Media

Guyonan Acara Garing Namun Mempunyai Rating Tinggi, Kok Bisa?

17 Juli 2017   18:24 Diperbarui: 18 Juli 2017   09:38 179 1 0

PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini televisi menjadi media komunikasi yang penggunaanya tergolong tinggi. Televisi digunakan sebagai media informasi. Menurut Degeng " media adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada pembelajaran bisa berupa alat, bahan dan orang " ( Degeng, 1989:142).

Fungsi televisi sebagai media informasi adalah sebgai media hiburan. Sekarang ini dunia pertelevisian mungkin sedang ''haus'' akan candaan atau hiburan, sehingga banyak sekali stasiun televisi yang menayangkan program acara hiburan sejenis lawakan. Pihak stasiun televisi berlomba-lomba untuk menayangkan acara yang berbau candaan atau lawakan dengan mengharapkan ratting tinggi yang akan diperoleh dari respon masyarakat yang menonton. Seperti Transtv menayangkan acara YKS ( Yuk Kita Sahur ) pada saat bulan Ramadhan, ANTV yang menayangkan acara Pesbukers dan acara yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.

Acara lawakan yang sampai sekarang masih bertahan tayang di televisi yaitu Pesbukers. Pesbukers merupakan sebuah acara televisi yang ditayangkan oleh stasiun TV ANTV setiap Senin-Jumat pada pukul 17.00-18.00. Acara ini pertama kali dimulai pada tanggal 18 Juli 2011. Pesbukers adalah sebuah acara yang berhubungan dengan anak gaul (ABG) yang dimainkan oleh beberapa artis Indonesia papan atas yaitu Raffi Ahmad, (Alm) Olga Syahputra, Ayu Ting-Ting,Oppie Kumis, Denny Cagur dan beberapa artis lainnya. (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pesbukers)


Terdapat banyak sekali pemirsa yang menggemari acara ini, namun tak sedikit juga yang menanggapi negatif acara Pesbukers ini. Banyak cemoohan dari masyarakat yang tidak suka dengan adegan-adegan dalam acara ini, karenanya adegan dalam acara ini banyak sekali mengandung kekerasan fisik, kata-kata kasar, melanggar norma kesopanan, dan bahkan sering ada adegan yang melecehkan salah satu pemain seperti yang saya lihat, pada saat adegan Olga menangis karena ceritanya kehilangan anaknya, malah salah satu pemain mengatakan " Eh banci kaleng, ngapain lo nangis? Ngapain kagak ngamen aja " . Dari perkataan " banci kaleng '' sendiri menurut saya sendiri kata-kata itu merupakan kata kasar yang bisa menyinggung hati seseorang. Dan dari banyaknya adegan seperti diatas membuat Pesbukers menjadi acara '' lawak '' yang bukan '' lawak '' alias garing, sekarang ini acara ini sama sekali tidak ada unsur lucunya menurut saya dan sebagian masyarakat. Yang dituliskan diatas ini merupakan masalah yang sering sekali muncul dalam pertelevisian Indonesia, banyak pihak stasiun TV yang asal menayangkan acara lawak dengan adegan yang tidak pantas hanya untuk menaikan ratting semata, tanpa memperhatikan kode etik penyiaran televisi. Dijelaskan dalam pasal 1 kode etik jurnalis televisi adalah penuntun perilaku jurnalis televisi dalam melaksanakan profesinya, sehingga kerja seorang jurnalis erat dengan etika berbicara ( ( Fajar kurniawan. BSI Jakarta ). Selain itu, dari masyarakat banyak yang mengadukan lawakan yang tidak pantas dalam acara ini ke KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ).


ISI

Dalam menyiarkan sebuah program acara, pasti dipantau oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). KPI adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang berfungsi sebagai regulator penyiaran di Indonesia. Semua peraturan penyiaran diatur dalam UU RI no 32 tahun 2002 tentang penyiaran. KPI banyak sekali menerima pengaduan dari masyarakat tentang acara pesbukers. KPI juga menilai jika tayangan pesbukers terebut terlalu berlebihan dalam menayangkan adegan '' lucunya ''. Diduga pesbukers melanggar P3 (pedoman perilaku penyiaran) dan SPS (standar program siaran ). Namun tidak hanya sekali, Pesbukers banyak sekali dilaporkan kepada KPI karena terus melanggar etika penyiaran. Pesbukers walaupun sudah pernah diadukan ke KPI pusat, masih tetap saja melakukan kesalahan yang hampir sama dengan kesalahaan sebelumnya.

Kali ini adalah adegan saat Ayu Ting Ting dan Zaskia Gotik menduduki kepala dan punggung Raffi Ahmad, adegan itu membuat para penonton geram, mereka langsung melaporkan kejadian ini kepada KPI. Namun KPI tidak bisa langsung memberi sanksi, KPI pun Cuma bisa menegur dan menegur lagi. Saya pun berpikir bahwa siapa yang menyuruh dan bertanggung jawab atas adegan yang tidak sebenarnya pantas ditayangkan oleh Pesbukers tersebut, apakah itu merupakan skenario yang telah ditulis sutradara untuk dimainkan, atau itu sebuah improvisasi pemain atau inisiatif dari para pemain Pesbukers sendiri. Sebeneranya apa yang dipikirkan oleh pihak Pesbukers sendiri, menagapa masih terus saja menayangkan adegaan yang penuh dengan pelanggaran, dan kenapa acara tersebut masih bertahan tayang di televisi Indonesia?  Namun yang diherankan, mengapa rating acara ini dapat mengalahkan program-program siaran TV yang lainnya, acara pesbukers mendapat ratting dengan nilai 17,1 dengan menduduki peringkat pertama. ( style.tribunnews.com). Padahal yang dilihat dari acara Pesbukers ini sendiri, acara ini kebanyakan gimmicknya.

Gimmick itu seperti untuk menarik perhatian penonton dengan menggunakan adegan yang khas, ya memang gimmick dibuat untuk menghibur, namun dengan banyaknya gimmick menurut saya acara tersebut menjadi " wagu " atau istilahnya aneh, kesannya jadi terlalu dipaksakan untuk dapat menjadi lucu. Bagi sebagian orang memang gimmick merupakan sebuah bentuk ke kreatifan, jika tidak ada gimmick sebuah acara dianggap kurang menarik. Untuk itu mungkin acara ini bisa mendapat ratting yang tinggi karena penonton menyaksikan acara ini hanya dilihat dari segi hiburannya, bukan melihat dari sisi edukatif, manfaat, atau sisi positifnya dari acara Pesbukers. Kembali ke permasalahan banyaknya aduan masyarakat kepada KPI. Walaupun sudah mendapat teguran yang banyak namun Pesbukers tidak berusaha memperbaiki kualitas acaranya, yang diperhatikan selalu kuantitasnya yang berupa ratting acara. Ditambah lagi jika ada anak dibawah umur yang menonton acara pesbukers ini, bisa saja mereka meniru lawakan yang seharusnya tidak untuk ditiru. Sampai kapan acara ini akan terus tayang dengan adegan -- adegan yang tidak enak untuk dilihat? Haruskah ada teguran lagi dari KPI? Semoga saja, setelah ditegur KPI yang terakhir ini, acara Pesbukers bisa berubah menjadi acara yang berkualitas ya gengs!


PENUTUP

Tayangan yang seperti Pesbukers, Dahsyat dll yang dianggap netizen melenceng dari yang seharusnya ini hendaknya dalam menayangkan sebuah acara tersebut terlebih dulu memikirkan bagaimana konsep cerita yang akan dibuat, dengan begitu tidak ada adegan-adegan yang menyalahi pelanggaran etika penyiaran, norma kesopanan, dan kesalahan dalam berbicara di dunia sosial. Stasiun televisi yang baik adalah stasiun televisi yang menayangkan acara-acara yang berkualitas dan memperhatikan dampak-dampak yang terjadi di masyarakat nantinya. Jika sebuah program itu terjamin kualitasnya maka otomatis terjamin juga kuantitasnya yaitu yang berupa rating. Juga agar tidak terkena laporan kepada KPI cukup menayangkan hal-hal yang wajar saja, tidak  perlu terlalu banyak gimmick untuk menarik perhatian penonton.

Dan dengan adanya teguran yang diberi oleh KPI, seharusnya acara seperti Pesbukers atau acara-acara tv yang lainnya, teguran tersebut bisa menjadi koreksi untuk memperbaiki kualitas acaranya sehingga tidak ada pihak yang dirugikan mengenai acara tersebut. Karena jika program acara tersebut terus menayangkan adegan yaang menyalahi aturan, saya rasa pihak stasiun televisi mendapat kerugian yang cukup banyak, karena sudah mendapat teguran KPI, mendapat cemoohan netizen, belum lagi bisa saja rattingnya turun.

Untuk itu saya mengharapkan kepada semua stasiun televisi di Indonesia untuk menayangkan program yang lebih edukatif, jangan hanya dilihat dari sisi hiburannya saja, melainkan juga dilihat dari manfaat yang diperoleh setelah menonton acara tersebut. Juga dalam membuat program siaran harus mengerti adegan-adega yang pantas ditayangkan di televisi, karena acara televisi sendiri banyak sekali yang mengonsumsi, dari usia anak hingga tua. Apalagi sekarang kurangnya pengawasan terhadap anak dalam menonton acara televisi.


Daftar Pustaka

Morissan. (2015). Manajemen Penyiaran. Jakarta: Prenadamedia Group

Severin, Werner J dan  James W. Tankard, Jr (2009). Teori Komunikasi: Sejarah,
           
Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana

Kurniawan, Fajar. Etika Siaran Televisi Di Indonesia. Jakarta:BSI

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pesbukers

Style.tribunnews.com/amp/2017/06/17/dinilai-kurang-bermutu-pesbukers-justru-
            merajai-perolehan-rating-acara-televisi-netizen-protes?espv=1