Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Nganu. Masih belajar

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Beri Aku Kalimantan

15 September 2019   22:24 Diperbarui: 15 September 2019   22:27 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Sumber: Pixabay.com

aku hirup lembabnya rerimbunan pohon, mengisi paru-paruku yang sudah terlalu lama kropos dijalari kata-kata yang polutan

menyanyi di gemercik air yang jernih, menari, memekik, bergelayutan di antara pokok-pokok kayu bersama siamang dan orangutan 

beri aku Kalimantan 

tapi kini paru-paru itu batuk, tersedak mendengar gemuruh gergaji berdansa   ngakak, ular-ular, babi hutan, Burung burung gemetar tak tahu ke mana tempat berpijak 

kemudian kilauan titik, satu, dua puluh, seratus, seribu, entah tak terhitung, membesar, gemeretak, merambat menjadi neraka

membumbung, mengabut, tapi ini bukan halimun dari pinggang gunung, ini kegelisahan, kemarahan, juga suara yang tercekik 

beri aku Kalimantan 

akan kubawa kabut ini ke Jakarta, tapi Jakarta begitu jauh 

sangat jauh

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun