pilihan

Hubungan Antara Memaafkan dan Kebahagian

5 April 2017   23:32 Diperbarui: 5 April 2017   23:47 288 3 0

Anda pernah disakiti oleh seseorang atau di fitnah oleh orang lain? pastinya setiap orang pernah mengalami akan hal seperti itu. Sungguh menyakitkan rasanya! Dan rasa dendam hadir dalam hati serta pikiran kita. Mata dibalas mata kedengarannya memang adil, tetapi akan membuat semua orang menjadi buta!setimpalkah? Dalam beberapa kasus hal itu mungkin setimpal, sehingga kesalahan itu tidak diulang kembali. Seseorang dapat memberikan penilaian setelah berpikir. Namun, ia juga harus dapat melupakan, ingatan yang tajam memang sangat bagus, tapi lupakan juga sangat bagus dan lebih baik lagi.

Anda tentunya pernah mendengar kisah tentang Yusuf yang dianiaya oleh saudaranya sendiri, dibuang dan dijadikan sebagai budak. Apa yang dilakukan olehnya? Tidak ada sedikit pun ia memiliki rasa dendam, tetapi ia memaafkan perbuatan saudara-saudaranya dan tak membalas semua perbuatan mereka. Bahkan bukan itu saja ia juga harus mendekam di penjara bukan karena perbuatan buruknya, sekali hasil olah fitnah! Ia tetap menikmati jalan kehidupan yang harus dijalani, sebuah contoh pengendalian diri dan kehidupan yang luar biasa! Kemenangan dan kebahagiaan akhirnya akan diperoleh dengan selalu bersikap positif.

Dalam beberapa hal, balas dendam mungkin perlu, tetapi sebaiknya hanya dilakukan pada kasus yang sangat khusus. Kita harus dapat melihat tujuan di balik tindakan. Balas dendam ibarat Anda menggigit seeekor anjing karena anjing itu menggigit Anda. Anda harus melupakannya, untuk memastikan bahwa Anda tidak akan digigit lagi. Alih-alih balas menggigit, lebih baik belajar dari insiden itu.

Memaafkan amat mudah dikatakan tetapi sulit untuk dilakukan, hal seperti itu pernah saya alami. Bukan sekali dua kali saja mengalami hinaan, cercaan, dan fitnah, hingga pernah saya kehilangan kepercayaan dari rekan dan sahabat bukan oleh karena perbuatan saya. Saya sampai di katakan orang yang memiliki watak tidak dapat dipercaya! Sungguh sakit rasanya, saya simpan kejadian itu dalam pikiran dan apa yang terjadi? Saya menjadi tidak bahagia, saya memilih sikap untuk memaafkan demi kebahagian dan kehidupan saya.

Orang lain mungkin tidak mau memaafkan Anda, lalu mengapa Anda harus memaafkan mereka? Pertanyaan yang bagus! Kalau Anda ingin ikut-ikutan terbakar, bagus, teruskan saja! Kalau saya, seperti yang saya katakan, saya hanya ingin bahagia dan karenanya tidak mau terbakar oleh pikiran bodoh saya sendiri.

Jika Anda tidak bersedia memaafkan teman Anda, kelak akan tiba suatu hari di mana Anda tidak lagi memiliki teman. Jika Anda seorang pebisnis, kelak tidak ada lagi costumer. Orang-orang yang memiliki sifat pendendam hidupnya tidak akan pernah merasa nyaman, kelak penyakit akan menggerogoti hiudpnya. Mereka terus mengingat kesalahan orang lain pada mereka, sebagian bahkan ada yang tidak bersedia memaafkan dan melupakan kesalahan orangtua mereka. Dan sebagian orangtua yang tidak mau memaafkan kesalahan anak mereka. Saya pernah melihat kejadian dimana ada sepasang orangtua yang tidak bersedia memaafkan dan melupakan putra mereka yang menikah tanpa mendengarkan keinginan mereka.

Biarlah nurani yang membantu hidup Anda, dengan bantuan cahayanya, Anda dapat merasa sukses dan bahagia, serta meraih tujuan Anda. Budi yang baik adalah senjata kita, dan ia akan melindungi kita dari penghinaan, baik sengaja maupun tidak. Ia akan membawa kita ke suatu sikap di mana batu yang dilemparkan kearah kita tidak lagi dapat menyakiti kita. Budi baik akan mmenjadi kecerdasan! Jangan lupa bahwa untuk menghadapi mereka yang tidak memiliki hati nurani,

 Anda harus memiliki kecerdasan dua kali lipat. Sikap murah hati memungkinkan Anda untuk memaafkan dan melupakan. Anda tidak harus menjadi orang kaya dan makmur untuk dapat memaafkan dan melupakan, tetapi Anda harus bersikap murah hati dan memiliki kedewasaan untuk dapat berpikir seperti ini. Keinginan membalas dendam akan membahayakan Anda lebih cepat dan lebih pasti dibandingkan dengan kebiasaan memaafkan dan melupakan. (AR. Rahadian)