Melukis Cahaya

27 April 2012 10:30:41 Dibaca :
Melukis Cahaya

Sebenarnya udah lama “istriku” ini kutinggalkan, hingga suatu saat dapet link bbm dari seorang temen si D-wee tentang sebuah Grup di Facebook ‘KAMPRET’(Kompasiner Hobby Jepret). Dari namanya udah menggelitik. Dari situ saya buka grup itu dan ternyata benar, mereka yang ada disana ternyata semua hobby jepret semua.

Segera saya bongkar lagi peralatan perang yang hampir dua tahun gak pernah kugunakan. Setelah sering ‘ngampret’, saya malu sendiri, ternyata pengetahuan tentang “kekasihku” ini sangat lah kurang. Mulai saya buka situs-situs di internet, dan juga buku manual atau petunjuk. Kupelajari satu persatu.

Dan ternyata yang namanya Fotografi atau Photography (bahasa inggrisnya), berasal dari dua kata, yaitu Photos yg berarti cahaya dan Graphos yang berarti lukisan/tulisan/gambar. Jadi, fotografi itu adalah suatu proses melukis/menulis/perekaman suatu gambar dengan bantuan cahaya melalui sebuah media perekam baik itu film roll, sensor digital atau lainnya (kalau nyebutuin satu persatu capek nulisnya, ini juga klo nggak ada ‘PR’ dari kampret juga nggak mau, hehehehe).

Ada contoh beberapa sumber cahaya yang ada disekeliling kita, yaitu matahari atau “lampu dari Sang KHALIK”, dan juga sumber cahaya buatan manusia itu yaitu lampu TL, lilin, lampu studio, atau flash light.

Dan ternyata dalam fotografi ada beberapa yang saya ketahui dulu lebih mendalam. Terutama dalam hal Melukis Cahaya. Bukan hanya asal jepret dulu seperti yang kulakukan selama ini dengan “istriku” ini.hehehhehehe…

1. Tentang Diafragma atau Aperture Dial

Tentang diafragma ini, yang saya tau hanya bukaan diafragma kecil ditunjukkan dengan angka besar, sedangan kebalikannya bukaan besar dituliskan dengan angka kecil. Pada angka pilihan terbesar yaitu bukaan terkecil (klo org jawa bilang ngriyip :D) dia tetap membuka dengan lubang paling kecil. Nah lubang inilah yg namanya aperture, berikut  ilustrasinya dibawah ini :

2. ISO atau ASA

ISO / ASA adalah nilai kepekaan sensor digital/film (roll) terhadap cahaya. Semakin tinggi angkanya akan semakin cepat dan peka sekali akan cahaya. Begitu juga sebaliknya. Akan tetapi ada akibat bila kita menggunakan ISO/ASA terlalu tinggi, gambar atau foto akan terlihat dengan noise/bintik-bintik/butiran-butiran pasir pada permukaan foto. Penggunaan iso/asa rendah akan menghasilkan pencahayaan detail pada terang maupun bayangan yg baik.13355218941822902265

(Contoh foto dengan ISO 100)

13355220411505324300

(Contoh foto dengan ISO tinggi, bintik-bintik pasir atau noisenya keliatan banget.)

3. Shutter Speed

Shutter speed atau kecepatan rana adalah sebuah alat pemutar kecepatan yg ada di kamera yg berfungsi untuk mengatur kecepatan atau daya tangkap kamera untuk mengambil gambar. Dengan shutter speed ini kita dapat mengambil gambar yang tepat. Dalam hal ini kita seyogyanya bisa membedakan antara kecepatan untuk menangkap gambar yang sedang bergerak, atau mengatur jumlah volume pencahayaan yg masuk.

13355221991547112704

(Contoh menggunakan speed tinggi 1/200)

1335522256443599038

(Contoh menggunakan speed rendah 1/40)

Jadi inti dari semua ini, mungkin bisa ditarik kesimpulan bahwa apabila kita mau “melukis cahaya” kita harus benar-benar tahu asal dan kekuatan cahaya tersebut dengan dipadu oleh Diafragma yang tepat, ISO yang tepat dan shutter speed yang tepat, sehingga menghasilkan gambar yang oke.

Yesssss akhirnya PR saya di GRUP KAMPRET selesai juga. Jika bukan karena grup ini nggak mungkin saya nulis-nulis begini… hahahahahhaa…. Salam PRET!!!!!

Terima kasih

@arifsubagor

Arif Subagor

/bagors

TERVERIFIKASI (HIJAU)

enjoy aja....:D
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?