Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Suamimu, Jin

18 Juni 2017   17:09 Diperbarui: 18 Juni 2017   17:19 1647 3 2
Suamimu, Jin
Ilustrasi: pinterest.com

Sungguh kamu perempuan sialan.

Enam puluh tiga tahun aku menjadi suamimu. Lima puluh sembilan tahun sejak kamu menemukan botolku di tepi pantai, menggosoknya, dan meminta aku jadi suamimu.

Kamu ‘kan bisa saja meminta hidup abadi. Kamu bisa minta kekayaan, kekuasaan, atau kecantikan.

Tapi oh, tidak! Kamu memilih aku.

Kamu menjebakku di sini, menipuku hingga mencintaimu, mengunciku di sisimu hanya untuk menyaksikan dirimu menjadi tua renta.

Yang aku lakukan hanyalah menunggu waktunya tiba untuk menjauh darimu.Menjauh dari ipar-ipar dan sepupumu yang cerewet, menjauh dari lemari penuh berisi album foto perjalanan keliling dunia kita. Dan dari si Bagdad, kucing liar yang kamu pungut dari jalanan tiga tahun lalu.

Coba kamu pikir, jin dengan pangkat dan derajat setinggiku harus berbagi lampu dengan seekor kucing kampung? Apa kata dunia jin?

Sekarang kamu sudah tua, keriput, ringkih dan rapuh. Kalau saja dulu aku bisa pergi meninggalkanmu, aku akan membawa anak-anak menjauh darimu dan kehidupan manusia yang berantakan ini. Mereka tak perlu tahu bahwa ibunya makhluk fana.

Kamu membuat hidupku berantakan. Berantakan sekali. Betapa berantakannya hidup ini. Tak pernah adaterpikirkan bahwa seorang jin harus berurusan dengan pekrejaan kantor, popok bayi, dan kematian.

Kamu kira kami diajarkan bagaimana caranya menjadi kakek di Madrasah Jin Aleppo? Atau menjadi kakek buyut? Mengajarkan anak lelaki naik sepeda? Panik saat gadis kecil kita mendapat menstruasi pertamanya? Ilmu para jin yang berumur ribuan tahun tak termasuk bagaimana mengalihkan kesenangan cucu bermain PlayStation agar mau mempelajari sejarah nenek moyangnya dalam kisah 1001 Malam.

Bagaimana dengan kamu yang kini pikun dan sering lupa siapa aku, suamimu? Kamu bahkan tak ingat bagaimana kita terbang dari satu benua ke benua lain, menari bersama pinguin di kutub Selatan dan minum eskrim di kutub utara? Apa yang harus saya lakukan dengan kenangan cinta kita dan rumah yang telah kita tempati selama enam puluh tiga tahun ini?

Sialan.

Setelah kamu meninggal nanti, aku akan kembali ke lampuku yang hangat dan nyaman sampai ada orang lain memutuskan bahwa ia membutuhkan sesuatu lebih dari yang sudah ia punyai.

Tapi jika mereka memintaku untuk menjadi suaminya, aku akan bilang: TIDAK! Biar langit runtuh menimpa piramid Burj Al-Kalifa, aku akan tegas-tegas bilang: TIDAK!

Percayalah, aku tidak akan merindukanmu Aku takkan pernah lagi berpikir tentang hari pernikahan atau bulan madu kita.Aku tak pernah memikirnya sama sekali. Aku akan menyembunyikan lemari beserta album foto kenangan kita di dalam gua di puncak Himalaya. Ketika mengunjungi anak cucu, kami hanya akan berbincang tentang kehidupan mereka. Takkan pernah tentangmu. Takkan pernah.

Baiklah, baiklah, aku takkan melepaskan genggamanku dari gemetarnya jemarimu. Aku akan duduk dan bercerita tentang kisah masa lalu kita, cerita yang harusnya kamu ingat, tapi tidak lagi.

Aku akan mengelus rambut putih tipis dan mengatakan bahwa kau tetap cantik seperti dulu.

Tidak lama lagi, aku akan jauh darimu dan semua kekacauan ini. Aku akan jauh dari kehidupan dan kenangan cinta yang tidak pernah kumengerti dan memang seharusnya tidak pernah ada. Dari kebisingan dan keheningan dan ketidakpastian ini. Aku akan terbebas darimu, tapi selamanya terikat denganmu.

Sialan kamu.


Bandung, 18 Juni 2017