Resensi Perahu Kertas

03 Januari 2013 15:41:14 Dibaca :
Resensi Perahu Kertas
-

Judul               : Perahu Kertas

Penulis             : Dewi Lestari (Dee)

Penerbit           : Truedee

Cetakan           : XVI

Tebal               : 444 halaman. ; 20 cm

ISBN   `          : 978-797-1227-78-0

Dewi Lestari atau yang dikenal dengan sebutan Dee memang seorang penulis yang sarat akan kualitas tulisannya. Saya pun semakin yakin akan hal itu setelah selesai membaca Perahu kertas. Suatu karya saya anggap bagus jika setelah membacanya saya akan termenung dan menemukan sudut pandang baru dalam hidup. Saya temukan itu pada Tulisan Dee.

Bagian awal baca buku ini memang tidak terlalu mencerminkan gaya tulisan Dee. Tulisan dee terlalu dewasa untuk menulis kehidupan remaja. Tapi sepertinya saya salah, Dee menulis gaya dengan gaya remaja begitu mulus dan hampir sempurna. Novel ini menceritakan tentang persahabatan yang menjadi cinta, tentang cinta untuk cita dan tetang cita yang harus selalu dikejar. Sebut saja Kugy. Mungil. Berantakan. Penghayal. Suka nulis dongeng. Bertemu dengan Keenan. Cerdas. Tampan. Gondrong. Artistik dan penuh kejutan. Dari tangannya, mampu menggoreskan lukisan-lukisan magis dan penuh inspiratif.

Awal Kisah Keenan yang tinggal di Amsterdam - permintaan ayahnya yang tidak suka anaknya menjadi pelukis- pulang ke Jakarta dan Kuliah di Bandung. Jurusan Managemen. Pilihan ayahnya. Disanalah dia bertemu dengan Kugy. Sahabat Eko dan Noni. Eko dan Noni sudah lama pacaran. Sementara Kugy long distance dengan Ojos di Jakarta. Dari sana timbulah benih-benih cinta antara Kugy dan Keenan. Namun tak ada yang tau. Noni berencana menjodohkan Keenan dengan Wanda. Anak pemilik Galeri Warsita-Galeri terbaik di Jakata-. Berkat jasa Wanda, lukisan Keenan mampu bertengger di dinding galeri. Tak ada yang membeli lukisannya, takut Keenan kecewa, Wanda pun membeli keempat lukisan itu.

Sementara Wanda semakin dekat dengan Keenan, Kugy merasa ada yang aneh dalam dirinya. Dia merasa jealous pada Keenan, pertanda cinta mulai terasa. Hubungan Kugy denga Ojos semakin retak dan akhirnya putus. Noni tidak mengerti dengan perubahan sikap Kugy, apalagi semenjak poyek pencoblangan Keenan dengan Wanda dimulai. Akibatnya Kugy semakin jauh dengan Noni sampai 2 tahun lamanya.

Tak lama, akhirnya Keenan mengerti bahwa lukisannya masih mentah dan yang terjual itu hanyalah akal-akalan Winda agar Keenan tetap bersemangat melukis dan dekat dengannya tentu. Keenan sudah meninggalkan kuliahnya dan merasa dirinya hancur. Setelah ketemu Kugy dia mulai termotivasi kembali untuk melukis. Akhirnya dia harus meninggalkan semua kehidupan yang lama dan tak ada seorangpun yang diberi tahu tentang itu. Hanya ibunya yang tau.

Waktu berjalan begitu cepat, Keenan memiliki kehidupan sendiri di Bali dengan Ki Wayan-teman lama ibunya Keenan- dan Luhde-Gadis muda berparas cantik yang selalu menemani Keenan melukis-. Belum lama berada di Bali, lukisan Keenan kembali diburu kolektor dari Jakarta. Dia mampu menghidupi dirinya sendiri dari uang hasil melukis. Namun dia mulai tersadar ketika lukisannya tak pernah hidup tanpa tulisan tangan dongeng yang ditulis oleh Kugy. Semuanya buntu. Keenan tak bisa melukis lagi.

Kugy pun memiliki kehidupan baru. Selepas wisuda, dia langsung diterima magang sebagai copy Writer di salah satu perusahaan periklanan milik Remi. Remi jatuh hati pada Kugy yang diangkat menjadi Project Leader karena ide-ide Kugy yang masih natural dan menarik bagi Client. Kugy dan Remi resmi pacaran walaupun hati Kugy sepenuhnya masih berharap Keenan kembali.

Saat Noni dan Eko bertunangan, saat itu pula mereka berempat Reoni bersama kembali. Noni sadar akan kesalahannya menilai Kugy dan mereka pun baikan. Kugy dan Keenan merasa canggung bersama kembali. Keenan yang pulang ke Jakarta kala itu karena ayahnya sakit Stuk langsung membawa Kugy berbostalgia ke Bandung dan Kampung alit. Mereka dua berbahagia. Namun ada ganjalan besar dari hati mereka,  mereka memiliki pasangan masing masing. Kugi dengan Remi. Keenan dengan Luhde.

Cinta memang tak pernah memilih, namun cinta itulah yang dipulih. Setelah lama menjalani kehidupan masing-masing. Luhde mulai mengerti bahwa cinta keenan bukan untuk nya.  Di lain pihak Remi pun mengerti dengan isi  hati Kugy. Kugy dan Keenan akhirnya bersatu.

Selama hidupnya sejak awal lahir sampai kembali hidup bersama dengan Keenan, Kugy selalu mengirimkan curhatan perasaannya ke Dewa neptunus di laut maupun di sungai. Ia menganggap dirinya sebagai agen rahasia Neptunus. Curhatan itu dalam bentuk perahu kertas yang dihanyutkan ke Air. Itulah sebabnya Novel ini berjudul Perahu Kertas.

Hampir seluruh cerita dipahat dengan kesempurnaan. Tapi ada beberapa yang tidak saya suka dari bukunya Dee yang satu ini. Banyak penggunaan kata-kata kasar yang ada didalamnya. Bahkan ada satu yang teringat bahwa kata kasar itu adalah panggilan sayang. Saya kurang ngeh pada bagian ini. Selain itu juga epilog cerita ini agak kabur.

Saya menangkap salah satu pesan moral yang akan disampaikan adalah ”mengejar passion”. Kejarlah apa yang kita inginkan dan ikuti kata hati. Jika kita memang senang menjadi seorang pelukis lanjutkan melukis dan jika memang keinginan kita menulis lanjutkan sampai berhasil. Bakat tidak datang dari Langit yang ujug-ujug datang pada kita. Tapi kita harus meraih itu menjadi milik kita. Walaupun kita bisa melakukan pekerjaan lain dengan baik dan berhasil namun kita tidak menyukai pekerjaan itu. Tinggalkan sekarang.. dan lakukan pekerjaan yang ingin anda lakukan.

Terimakasih Kak Dee. Semoga semua tulisan Dee terus menginspirasi...

Semarang, 28 Desember 2012

Badiuzzaman

Badi Uzzaman

/badiuzzaman

writer di badinesia.com
Diponegoro University
follow @badinesia

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?