Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Beginilah Sisa Kejayaan Pabrik Gula Peninggalan Belanda

11 Januari 2017   15:19 Diperbarui: 11 Januari 2017   23:34 1769 31 24
Beginilah Sisa Kejayaan Pabrik Gula Peninggalan Belanda
Pabrik gula Gondang Baru (foto: dok Bamset)

Pabrik Gula Gondang Baru yang terletak di Kabupaten Klaten, didirikan pada tahun 1860, oleh pemerintahan kolonial Belanda masih bercokol di bumi pertiwi. Setelah 157 tahun berdiri, seperti apa kondisinya sekarang? Berikut gambarannya.

Setelah cukup lama ingin bertandang ke Pabrik Gula Gondang Baru (PGGB) yang berlokasi di Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, akhirnya, Rabu (11/1) siang, niat tersebut terealisasi. Produsen gula yang terletak di Jalan Raya Klaten - Jogja ini, menempati lahan hampir 14 hektar yang penuh pepohonan tua sehingga suasananya terasa sejuk di tengah sengatan matahari.

Usai memarkir kendaraan, seorang anggota satpam menghampiri. Setelah mengetahui keinginan saya untuk “blusukan” ke areal pabrik, ia meminta saya agar koordinasi di bagian informasi. Beruntung, kendati saya hanya mengenakan celana pendek plus kaos yang tertutupi jaket kumal, saya ditemui oleh Joko Indarto, selaku manajer operasional PGGB. Usai komunikasi singkat, dirinya bersedia mendampingi saya berkeliling pabrik. Keramahan pria berumur 30-an tahun ini layak diapresiasi.

Begini kemegahan rumah administraturnya (foto: dok bamset)
Begini kemegahan rumah administraturnya (foto: dok bamset)

Menurut Joko, PGGB dulunya bernama Pabrik Gula Gondang Winangoen (PGGW) yang didirikan tahun 1860 oleh NV Klatensche Maats Chapij yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Sedangkan operasionalnya ditangani NV Mirandotte Voute & Co yang berkedudukan di Semarang. “ Operasionalnya menggunakan mesin-mesin tenaga uap,” jelasnya.

Dipimpin oleh seorang Administratur berkebangsaan Belanda, PGGW benar-benar mengalami masa kejayaan. Maklum, lokasinya memang sangat strategis, saat itu wilayah Klaten, Boyolali dan sekitarnya merupakan lahan tebu yang luas. Guna mendukung produksi, perusahaan menggunakan sarana transportasi berupa kereta api uap. Otomatis, dibuat jalur rel tersendiri yang mengarah ke pabrik.

“Kalau sekarang, kita hanya produksi di bulan Mei hingga Oktober, tepatnya saat masa panen. Selebihnya, mesin-mesin menganggur. Karyawan hanya bertugas melakukan perawatan,” tuturnya.

Mesin giling raksasa bertenaga uap (foto: dok Bamset)
Mesin giling raksasa bertenaga uap (foto: dok Bamset)

Mirip Mesin Kapal Titanic

Sembari berjalan, Joko menunjuk gedung besar yang sekarang difungsikan menjadi homestay. Dulunya, di jaman pemerintahan kolonial Belanda, rumah berarsitektur Eropa tersebut menjadi tempat tinggal Administratur. Sisa-sisa keangkuhannya masih terlihat jelas, di mana, selain berhalaman luas, di bagian belakang terdapat taman yang lumayan panjang sehingga dari kejauhan terlihat Gunung Merapi yang eksotik.

Tiba di bangunan kuno yang berfungsi sebagai pabrik, orang akan terpana dengan bentuk fisik gedung raksana ini. Tinggi atapnya sekitar 15 meter, sedang luasnya saya tak mampu menghitungnya. Nampak mesin- mesin giling uzur yang menggunakan tenaga uap. “Di sini satu-satunya pabrik gula yang mesinnya menggunakan tenaga uap, bahan bakarnya sekarang memakai kayu karet,” kata Joko.

Mesin giling buatan tahun 1928 (foto: dok bamset)
Mesin giling buatan tahun 1928 (foto: dok bamset)

Berada di ruangan pabrik, dengan mesin-mesin raksasa dan ketel-ketel raksana, siapa pun yang pernah menonton film Titanic, maka kita serasa ada di ruang mesin kapal lagendaris tersebut. Di sini, Joko menjelaskan sedari awal bahan baku berupa tebu digiling, kemudian dialirkan ke ketel raksasa, sampai menjadi berbagai produk gula untuk dipasarkan.

Dari penjelasan Joko, bisa ditarik simpulan, ternyata perwujudan sesendok gula pasir harus melalui proses produksi yang rumit, mulai penanaman tebu, panen, pengiriman ke pabrik, penimbangan, penggilingan, hingga pengepakan. Semuanya memerlukan regulasi yang memakan waktu dan tenaga. “Makanya waktu itu, kita punya kepala masinis sendiri yang menempati rumah dinas di areal pabrik,” ungkapnya.

Mesin-mesin giling raksasa yang ada di PGGB, ternyata dibuat beragam. Salah satu mesin giling tertua dibuat tahun 1884 oleh Perancis. Sementara untuk pengangkutan, lokomotif tertua adalah loko merek Linkehofman buatan tahun 1923. Sayang, lokomotif tersebut sekarang teronggok tak berdaya, jauh dari kesan terawat.

Ketel raksasa berusia ratusan tahun (foto: dok bamset)
Ketel raksasa berusia ratusan tahun (foto: dok bamset)

Setelah sempat terheran-heran dengan mesin-mesin giling raksasa, Joko mengajak penulis memutari pabrik. Di sini terlihat beberapa rumah dinas yang telantar, padahal kondisi fisik bangunannya masih terlihat bagus. Hingga tiba di menara air, kembali timbul keheranan. Pasalnya, bangunan menara tidak menggunakan beton bertulang. Kendati begitu, mampu bertahan ratusan tahun. Memang, sebuah bangunan bakal bertahan di segala jaman bila pengerjaannya tak dikorupsi.

Menara air tanpa menggunakan beton bertulang (foto: dok bamset)
Menara air tanpa menggunakan beton bertulang (foto: dok bamset)

Dalam catatan, pabrik gula ini di tahun 1930-1935 sempat tidak berproduksi akibat krisis ekonomi. Hingga kondisi perekonomian mulai menggeliat, tahun 1935-1942, gula kembali diproduksi dipimpin duet Boerman dan MF Bremmers. Ketika Jepang menduduki Indonesia, pabrik gula sempat dikuasai paksa oleh pihak Jepang. Memasuki tahun 1945, usai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pabrik diambil alih Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN).

Lokomotif uap yang dulu digunakan mengangkut tebu (foto: dok bamset)
Lokomotif uap yang dulu digunakan mengangkut tebu (foto: dok bamset)

Menurut Joko, di tahun 1948, saat agresi militer Belanda kedua, pabrik gula kembali berhenti beroperasi. Situasi yang kacau, tak memungkinkan pabrik berproduksi hingga dua tahun lamanya. Tahun 1950, melalui surat keputusan pemerintah Indonesia menetapkan seluruh asset milik Belanda diambil alih pemerintah dan tahun 1957 nama Pabrik Gula Gondang Winangoen secara resmi diganti menjadi Pabrik Gula Gondang Baru.

Sebenarnya Joko masih sempat mengajak bertandang ke Museum Gula yang menurutnya hanya satu-satunya di Indonesia. Sayang, waktu saya terbatas sehingga saya menjanjikan lain waktu untuk kembali berkunjung. Itulah sedikit gambaran kondisi PGGB yang pernah mengalami kejayaan di pemerintahan kolonial Belanda. Anda berminat mengunjunginya? Silahkan, tak sulit menemukan lokasinya, ditambah ada edukasi yang sulit raib dari benak kita. (*)