Misteri di Borobudur; Peninggalan Nabi Sulaiman

16 November 2011 02:55:00 Dibaca :
Misteri di Borobudur; Peninggalan Nabi Sulaiman

 

      Membincangkan candi Borobodur, bagi masyarakat Indonesia, akan selalu menarik. Bukan saja karena merupakan peninggalan budaya yang amat bersejarah dan speltakuler, namun juga, tak dapat dimungkiri bahwa hingga dewasa ini masih banyak misteri yang melingkupi sekitar keberadaan candi tersebut. Borobodur seperti yang dipercayai masyarakat hingga kini adalah peninggalan  dari  kejayaan kerajaan Mataram Kuno (wangsa Syailendra) yang dibangun sekitar abad ke 8 hingga  ke 9, pada masa kekuasaan Raja Samaratungga.

      Selama 150 tahun Candi Borobudur menjadi pusat ziarah megah bagi penganut Budha. Akan tetapi, seiring dengan runtuhnya Kerajaan Mataram sekitar tahun 930 M, maka pusat kekuasaan dan kebudayaan di pindah ke Jawa Timur, hingga Borobudur pun terlupakan. Kemudian, dengan terjadinya gempa dan letusan gunung berapi, membuat candi melesak sehingga mempercepat keruntuhannya. Semak blukar tropis pun menutupi Candi Borobudur sehingga pada abad-abad selanjutnya candi ini lenyap ditelan sejarah.

Misteri Peninggalan Nabi Sulaiman AS.

      Sebuah misteri kerap kali memunculkan berbagai pembacaan dan pemaknaan yang lantas berujung pada wacana yang kontroversial. Begitu pun dengan keberadaan candi Borobudur. Sebuah bangunan monumental yang termasuk salah satu keajaiban dunia dan diakui sebagai warisan dunia (world haritage), tidak luput dari berbagai dugaan yang lantas memunculkan berbagai kontroversi, yang justru menjadikan keberadaan Borobudur semakin  menarik untuk dipelajari.

      Sebuah kontroversi yang sangat menarik adalah adanya wacana yang menyatakan bahwa Candi Borobudur adalah bangunan bersejarah peninggalan Raja Sulaiman, yang nota bene adalah salah satu Nabi Allah yang diimani oleh umat Islam. Adalah KH. Fahmi Basya, seorang dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang pertama kali mengangkat wacana tentang keberadaan Candi Borobudur sebagai warisan Nabi Sulaiman. Tentu saja, wacana ini serta merta mendapat reaksi beragam dari berbagai kalangan, dari mulai yang setuju, ada yang skeptis, dengan membiarkan wacana itu bergulir begitu saja, hingga ada yang keras, dengan menyangkal serta mentertawakan. 

      Namun, tak sedikit pula yang bersikap biasa saja bahwa wacana itu hanyalah sebuah sensasi yang tak berdasar dan tak perlu ditanggapi. Terlepas apakah  percaya atau tidak, tampaknya wacana unik  ini cukup menarik untuk diangkat dan diketahui oleh masyarakat luas sebagai bentuk apresiasi bagi sebuah kajian keilmuan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Borobudur adalah fenomena, misteri dan kontroversi,

 yang justru menjadikan Borobudur semakin  menarik untuk dipelajari.

Sebuah kontroversi yang sangat menarik adalah adanya wacana yang menyatakan

bahwa Candi Borobudur adalah bangunan bersejarah peninggalan Raja Sulaiman.

 

       Seorang KH. Fahmi Basya sebagai dosen dan peneliti, tentu saja tidak asal-asalan dan ngawur dalam melontarkan wacana ini, melainkan tentunya setelah melakukan penelitian dan penemuan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dari beberapa riset yang dilakukan KH. Fahmi Basya bersama dengan Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan, disebutkan bahwa sebenarnya Candi Borobudur adalah bangunan yang dibangun oleh tentara nabi Sulaiman termasuk di dalamnya dari kalangan bangsa jin.

       Masih menurut KH. Fahmi Basya, sangat sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa di Candi Borobudur sendiri sebenarnya sangat banyak ditemukan simbol-simbol tentang Islam. Dari hasil ekspedisi dan penelitian yang dilakukannya, ditemukan juga fakta baru mengenai indikator-indikator tentang adanya kisah Nabi Sulaiman dan ratu Saba di Candi Borobodur dan Ratu Boko. Dari penelitian tersebut, juga disebutkan bahwa nama-nama daerah tertentu di Jawa Tengah seperti nama Sleman diduga berasal dari kata Sulaiman dan Wonosobo berasal dari Hutan Ratu Shaba.

       Menurut Fahmi Basya, dan seperti yang penulis lihat melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik de-ngan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana kete-angan Alquran. Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Tau-rat, dan Tongkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.

      Masih banyak hal lain yang diungkapkan oleh Fahmi Basya dalam buku “Borobudur & Peninggalan Sulaiman”. Sebagai sebuah kajian tentu sah-sah saja untuk dilontarkan ke publik  sebagai pengayaan wacana bagi masyarakat.

Fahmi Basya

 

Sangat sedikit masyarakat yang

mengetahui bahwa di Candi

Borobudur sendiri sebenarnya

sangat banyak ditemukan

simbol-simbol tentang Islam.

 

BANTAHAN

        Hal yang bersifat kontroversi tentu saja menim-bulkan pro dan kontra. Demikian pula dengan buku Fahmi Basya di atas. Banyak pihak yang  mencoba membantahnya dengan mengajukan argumen yang cukup meyakinkan untuk mementahkan pernyataan KH. Fahmi Basya. Salah satunya adalah bantahan yang dituangkan  dalam  sebuah  buku yang  berjudul “Mis-teri Borobudur, Candi Borobudur bukan Peninggalan Sulaiman”, yang tulis oleh Seno Panyadewa.

        Teori bahwa Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman dikupas tuntas di buku ini. Bukti-bukti yang diajukannya diperiksa kebenarannya satu demi satu. Seno Panyadewa juga membandingkan bukti-bukti dari berbagai penelitian ilmiah apakah Candi Borobudur peninggalan Dinasti Syailendra ataukah Nabi Sulai-man. Bahkan bukti-bukti mengenai lokasi sebenarnya Negeri Saba juga dibahas.

        

Buku yang membantah

teori KH. Fahmi Basya

 tentang Borobudur

peninggalan Sulaiman,

 yang ditulis oleh

Seno Panyadewa.

 

 Dalam buku ini tidak hanya mengupas berbagai kejanggalan  teori Borobudur  peninggalan Sulaiman, buku ini juga membahas secara  mengesankan perihal Borobudur, sejarah agama Budha dan Hindu pada saatitu, serta analisis tentang ikonografi, arsitektur, dan simbol-simbol pada Borobudur.

      Tak pelak, buku ini akan memampukan Anda untuk memberikan penilaian yang lebih akurat dan objektif mengenai sejarah dan misteri yang menyelimuti monumen agung bernama Borobudur.  Salam.   

 

Bembeng Je Susilo

/bambangjes

Trainer@fimakahasigma. Tourguide@hpijakarta. Motto; hidup mesti dilakoni dan dimaknai, berhenti berarti mati. Static means death.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?