PILIHAN HEADLINE

Di Salatiga, Bakul Nasi Pun Rutin Berbagi

17 Maret 2017 17:01:29 Diperbarui: 17 Maret 2017 22:56:21 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Di Salatiga, Bakul Nasi Pun Rutin Berbagi
KS menyambangi anak- anak berkebuhan khusus (foto: dok KS)

Aktivitas sosial bisa dilakukan oleh siapa pun, di mana pun tanpa mengenal sekat agama maupun profesi. Demikian pula yang dikerjakan komunitas Kuliner Salatiga (KS) Kota Salatiga. Kelompok para bakul (pedagang) nasi tersebut secara rutin kerap berbagi rejeki. Seperti apa kiprahnya, berikut catatannya untuk Kompasiana.

Komunitas KS resminya dibentuk tanggal 18 Maret 2014, di mana salah satu penggagasnya adalah Mahfudin yang biasa disapa Al Mahfud. Dengan tujuan membangun satu kebersamaan antar penjaja kuliner yang disebut sebagai bakul nasi, akhirnya sekitar 50 orang pedagang se-Kota Salatiga menyambut secara antusias.

“Setelah KS terbentuk, kita juga main di dunia maya yang total membernya mencapai 41.000 orang. Hanya karena member datang dari berbagai kota, maka yang aktif melakukan kegiatan sosial di Salatiga berkisar 50- 100 orang,” kata Al Mahfud, Jumat (17/3) sore.

Anggota KS sebelum berangkat berbagi (foto: dok KS)
Anggota KS sebelum berangkat berbagi (foto: dok KS)

Memiliki base camp di Radio Suara Salatiga Jalan Pemuda, ada yang unik atas keberadaan KS ini. Atas kesepakatan anggotanya, mereka tak pelit berbagi. Menurut Al Mahfud, setiap bakul nasi apa pun jenis dagangannya, menjelang tutup akan membagikan sisa dagangan kepada kaum dhuafa. “Sedangkan seminggu sekali, kami berkeliling ke beberapa panti asuhan untuk menyerahkan bingkisan,” ungkapnya.

Berbagai barang hasil sumbangan anggota KS biasanya dikumpulkan di sekretariat, selanjutnya didistribusikan ke pihak-pihak yang membutuhkan. Hanya karena faktor cuaca, belakangan aktivitas ini kerap terganggu sehingga dalam satu hari hanya dibatasi di dua lokasi. “Apa pun barang sumbangan anggota KS, Insya Allah selalu kami sampaikan pada yang berhak,” tuturnya.

Biasanya, sebelum mengeksekusi panti asuhan yang jadi sasaran, personil KS akan melakukan konfirmasi tentang kebutuhan di tempat yang dituju. Setelah mengantongi data, barulah berbagai barang seperti sembako, keperluan mandi hingga pembalut disiapkan. Hingga hari H, rombongan bakul nasi pun bergerak menuju sasaran.

Ada hal yang cukup menggembirakan di mana anggota KS yang memang heterogen, datang dari berbagai strata dan agama, ternyata dalam berbagi tak pernah memilah target. Jadi, tidak mengherankan bila beberapa personil perempuannya yang berhijab, tanpa ragu mendatangi panti asuhan yang dikelola oleh para suster Katholik. “Kami tak pernah menganggap agama sebagai sekat untuk berbagi,” kata salah satu anggota KS.

Menurutnya, ada semacam kepuasan tersendiri saat berbagi. Terlebih lagi saat mengunjungi salah satu panti asuhan yang memiliki anak asuh berkebutuhan khusus, melihat anak-anak yang matanya berbinar ketika mendapat kunjungan. Seakan rasa lelah yang mendera langsung sirna.

Berbagai barang yang akan disumbangkan (foto: dok KS)
Berbagai barang yang akan disumbangkan (foto: dok KS)

Membina Bukan Membinasakan

Kuatnya kekerabatan di antara personil KS ternyata mampu menghapus persaingan tak sehat yang biasa terjadi pada pedagang kuliner tradisional. Dalam group Facebook yang mereka bentuk pun, satu sama lainnya saling memberikan dukungan sehingga kesan iri maupun bersaing lenyap ditimpa persaudaraan. “Apa lagi ketika gelar kopi darat bulanan yang dilakukan sebulan sekali, segala pembatas itu rasanya tak pernah ada,” ujar Al Mahfud.

Memang, komunitas KS sebulan sekali secara rutin menggelar hajatan bersama-sama. Selain saling mengakrabkan sesama anggota, biasa juga dibahas berbagai aksi sosial berikut rencana kerja. Salah satu contohnya, kerja sama dengan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) untuk bimtek, Jumat (17/3) pagi tadi.

Berbagi tanpa sekat apa pun (foto: dok KS)
Berbagi tanpa sekat apa pun (foto: dok KS)

Prinsip membina bukan untuk membinasakan para bakul nasi juga dilakukan dengan menggandeng Dinas Koperasi & UMKM Kota Salatiga, di mana para pelaku kuliner didorong mengikuti bimbingan keterampilan yang diadakan instansi tersebut serta diberikan kesempatan menerima pinjaman lunak yang digulirkan. “Untuk itu, rencananya bulan Desember mendatang kami akan menggelar festival kuliner di Salatiga yang bakal diikuti ratusan peserta,” ungkap Al Mahfud.

Apa pun langkah yang dilakukan oleh para bakul nasi di Kota Salatiga ini sepertinya layak diapresiasi. Dengan segala keribetan serta rutinitas keseharian yang kadang tak mengenal waktu, mereka masih menyempatkan diri berbagi. Tak berlebihan memang barang yang diberikan, tapi beragam barang kebutuhan tersebut diberikan kepada orang yang tepat.

Itulah sedikit catatan tentang komunitas KS yang rajin berbagi rejeki terhadap dhuafa, maupun orang-orang yang membutuhkannya. Langkah kecil yang menginspirasi ini kiranya mampu menular ke daerah lainnya. Percayalah, di luar sana, banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Kalau bakul nasi saja mampu berbagi, terus kapan bakul rumah maupun mobil akan ikut berbagi? Salam berbagi untuk sesama! (*)                                                                                                   

Bambang Setyawan

/bamset2014

TERVERIFIKASI

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana