Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Relativitas

17 Februari 2017   20:12 Diperbarui: 21 Februari 2017   00:08 6 8 7
Relativitas
Ilustrasi: www.foxnews.com

Sesuai kalkulasi, Dr. Khairul Hakim muncul di tengah lapangan rumput yang sepi. Eksperimennya berjalan dengan sukses. Dia tidak lagi di laboratorium fisika kuantum di Lembah seperti beberapa detik yang lalu. ‘Detik’ tentu saja relatif, karena waktu adalah relatif.

Sebelumnya mesin waktu rancangannya telah dicobakan dengan sukses pada tikus, kelinci, kucing dan kera. Hewan-hewan itu muncul lagi 30 hari kemudian. Tepatnya 2.591.981,261 detik setelah menghilang dari ‘bilik-paket-kuantum ’. Pengukuran akurat usia sel pada hewan-hewan tersebut menunjukkan bahwa mereka menua hanya beberapa detik meski telah menghilang sebulan lamanya.

Mesin waktunya memang hanya berjalan satu arah sejauh 2.591.981,261 detik ke masa depan. Belum diketahui cara mengubah angka tersebut, apalagi berbalik mundur ke masa lalu. Satu-satunya variabel yang dapat diperhitungkan adalah hubungan massa benda dengan pergeseran ruang: semakin berat suatu obyek melintasi waktu maka kemunculannya akan semakin jauh ke barat. Laboratoriumnya terletak 5,1 kilometer di sebelah timur posisinya sekarang.

Setelah memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, Dr. Khairul Hakim berjalan menuju bangunan terdekat: kafe Tempo Doeloe. Nora, asistennya seharusnya menunggunya di situ.

Dia melompati selokan yang kering menyusuri jalan yang lengang. Tiba-tiba terpikir olehnya bahwa keheningan yang begitu mencekam disebabkan pendengarannya rusak akibat penjelajahan waktu. Dia bertepuk tangan. Segera suara tepukan tunggal itu bergaung memantul berkali-kali di dinding beton gedung-gedung sepanjang jalan sebelum akhirnya memudar di kejauhan.

 Membuatnya sedikit ketakutan.

Memang telah diperhitungkan bahwa dia akan muncul sebulan kemudian di lapangan rumput yang sepi, yang dibelinya dua bulan lalu khusus untuk eksperimen ini. Tapi tak diduganya bahwa kemunculannya tanpa suara yang menyambut. Tidak pernah ia mengalami sunyi seperti ini.

Dia melangkah masuk ke dalam kafe. Kosong tak ada orang. Jam di dinding menunjukkan waktu pukul dua kurang lima menit, meski posisi matahari menunjukkan hari masih pagi. Dr. Khairul Hakim menggigil kedinginan dan melihat arloji di tangannya . Jam dua lewat tiga menit.

Dia meninggalkan kafe dan berlari menuju warung empal gentong di seberangnya. Bau kuah soto menguar di udara, tapi warung kosong. Kompor di bawah gentong tempat merebus kuah tak menyala, dingin pertanda telah lama mati. Namun saat ia menyentuh gentong dari tanah liat itu, masih terasa panas yang membakar ujung jarinya.

 Jam digital di dinding menunjukkan angka 13:55.

Dia membanting pintu warung dan berlari menuju laboratorium melewati kendaraan, trotoar, taman, dan toko yang sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada burung, tidak ada kucing, tak ada anjing, tak ada manusia kecuali dirinya.

Pohon dan rerumputan tampak pucat. Tak ada ranting yang bergerak. Tak ada daun yang meluruh. Tak ada angin.

Panik, dia terus berlari menuju lab. Dia menemukan sebuah mobil dengan pintu terbuka dan kunci kontak masih menancap di lubangnya. Namun saat ia mencoba menghidupkannya, tak terjadi apa-apa. Tidak juga bunyi ‘klik’ tanda kunci diputar.

Dia terus berlari menuju lab, sesekali berhenti untuk mengintip ke dalam bangunan di sepanjang jalan yang dilaluinya.

Setiap jam dinding yang dilihatnya menunjukkan pukul 13:55. Dua kurang lima menit.


Bandung, 17 Februari 2017