Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Novel highlight

Tembang Bocah Udik (6)

14 September 2017   17:07 Diperbarui: 14 September 2017   18:04 2752 10 5
Tembang Bocah Udik (6)
Ilustrasi: www.lsu.edu

Sebelumnya....

Pada masa itu, Ayahku selalu punya cerita seram untuk memperingatkan kami agar berhati-hati. Dia pasti telah banyak melihat orang diculik tanpa tahu penculiknya, orang hilang tanpa sebab, atau karung berisi mayat tergeletak di tepi jalan. Apa yang diketahuinya mungkin lebih banyak daripada data di kantor polisi kota.

Kini aku mengerti bahwa dia pasti tahu jika ada yang tidak beres dan yang harus kami lakukan adalah belajar bertahan hidup dengan segala cara.

Menurut Ayah, setiap sepi malam selalu menawarkan skenario berbahaya yang mungkin mendadak muncul dari rimbun semak-semak pohon rumbia atau dari balik gardu jaga di simpang jalan yang gelap dan terabaikan.

Ceritanya bagus memukau, setidaknya mengajarkan aku untuk mengenal dari nada suaranya yang serak mana yang berdasarkan kisah nyata dan mana yang kurang jujur.

Dia mengatakan padaku dan Rifki, ketika suatu siang yang berangin dan kami sedang bercanda sambil menikmati tayangan film India di televisi. Saat itu seorang gadis berbaju sari menghajar empat orang preman begajulan di jalanan Mumbai.

"Suatu hari," dia menyela kami, "Ayah sedang berdiri di sebuah kedai nasi di pasar Ulee Kareng, ketika dua orang BKO mengganggu seorang janda. Dia menghajar mereka berdua menjadi kanji rumbi tanpa menggunakan tangannya yang memanggul bakul berisi tandan pisang."

Kisah singkat itu kembali teringat ketika aku menampak Retak menggunakan lutut dan kepalanya dengan efektif. Dia mengangkat dengkulnya dengan cepat sehingga menghantam biji zakar Rey begitu kerasnya sehingga kedua kakinya terangkat dari tanah untuk kemudian kembali ke bumi dengan jatuh terlentang.

Rey yang tak menerima kekalahannya menginginkan tanding ulang, mengayunkan kepalannya yang ditangkis dengan mudah. Kembali lutut Retak terangkat. Rey runtuh memeluknya, dan Retak melemparkannya ke belakang. Begitu kakinya menyentuh bumi, Rey berputar balik sempoyongan dan berlari. Retak berteriak menyuruhnya kembali dan berkelahi, sebelum akhirnya lepas landas terbang mengejarnya. Aku mengikuti mereka berdampingan dengan teman Rey yang kurus ceking gundul, seolah-olah kami sekutu, atau setidaknya kami berdua cukup bijaksana untuk tidak ikut terlibat dalam perseteruan mendadak yang kini sedang terjadi.

Rey menerobos masuk ke kebun keluarga terkaya di kampung kami. Rumah batu era kolonial yang berdiri sendiri di tengah tanah pekarangan yang luas, di antara berbagai macam pohon buah tanaman keras, lengkap dengan pencahayaan taman. Haji Abu Yazid mempunyai pengaruh hingga ke gedung Dewan. Istrinya perempuan ningrat lokal keturunan baik-baik dan putri mereka, Jannah, sangat cantik dan tak terjangkau lelaki awam.

Retak berdiri membeku di pintu gerbang, tak percaya pada matanya sendiri, sama seperti diriku, menyaksikan Rey menerobos melalui pintu kayu rumah berhiaskan ukiran Jepara.

Semenit kemudian kami ikut menyusul melalui batu jalan setapak yang terbuat dari batu alam.

Haji Abu Yazid keluar. Wajahnya terlihat terguncang, namun sebagai lelaki tua yang berpengaruh ia berhasil menjaga suaranya tetap tenang.

"Saya akan meminta Anda, anak muda, untuk menghentikan pengejaran terhadap pria itu," katanya

"Dia telah masuk ke dalam kamar putri saya dan mengunci pintu dari dalam, dan meminta agar kami menghubungi petugas keamanan yang sedang dilakukan pembantu saya saat ini. Jadi, demi Jannah, silakan pulang ke rumah."

Tentu saja, perkataan orang paling berpengaruh di kampung kami itu kami turuti. Saat melangkah ke luar pintu gerbang, aku membayangkan Jannah yang cantik terkejut oleh serbuan orang gila yang berdarah-darah yang kemudian mengurung di dalam kamar tidur bersamanya.

Aku berharap tendangan Retak tadi yang langsung ke gagang Rey membuat kejantanannya hilang, setidaknya untuk sementara.

Bertiga kami menuju jalan pulang yang sekarang tampak damai.

"Kau bisa saja sembunyi, tapi kita pasti akan jumpa lagi. Camkan ini, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia!" Retak berteriak melepaskan frustasinya karena gagal mendapatkan Rey.

***

Babinsa yang datang mencari Nuriah waktu itu dipersilakan masuk ke ruang tamu kami lagi oleh ayahku.

Ibuku, emak Retak, ayah dan dia duduk di sofa sambil membiarkan televisi menyala tanpa suara. Dia menerima minuman yang ditawarkan ibu.

"Saya sudah berhasil menenangkan semuanya," katanya. "Jannah adalah gadis muda yang luar biasa. Dia merawat luka-luka tuan Reynaldi saat saya tiba di sana, dan membuatnya cukup tenang."

Aku dan Retak tidak mengatakan apa-apa.

"Saya ingin kalian berjanji kepada saya, bahwa kalian akan meninggalkan orang itu sendirian. Saya sebetulnya tidak diperbolehkan untuk mengatakan terlalu banyak, tapi saya akan memberitahu kalian bahwa dia adalah seorang pecandu narkoba dalam masa penyembuhan. Kecanduan narkoba itu sejenis penyakit.

Dia mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan mengajukan tuntutan apapun."

"Dia yang mulai," kata Retak perlahan.

"Dia yang duluan," kataku aku menegaskan.

"Yang jelas saya tak ingin ada keributan lagi di kampung kita ini. Kondisi dan situasi sekarang sudah cukup buruk, jangan kalian tambah-tambah lagi dengan perkelahian yang tidak perlu." Dia menyentuh sabuk pistolnya.

"Berjanjilah.  Tuan Reynaldi juga telah berjanji bahwa dia tidak akan membuat masalah dengan penduduk di sini, termasuk kalian. Yang dia inginkan hanyalah pulang ke rumahnya segera untuk makan malam dengan istrinya."


BERSAMBUNG

Bandung, 14 September 2017