Kidung Pemut 2A

02 Desember 2016 17:57:44 Diperbarui: 02 Desember 2016 18:09:50 Dibaca : Komentar : Nilai :

Dalam tulisan sebelumnya, aku mengatakan bahwa pada hakekatnya Agama adalah untuk membangun manusia dan sama sekali bukan untuk membangun negara atau daerah. Oleh karena itu, mari kita baca kitab suci yang kita yakini masing - masing dengan bahasa yang kita pahami dan kita kaji makna bathiniyahnya melalui rasa yang merasakan ( Jawa = roso pangroso), mudah – mudahan akan ditemukan makna hakiki dari perintah dan petunjuk Tuhan tersebut.

Dari sabda Nabi “Kenalilah dirimu niscaya mengenal Tuhanmu”, wajibnya ditindak lanjuti dengan pertanyaan kepada diri sendiri “Siapa Aku”. Lalu mencari jawaban melalui kitab suci yang diyakini. Benarkah agama untuk membangun manusia, mari kita kaji bersama rangkaian kidung pemut diawali bait kedua berikut. Karena aku penganut Islam sudah barang tentu Al Qur’an yang mendasarinya, sedangkan bagi saudara-saudaraku yang non Islam silahkan menggunakan ayat yang sesuai dalam kitab suci yang diyakini masing – masing.

Hee manungso kang cinipto dening Kang Moho Suci

Gumregah tangi iro margo kaparingan Roh Suci

Siro kabeh pinercoyo ngregem amanat Suci

Podho reksanen dhimen gangsar sowan Kang Moho Suci

Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut.

Hai manusia yang diciptakan oleh Yang Maha Suci

Bangkit berdiri karena diberi Ruh Suci

Kamu semua dipercaya mengemban amanat suci

Peliharalah supaya lancar menghadap Yang Maha Suci

Dalam bait ke 2 ini manusia  diingatkan,  bahwa  manusia  diciptakan Tuhan atas 2 unsur besar yaitu : Unsur yang dapat dilihat oleh mata atau kasat mata ( nyata / lahiriyah ) dan unsur yang tidak dapat dilihat oleh mata atau tan kasat mata ( ghaib /  batiniyah ).

Mari kita bersama – sama mengikuti alur penciptaan manusia sebagai berikut. Surat Al Mu’minuun ayat 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.Surat Al Mu’minuun ayat 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).Surat Al Mu’minuun ayat 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Pertanyaannya, apakah dari ayat – ayat tersebut sudah dapat disimpulkan, bahwa itu adalah manusia? Belum, karena itu baru unsur lahiriyahnya yang biasa disebut wadag atau jazad manusia saja. Karena itulah sebagian orang, mengatakan bahwa jazad atau wadag manusia hanyalah merupakan sangkar, ada pula yang menyebut sandangan atau pakaian belaka, sedangkan Ruh Suci terperangkap didalamnya.

Setelah dibentuk menjadi bentukan yang paling baik diantara mahluk ciptaan Tuhan, kemudian ditiupkan Ruh Suci kedalamnya; Maka sempurnalah menjadi manusia, sebagaimana difirmankan dalam surat Shaad ayat 72:  Maka  apabila  telah   Kusempurnakan   kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.Senada dengan bunyi ayat tersebut adalah surat  Al Hijr ayat  29 : Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya,dan telah meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.Dari ayat - ayat tersebut, tentulah dapat dipahami bahwa Ruh Suci langsung berasal dari Yang Maha Suci.                                               

Kalau Ruh Suci langsung berasal dari Yang Maha Suci, mungkinkah manusia itu memiliki sifat – sifat layaknya Yang Maha Suci? Mungkin dan benar sekali, karena manusia diciptakan menurut fitrah Allah dan fitrah Allah tidak mengalami perubahan, sebagaimana ditunjukkan dalam surat Ar Ruum ayat 30Maka hadapkanlah  wajahmu  dengan  lurus  kepada agama( Allah );( tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.                                   

Namun kita harus selalu ingat dan waspada, meskipun sifat – sifat yang dimiliki manusia, sesungguhnya sama dengan sifat – sifat Yang Maha Suci, sudah barang tentu dengan kadar kesucian dibawah-Nya bila kita tidak dapat menjaganya. Mengingat Ruh Suci atau  Nur  Illahi  tadi  terperangkap  dalam  sangkar, berupa wadag atau jazad manusia yang ketempatan hawa nafsu. 

Pertanyaan selanjutnya, apakah wadag atau jazad manusia itu hanya diciptakan untuk satu golongan atau satu kelompok atau satu keyakinan tertentu saja? Oo tidak. Ditunjukkan dalam   surat Ar Ruum ayat 22:Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain - lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar – benar terdapat tanda - tanda bagi orang - orang yang mengetahui.

Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahuinya. Sehingga sampai detik ini, masih sering kita mendengar ucapan yang menyatakan, bahwa kalau tidak menggunakan bahasa ini tidak sah. Atau kalau tidak menggunakan bahasa ini, tidak afdol. Kita juga masih sering mendengar, ooo gara – gara dia si kulit sawo matang, ooo gara - gara dia si kulit hitam, ooo gara – gara dia si kulit putih, ooo gara – gara dia si kulit kuning dan ooo gara-gara dia warna kulit lainnya, maka tatanan menjadi rusak misalnya.

Allah Tuhan Yang Maha Pencipta saja menghendaki manusia berlain-lainan bahasa, berlain – lainan warna kulit, kok kita yang derajatnya hanya sebagai manusia ciptaan Allah, mau menyatukan bahasa orang sedunia dan mempertentangkan warna kulit. Sudah benar dan tepatkah yang kita lakukan selama ini? Mari kita evaluasi sendiri diri kita, mumpung masih ada waktu untuk memperbaikinya. Mengingat waktu yang telah terbuang, tidak dapat dimintakan gantinya lagi. Hendaklah kita menyadari dan memahami, bahwa adanya perbedaan warna kulit dan perbedaan bahasa itu adalah kehendak Yang Maha Pencipta, dan bukan atas kemauan manusia yang diciptakan.

Kecuali itu, ditunjukkan pula dalam surat Al Hujuraat ayat 13 : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku - suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.Dalam ayat inipun dinyatakan, bahwa adanya bangsa ini dan adanya suku bangsa ini, adalah kehendah Yang Maha Pencipta agar diantaranya saling kenal mengenal, dan bukan atas kemauan manusia yang diciptakan.

Tetapi kenyataan menunjukkan diantaranya bukan berupaya untuk saling mengenal, tetapi justru diantaranya malah saling hujat menghujat. Diantaranya, justru saling benci membenci. Diantaranya, justru saling fitnah memfitnah. Diantaranya, justru saling hasut menghasut. Diantaranya, justru saling salah menyalahkan. Dan lain - lain perbuatan buruk, yang justru bertolak belakang dengan kehendah Allah Tuhan Yang Maha Pencipta, dan yang justru akan dapat menurunkan kadar kesucian diri sendiri.

Allah menghendaki, manusia berbangsa - bangsa dan bersuku – suku. Sudah barang tentu masing - masing bangsa dan suku bangsa, memiliki adat istiadat dan budaya yang berbeda. Seperti kita orang Indonesia, hendaklah merasa bangga bila menggunakan budaya dan adat istiadat Indonesia, apapun agama yang dianutnya. Jadi tidak usahlah kita lalu latah dan memaksakan, untuk menggunakan bahasa, adat istiadat dan budaya bangsa dan atau suku bangsa lain. Karena memang sudah ditunjukkan, bahwa sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu (surat Al Hujuraat ayat 13). Tidak ada disebutkan orang yang paling mulia adalah : kelompok tertentu, suku tertentu dan bangsa tertentu.   

Ruh Suci inilah yang diamanatkan atau dipercayakan kepada manusia, untuk selalu menjaganya dan jangan malah mengingkarinya. Sebagaimana ditunjukkan dalam surat Al Anfal ayat 27 : Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan ( juga ) janganlah kamu mengkhianati amanat – amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Sehingga pada saatnya nanti, Ruh Suci dapat kembali kesisi Yang Maha Suci dengan lancar tanpa hambatan. Hanya sangat disayangkan, tidak semua manusia mengetahui. 

Dari uraian tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah umat yang satu. Karena berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta, dan pada saatnya kelak kembali kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Pertanyaanya, benarkah manusia itu merupakan umat yang satu? Benar, untuk penjelasan selengkapnya, akan aku  sampaikan dalam artikel selanjutnya.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article