, Kab Kuningan, Kab Indramayu, Kab Sumedang, dan Kab Subang tidak menjadi masalah karena jaraknya dekat, dan ada akses Tol Cipali dan Tol Cisumdawu, serta kendaraan umum juga sekitar itu banyak. Akan tetapi bagaimana dengan masyarakat Jawa Barat lainnya yang ingin menggunakan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB)? Sebut saja warga Jawa Barat yang berada di wilayah Kab Ciamis, Kab/Kota Tasikmalaya, Kab Garut, Kota Banjar, Kab Pangandaran, dan sekitarnya? jangan sampai jawabannya "ya, naik kendaraan pribadi lah".Memang seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini transportasi umum (bis) dari daerah Ciamis dan sekitarnya ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka sudah ada, akan tetapi sangat tidak memenuhi standar angkutan pemadu moda dari dan ke Bandara.
  2. Karena transportasi umum (darat) yang memenuhi standar angkutan pemadu moda dari dan ke Bandara, yang menghubungkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dengan setiap kota di Jawa Barat, belum tersedia. Maka dikhawatirkan keberadaan Bandara ini tidak dapat dirasakan sempurna manfaatnya oleh masyarakat Jawa Barat. Sekali lagi, kalau masyarakat disuruh naik mobil pribadi ke Bandara, itu bukan solusi tepat, itu sama saja dengan mendorong pertumbuhan kemacetan di sekitar Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). 
  • SOLUSI

Dalam kesempatan yang baik ini, penulis ingin memberikan saran dan masukan kepada Bapak Menteri Perhubungan Republik Indonesia serta seluruh instansi yang terkait dengan ini. Masukannya adalah: 

Bapak Menteri Perhubungan RI, mulai saat ini harus sudah mendorong jajaran terkait untuk merealisasikan angkutan umum menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka. Tentunya angkutan umum yang layak, aman, nyaman, tepat waktu, terjangkau, dan efisien.

Penulis ingin memberikan masukan juga terkait trayek angkutan umum yang penulis maksud, yaitu:

Jakarta - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) - Majalengka - Ciamis - Pangandaran *Disertai angkutan pengumpan (feeder)

Mari kita perhatikan peta yang penulis buat dibawah ini:

Jakarta - BIJB - Pangandaran (sumber gambar: google dimodifikasi)
Jakarta - BIJB - Pangandaran (sumber gambar: google dimodifikasi)

Mungkin pertanyaan Bapak Menteri, kenapa harus"Jakarta - BIJB - Majalengka - Ciamis - Pangandaran?"

  1. Selain menghubungkan warga masyarakat Jawa Barat di daerah Ciamis dan sekitarnya ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), jalur ini juga bisa digunakan warga Jabodetabek yang akan ka Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).
  2. Angkutan ini nantinya tidak hanya khusus ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) saja, tapi bisa digunakan untuk alternatif angkutan umum dari Jakarta ke Ciamis, Pangandaran bahkan ke Jawa Tengah (lewat Tol Cipali). Untuk Bapak Menteri ketahui rute tersebut saat ini sudah menjadi primadona warga Jakarta yang akan ke Ciamis dan Jateng Selatan, menghindari macet di Nagreg - Malangbong - Gentong (info rute Jakarta - Tol Cipali - Majalengka - Ciamis - Jateng bisa dilihat[Alternatif] Jakarta - Ciamis - Jateng via Tol Cipali)
  3. Mendorong perekonomian masyarakat Jawa Barat yang dilalui jalur angkutan umum ini
  4. Mengubungkan Jakarta dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), dengan destinasi favorit Jawa Barat yaitu Pantai Pangandaran. Termasuk mempermudah akses turis baik dalam ataupun luar negeri yang mendarat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) untuk berwisata ke Pangandaran
  5. Masyarakat Ciamis, Tasik, Banjar, Pangandaran, Majalengka, Kuningan banyak yang bekerja atau merantau ke Jakarta.  Dengan adanya angkutan rute ini juga bisa menjadi alternatif pilihan masyarakat.

Ilutrasi Bis Bandara (sumber gambar: 1.bp.blogspot.com)
Ilutrasi Bis Bandara (sumber gambar: 1.bp.blogspot.com)

Dalam mengoptimalkan trayek atau jalur angkutan umum ini, diperlukan juga angkutan pengumpan (feeder),yang menghubungkan antara kota-kota disekitar rute tersebut, dengan bis ini. Sehingga masyarakat yang daerahnya tidak terlewat bis ini, juga bisa memanfaatkan bis ini.

Ilustrasi Angkutan Feeder (sumber gambar: pbs.twimg.com)
Ilustrasi Angkutan Feeder (sumber gambar: pbs.twimg.com)

Adapun untuk teknis jadwal keberangkatan, pihak perusahaan angkutan sepertinya jauh lebih memahami. Dalam kesempatan ini juga, penulis turut mengundang pihak perusahaan angkutan atau perusahaan otobis (PO) untuk memulai membuka layanan angkutan trayek ini. Tidak lupa saya berpesan kepada Bapak Menteri kalau ada pemerintah daerah yang mempersulit perizinan trayek atau izin usaha angkutan umum, sebaikanya Bapak tertibkan saja, mental-mental pejabat daerah yang demikian adalah mental pejabat yang sudah "kuno", mereka tidak berfikir maju kedepan, atau mungkin mereka kurang piknik ke negara-negara maju, sebab di negara maju transportasi umum itu adalah NOMOR SATU!

Demikian surat dari saya, semoga Allah SWT memberikan petunjuk serta kekuatan dalam mengemban amanah sebagai Menteri Perhubungan Republik Indonesia, sehingga dunia perhubungan Indonesia maju ditangan anda, dan ingat sejarah akan mencatat nama anda, buatlah bangga anak cucu anda.

Majalengka, 06 Agustus 2017

Best Regards,

GSR |Instagram |Facebook 

Tembusan: Gubernur Jawa Barat (Bapak Ahmad Heryawan)

*****

Terima kasih atas waktu anda untuk membaca tulisan saya, silahkan klik disini untuk membaca tulisan saya lainnya di Kompasiana.com

Apabila anda ingin bersilaturahmi dengan saya bisa melalui Instagram@gelarsramdhani FacebookGelar S. Ramdhani atau Twitter@gelarsramdhani

Terima Kasih, Hatur Nuhun