FEATURED

Setya Novanto, Dari Sopir Pribadi Hingga Ketua DPR RI

19 November 2015 18:52:49 Diperbarui: 30 November 2016 20:20:29 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Setya Novanto, Dari Sopir Pribadi Hingga Ketua DPR RI
Setya Novanto (foto: kompas.com)

Nama Setya Novanto (Setnov), Ketua DPR RI belakangan ramai menjadi gunjingan paska dirinya dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Dibalik berkibarnya karier politiknya, ternyata perjalanan hidupnya penuh warna. Ia pernah menjadi sopir pribadi karibnya di Jakarta, berikut catatannya.

Setnov, lahir di Bandung, Jawa Barat tanggal 12 November 1955 bukanlah politisi kemarin sore. Kiprahnya di panggung politik nasional sudah dimulai sejak orde baru berkuasa, sosoknya dikenal liat, supel dan ligat dalam pergulatan politik. Ketika Golkar tengah terpuruk di tahun 1999, dirinya tetap mampu menjinakkan konstituen hingga terpilih menjadi anggota DPR RI.

Karier politiknya terus melaju, sehingga secara berturut- turut, nama Setnov tetap bertengger di Senayan. Tercatat, ia duduk sebagai wakil rakyat mulai periode 1999-2004, 2004-2009,2009-2014 dan 2014-2019. Kepiawaiannya bernegoisasi di internal partai, akhirnya membuahkan hasil. Tahun lalu, dirinya ditetapkan sebagai Ketua DPR RI. Sebuah jabatan yang prestisius untuk ukuran seorang mantan sopir pribadi.

Menyandang predikat sebagai orang nomor satu di Senayan, ditambah jabatannya di Partai Golkar selaku Bendahara Umum, tak pelak, sepak terjang Setnov menjadi sangat leluasa. Ruang geraknya terbentang luas, praktis, tak ada tembok tebal yang mampu menghambat. Seperti dilansir tempo.co,  sebelum tersandung kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, ia diduga terlibat beberapa perkara besar di tanah air.

Nama Setnov jadi bahan perbincangan publik saat terjerat kasus Bank Bali, di mana PT Era Giat Prima yang berkongsi dengan Djoko S Tjandra selaku pemilik Mulia Group, menjadi tukang tagih cessie Bank Bali di empat bank yang sudah dilikuidasi penguasa. Pitutang sebesar Rp 904 miliar, sukses dicairkan. Konon, dirinya mengantongi fee cukup besar, lebih dari separo duit tagihan.

Setnov semakin sering disebut di beberapa kasus korupsi seperti suap anggaran Pekan Olahraga nasional di Riau, permainan tender kartu tanda penduduk elektronik hingga dugaan suap terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang sekarang berada di bui. Di luar kasus- kasus tersebut, pertemuannya dengan Donald Trump di Amerika Serikat juga menuai kecaman. Namun, perlahan semuanya mereda.

Sopir Pribadi Hayono Isman

Usai lulus dari SMA 9 Jakarta (dulu SMA 70 Bulungan), tahun 1973 Setnov merantau ke Surabaya, Jawa Timur. Selain kuliah di Fakultas Ekonomi  Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, ia bekerja di berbagai tempat. Di antaranya di PT Sinar Mas Galaxy sebagai staf penjualan dan di sebuah dealer mobil.

Setelah mengantongi gelar sarjana muda, Setnov pindah kerja ke PT Aninda Cipta Perdana milik rekannya sesama SMA, yakni Hayono Isman (sekarang politisi Partai Demokrat). Di perusahaan penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik ini, dirinya dibebani tanggung jawab menggarap pemasaran wilayah Surabaya serta Nusa Tenggara Timur (NTT). Seringnya wira wiri  ke NTT, membuatnya sangat dikenal oleh masyarakat setempat, sehingga saat Pemilu Legislatif, dia tiga kali mewakili daerah tersebut.

Merasa kariernya di Surabaya agak mentok, tahun 1979, Setnov kembali ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Trisakti. Kendati begitu, pekerjaannya di perusahaan penyalur pupuk tak dilepasnya. Terkait hal itu, ia menumpang tidur di rumah Hayono Isman di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Di rumah sahabatnya, dirinya memiliki profesi tambahan sebagai sopir pribadi.

Statusnya sebagai sopir pribadi ini, dibenarkan oleh Hayono Isman yang selain merupakan karibnya semasa SMA, juga menjadi majikannya ketika berada di Jakarta. Untuk biaya kuliah di Universitas Trisakti, Setnov bekerja serabutan. Mulai mencuci mobil, membuka jasa foto kopi hingga menjadi pengemudi. “ Setya tipe pekerja keras dan gigih,” kata Hayono.

Karena melihat keuletan sahabatnya, Hayono pernah berkongsi dengan Setnov untuk mendirikan perusahaan distributor semen. Sayang, hanya berusia 2 tahun perusahaan tersebut berhenti karena kalah bersaing. Meski begitu, Setnov tak patah arang, ia terus berupaya berbisnis. Jatuh bangun dan lika liku perdagangan telah ia lalui.

Nasip baik Setnov mulai terlihat saat ia dipercaya mertuanya untuk mengelola sebuah SPBU di kawasan Cikokol, Tangerang. Semenjak menikahi putri Brigadir Jendral Sudharsono yang mantan Waka Polda Jawa Barat, jalan menuju sukses sepertinya semakin terbentang. Bisnisnya terlihat terus berkembang, apa lagi ketika dirinya mengenal tokoh- tokoh penting di ibu kota. Nampaknya, keberhasilan tinggal menunggu waktu saja.

Hingga Setnov menyelesaikan pembangunan proyek Nagoya Plaza di Batam, ia memiliki naluri bahwa pulau ini mampu dikembangkan menjadi lokasi wisata. Celakanya, lahan- lahan strategis ternyata telah dikuasai para konglomerat seperti Ciputra, Liem Sioe Liong hingga Sudwikatmono. Dirinya berfikir keras, dari tiga sosok tersebut, harus ada yang bisa didekatinya. Pilihannya ada pada diri Sudwikatmono.

Pilihannya mendekati Sudwikatmono yang sepupu Presiden Soeharto memang tepat, tetapi bukan suatu perkerjaan yang mudah. Agar mampu bertemu, Setnov berhari- hari menunggu sang konglomerat di lapangan parkir. Ia biasa menanti sejak pk 06.00 hingga pk 22.00. Kendati awalnya Sudwikatmono menolaknya, namun berkat keuletannya berdiplomasi, akhirnya Setnov diberi kesempatan mengerjakan proyek di Batam.

Proyek perdana yang digarap Setnov bersama Sudwikatmono yakni padang golf kelas internasional yang luasnya mencapai 400 hektare dengan investasi sebesar US$ 100 juta. Usai menuntaskan pekerjaan yang diberi nama Talvas Resort Islan Batam tersebut, berikutnya berbagai gawean lain segera susul menyusul. Semuanya tetap menggunakan pengaruh Sudwikatmono. Di jaman itu, siapa sih yang tidak mengenal Sudwikatmono ?

Kedekatan Setnov dengan Sudwikatmono, akhirnya membuat dirinya mampu memasuki lingkungan Cendana. Pintu Cendana semakin terbuka lebar ketika ia menulis buku mengenai Soeharto. Semenjak itu, praktis Setnov kerap hadir di acara makan- makan anak- anak Presiden ke 2 itu. Mengenal keluarga Cendana, adalah suatu berkah tersendiri. Sebab, tak semua orang sanggup melakukannya.

Karena keluarga Cendana pula, karier politik Setnov mulai berkibar. Meski ia tercatat sebagai anggota Kosgoro sejak tahun 1974, namun rekam jejak politiknya terlihat berkibar ketika orde baru tumbang, tepatnya di tahun 1999. Dirinya berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI melalui Partai Golkar. Lengkap sudah kehidupannya, bisnis lancar, politik pun berkibar.

Duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, rupanya membuat Setnov ketagihan. Di setiap Pemilu Legislatif berikutnya, namanya selalu lolos menjadi DPR. Hal itu bisa dimaklumi, seiring dengan makin pesatnya bisnis yang dia geluti, maka pihak DPP Partai Golkar pun meliriknya hingga ia ditunjuk menjadi Bendahara. Posisi itulah yang mengantarnya ke jabatan Ketua DPR RI.

Itulah sedikit gambaran perjalanan bisnis dan politik yang dilakoni Setnov, ia telah melalui seleksi alam yang kejam. Dalam bisnis mau pun politik, nyaris kerap diwarnai intrik- intrik yang semuanya dihalalkan. Bila sekarang dirinya telah termakan intrik kolaborasi  bisnis serta politik, mampukah dia berkelit dari tubir jurang politik ? Kita tunggu perkembangannya, sebab, selama ini Setnov dikenal liat. Beberapa isu yang menerpanya, terbukti bisa diselesaikan secara “adat”. (*)

Inspirasi artikel: Setya Novanto, Penjual Madu yang Menikahi Anak Jenderal

Bambang Setyawan

/bamset2014

TERVERIFIKASI

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana