Sang Motivator itu Bernama Kotak Amal Masjid

04 April 2016 01:59:30 Diperbarui: 04 April 2016 03:03:14 Dibaca : 462 Komentar : 1 Nilai : 2 Durasi Baca :
Sang Motivator itu Bernama Kotak Amal Masjid

dok. pribadi
Keberadaan kotak amal dalam sebuah masjid hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada masjid pastilah di dalamnya ada kotak amal. Bukan hanya satu tapi bisa sampai puluhan. Ketika kita duduk tenang setelah shalat tahiyatul masjid kotak amal ini akan hadir di depan kita, suka atau tidak. Ketika sampai di depan kita, dia akan menunggu barangkali anda mau memasukkan uang amal yang tentunya disertai keikhlasan. Kalau kita belum punya uang, tidak ada masalah atau bahkan tak perlu merasa malu kita cukup sekedar mendorongnya ke jamaah disamping anda.

Dulu ketika saya masih anak-anak kotak amal di masjid kampung saya kebanyakan dibuat dari bekas kaleng biskuit dan uang jamaah banyak berupa pecahan uang receh atau koin. Jadi ketika kotak amal mulai diedarkan dan jamaah memasukkan uang koinnya ke dalam kotak akan terdengar bunyi “ting”. Sehingga ketika kotak amal ini beredar antar jamaah yang duduk dalam suasana yang hening seringkali terdengar bunyi “ting… ting…. ting….” dari bunyi koin yang mereka masukkan. Diam-diam saya tersenyum, seperti bunyi irama musik, pikir saya di sela-sela menunggu khotbah dimulai.

Sekarang sudah lebih baik, kotak amal di masjid-masjid umumnya dibuat dari kayu bahkan ada yang diukir bagus seperti kayu meubel di rumah kita. Jamaah yang memasukkan uang juga sudah jarang dalam bentuk koin. Umumnya uang kertas, sehingga ketika jatuh dalam kotak kita tak akan mendengar bunyi “ting” lagi.

Semua itu, kotak amal yang dibuat dari kayu atau bekas kaleng biskuit maupun jamah yang memasukkan uang amalnya dengan koin atau uang kertas bagi saya sah dan biasa-biasa saja. Mungkin atau barangkali yang tidak biasa adalah ketika anda merasa kotak amal ini, tiba-tiba beredar lagi di depan tempat duduk anda, bahkan seperti yang pernah saya alami sampai tiga kali putaran! Soalnya anda kan sedang duduk tenang untuk mendengarkan khotbah, bukan mau sibuk menggeser kotak amal ke kanan atau ke kiri.
Tapi sudahlah anda tidak perlu jengkel, karena ini urusan takmir masjidnya dan ini bukan yang mau saya bahas dalam tulisan saya kali ini.

Beberapa tahun lalu, tepat nya ketika saya shalat Jumat di masjid Nurhasanah dekat rumah di Kuta. Seperti biasa ketika saya duduk tenang menunggu khatib saya lihat sebuah kotak amal mulai bergerak di saf depan duduk saya.
Pada saat itulah saya melihat sesuatu yang luar biasa bagi kehidupan saya selanjutnya.
Saat itu jamaah di samping tempat duduk saya lihat dia memasukkan uang amal ke dalam kotak di depannya. Besarnya saya lihat berupa lembaran pecahan uang seratus ribuan. Saya terpana, karena ketika itu kemampuan saya hanya bisa menyumbang amal seribu dua ribu rupiah saja. Perasaan saya waktu itu, ah biasa saja, toh yang penting ikhlas mau ngasih seribu atau sejuta pun ke dalam kotak amal sama saja yang penting ikhlas! Saya pikir pahalanya sama saja kenapa saya harus repot-repot memikirkannya.

Namun pikiran itu masih mengusik hati saya, saya yang hanya mampu beramal tiap Jumat hanya seribu dua ribu alangkah indahnya kalau suatu saat saya bisa juga memasukkan uang amal dengan pecahan puluhan atau ratusan ribu kalau mampu. Saya pikir walau pun sama-sama ikhlas tapi kalau kita beramal dengan ratusan ribu akan lebih bermanfaat dari pada seribu atau dua ribuan. Tentu saya pun ingin melakakukan hal itu.

Begitulah, pelan tapi pasti keinginan saya makin hari makin kuat bahwa saya harus bisa membuat perubahan dalam kebiasaan memasukkan uang ke dalam kotak amal. Kalau Jumat hari ini saya beramal seribu, maka minggu depan akan saya usahakan dua ribu, minggu depannya tiga ribu hingga suatu saat bisa beramal dengan pecahan seratus ribuan. Caranya? Ya harus berpikir dan berusaha. Kenyataanya? Ya tidak gampang bahkan sulit, sulit dan sulit!

Tapi saya tak pernah putus asa, setiap hari saya berpikir bagaimana cara meningkatkan jumlah uang amal saya di kotak amal masjid yang saya kunjungi. Bersyukur beberapa lama niat dan keinginan saya mulai menampakkan hasilnya. Ketika Jumat minggu pertama saya mulai dengan tekat motivasi itu, saya memasukkan uang amal seribu, minggu depannya dua ribu. Jumat berikutnya masih dua ribu dan bertahan (kayak juara aja) sampai beberapa bulan. Dua bulan berikutnya bisa lima ribu, beberapa bulan berikutnya bisa sepuluh ribu.
Beberapa tahun kemudian bisa lima puluh ribu dan begitulah saya bersyukur ternyata bisa membuat program untuk bisa meningkatkan jumlah uang amal saya setiap Jumatan.
Dari mana uangnya, kok bisa meningkat? Ya dari berikhtiar dan bekerja keras karena adanya motivasi tersebut. Setiap habis Jumatan saya berpikir bagaimana dan apa yang harus saya usahakan untuk Jumat minggu depan supaya bisa menambah amal saya?

Dulu dalam usaha mengubah nasib dan meningkatkan penghasilan saya sering mencari-cari melalui nasehat-nasehat para motivator. Saya selalu membaca buku-bukunya, nonton acara di televisi, mendengarkan kaset motivasi dan bahkan menghadiri seminar oleh para motivator sukses yang tiketnya cukup mahal.

Sekarang? Masih saya lakukan tetapi saya lebih fokus kepada metode motivasi kotak amal masjid yang gampang dan murah alias gratis 100%, yaitu motivasi bagaimana waktu shalat Jumat saya dapat mengisi kotak amal dengan lebih banyak dari Jumat sebelumnya. Jawabannya mudah, hanya berikhtiar atau berusaha, bekerja, bekerja, bekerja.
Mudah kan? yang sulit ya melaksanakan nya itu….. tetapi sebagai seorang muslim kita percaya bahwa “Man jadda waJada” yang artinya kurang lebih “jika kita memang bersungguh-sungguh, akan selalu ada jalan untuk mencapai apa yang kita inginkan”.

Dampak lainnya yang akan anda dapatkan dengan menjalankan motivasi kotak amal tersebut, saya hanya bisa memberikan illustasi berikut. Bayangkan kalau seseorang sudah mampu dan selalu meyumbang kotak amal setiap Jumat dengan uang seratus ribuan, maka kehidupan finansial rumah tangga orang tersebut, insyaallah akan sejahtera keuangannya. Hasil lainnya yang lebih indah lagi adalah anda selalu tak sabar untuk datang menunaikan shalat Jumat.
Semoga bermanfaat.

Bambang Supeno

/bambangsupeno

Menetap di Bali dan pensiunan pns. Blog pribadi beralamat di www.balimuslim.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana