Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Drama headline highlight

Pada Sebuah Bangku Taman

11 Januari 2016   20:46 Diperbarui: 11 Januari 2016   22:32 1267 34 27

(Sore hari. Sebuah bangku di sisi kiri tiang lampu taman di tengah. Sebuah tong sampah tak jauh dari bangku taman di sebelah kiri pentas.Seorang WANITA antara 25-30 tahun, memakai sweater dan rok panjang duduk sedang membaca buku. Sekali-sekali terdengar suara mobil dan sepeda motor di kejauhan.

Seorang PRIA yang sebaya dengannya memakai kemeja katun lengan panjang, celana wol abu-abu tua dan sepatu kulit bertali menenteng tas kerja berjalan mendekat dari  kanan pentas.)

PRIA
Permisi. Boleh aku menumpang duduk?

(Tanpa mengangkat muka Wanita menggeser duduknya.)

WANITA
Silakan.

(Pria duduk dan mengeluarkan suratkabar dari tas kerja. Tas diletakkan bersandar pada tiang lampu taman. Suratkabar diletakkan di pangkuannya.)

PRIA
Boleh aku tahu buku apa yang kamu baca?

(Wanita menyodorkan buku yang sedang dibacanya kepada Pria. Pria membaca judul di sampul buku.)

PRIA
Men Are from Mars, Women Are from Venus. (mengembalikan buku tersebut.)

Apa kesimpulan yang didapat setelah membaca buku ini?

WANITA
Mengapa kamu tidak menyimpulkannya sendiri setelah membacanya?

PRIA (tersenyum)
Oh, bukankah dari buku itu kita bisa menyimpulkan bahwa pria dan wanita itu berbeda? Bahkan, penulis-penulis yang menekankan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan semakin memperjelas fakta bahwa pria dan wanita adalah dua spesies yang berbeda.

WANITA
Tujuan buku ini adalah untuk membuat para lelaki memahami  tentang wanita.

PRIA
-Atau sebaliknya.

WANITA
Begitulah yang dikatakan buku ini, pria itu egois dan tak mau berupaya memahami hal-hal penting tentang wanita.

PRIA
Nah, berarti dari membacajudulnya saja aku sudah bisa mengambil kesimpulan yang tepat. Aku tak perlu lagi baca buku itu, kan?

(Mereka berdua tertawa geli. Tiba-tiba Wanita berhenti tertawa.)

WANITA
Apakah kamu pernah jatuh cinta? Ceritakan tentang cinta pertamamu.

PRIA
Tentu aku pernah jatuh cinta. Apakah dalam buku itu disebutkan bahwa pria tak pernah jatuh hati?

WANITA
Aku sungguh-sungguh ingin tahu, apakah pria sepertimu, yang kelihatannya seorang pengejar karir, pernah jatuh cinta?

PRIA
Sudah kujawab tadi: pernah. Pertama kali aku jatuh cinta di bangku sekolah menengah pertama, dulu. Seorang gadis pindahan dari luar kota. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Jangan tanya kenapa. Aku rasa pria tak butuh alasan untuk jatuh cinta. Pasti ada diterangkan dalam buku kamu itu.

Bagaimana dengan kisah cinta pertamamu?

(Tiba-tiba sebuah kaleng bekas minuman dilempar ke sisi kiri pentas menimbulkan bunyi yang mengagetkan.)

WANITA (berteriak gusar ke arah pelempar yang tidak kelihatan.)
JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, NYONYA! APA KAMU MAU KULAPORKAN KE BAPAK WALIKOTA?

(Pria bangkit dan berjalan memungut kaleng bekas minuman itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Kemudian duduk kembali di bangku taman.)

WANITA
Mengapa kamu lakukan itu?

PRIA
Mengapa tidak? Kelihatannya wanita itu sedang hamil dan pasti sulit untuknya membungkuk-bungkuk mengambil kaleng tadi.

WANITA
Darimana kamu tahu dia hamil? Mungkin saja dia gendut karena banyak makan.

PRIA
Ah... Aku hanya berpikir positif saja.

Kamu belum menjawab pertanyaanku.

WANITA
Pertanyaan yang mana?

PRIA
Bagaimana dengan kisah cinta pertamamu?

WANITA
Oh, itu.

Waktu aku menunggu papa menjemputku sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler  di sekolah. Hari menjelang senja, seperti sekarang ini. Aku menunggu di tepi jalan. Sekelompok anak berandalan menggodaku. Lalu lintas ramai dan aku tak berani menyeberang jalan, di mana papa biasa menjemputku.

Tiba-tiba tanganku diraih oleh seseorang. Ternyata teman sekelasku. Aku tak begitu kenal dengannya, kami  belum pernah berbicara. Yang aku tahu, banyak cewek-cewek yang mengejarnya. Hanya dengan sorot matanya yang tajam, berandal-berandal yangmenggodaku langsung bubar.

“Ayo kita menyeberang,” katanya tanpa melepaskan tanganku dari genggamannya.  Dengan bergandengan tangan kami sampai di sisi lain jalan. Ia menunggui sampai mobil papa datang.

Sejak detik itu aku jatuh cinta padanya. Sweater ini pemberiannya sebagai kado ulang tahunku yang ke-tujuh belas. Meski sudah tak muat lagi, tapi aku masih tetap memakainya

(Wanita melepaskan sweaternya dan meletakkannya pada sandaran bangku.

Seorang pengamen muncul dari kanan pentas dan langsung memainkan gitanya dan menyanyikan lagu “Logika” Vina Panduwinata. Pria dan wanita diam mendengarkan sampai selesai. Pria mengeluarkan selembar uang dari saku kemeja dan memberikannya pada pengamen.)

PENGAMEN
Makasih, om dan tante. Semoga om dan tante selalu dilimpahi rejeki .

(Pengamen berjalan dan menghilang ke sisi kiri pentas. Samar-samar terdengar ia menyanyikan lagu Unchained Melody.)

WANITA
Dengan uang segitu seharusnya ia menyanyikan duapuluh lagu untuk kita.

(Terdengar suara guruh di kejauhan. Cahaya pentas meredup.)

 PRIA
Ah, bukankah doanya tadi tak ternilai harganya?

Kelihatannya sebentar lagi hujan akan turun. Bolehkan aku mengantarmu pulang?

WANITA
Kamu tahu rumahku?

PRIA
Tentu saja aku tahu!

WANITA
Kalau begitu, bagaimana mungkin kamu bisa lupa hari ulang tahun perkawinan yang ke-lima?

PRIA
Kata siapa aku lupa?  Justru aku mengajakmu pulang karena kita harus bergegas ke bistro tempat kita dulu pertama kali merayakan ulang tahun perkawinan. Candle light dinner telah menanti kita, sayang!

WANITA
Oh, aku bisa saja membencimu kalau terus-terusan membuatku terkejut seperti ini!

PRIA
Aku tak yakin kamu akan melakukan itu. Bagaimana reaksi anak kita yang ada diperutmu itu jika  mengetahui bahwa mamanya membenci papanya yang begitu setia?

WANITA
Darimana kamu—Oh! Dokter Resti sialan yang pernah tergila-gila padamu itu benar-benar tak bisa dipercaya! Aku akan menuntutnya karena telah membocorkan rahasia dokter-pasien!

PRIA
Jangan berprasangka buruk dulu, sayang. Suara dari kamar mandi setiap pagi selama seminggu ini sudah cukup untukku. Dan kata siapa Resti dulu tergila-gila padaku? Kalau saja dulu aku tahu....

WANITA
Awas, jangan coba-coba. Resti sudah beranak tiga! Lagipula Wardoyo juga suami yang baik, meski belum tentu seromantis kamu.

Ngomong-ngomong, apa kado ulang tahun pernikahan untukku?

PRIA
Bagaimana jika aku bilang “Aku lupa membelikan kamu kado ulang tahun pernikahan kita, sayang”?

WANITA
Maka malam ini kamu akan tidur dengan bantal guling di sofa ruang tamu!

(Mereka berdua tertawa. Keduanya bangkit dan berjalan perlahan sambil berangkulan meninggalkan bangku taman menuju sisi kiri pentas.

Lampu pentas padam, hanya lampu taman yang menyala menyorot bangku taman. Sweater Wanita tersampir di sandaran.

Seorang gelandangan tua masuk dan menuju bangku taman. Ia mengambil sweater itu.)

GELANDANGAN TUA
Untung tidak jadi hujan. Kalau tidak aku bingung mau tidur di mana. Hotel-hotel penuh semua. Ha ha ha ha. Untung ada sweater bagus ini. (Diciumnya sweater  itu.)

Wangi. Mengingatkanku pada mendiang istriku.

 (Ia memakai sweater itu dan berbaring di bangku taman. Layar penutup perlahan–lahan turun.)

 

Jakarta, 11 Januari 2016

Sumber ilustrasi