Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Novel highlight

Tembang Bocah Udik (5)

13 September 2017   00:40 Diperbarui: 13 September 2017   01:23 2858 11 6
Tembang Bocah Udik (5)
Ilustrasi: www.lsu.edu


Sebelumnya....


Dua minggu kemudian, ahli waris janda Muin datang disambut sorak sorai dalam hati penduduk kampung yang mensyukuri kekalahan Daswin, tuan tanah yang lebih suka disebut agen properti itu. Aku termasuk yang gembira, karena kisah tentang kolam renang kami menghilang dari daftar gosip panas.

Kepada agen koran langgananku, pendatang baru tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Reynaldi, tapi dia lebih suka dipanggil Rey. Istrinya sendiri bernama Siska, disingkat Sis.

Agen koran orangnya tak suka basa-basi, berkata ketus:

"Siapa yang tanya?"

Kemudian dia menambahkan:

"Nama pendek atau panjang tak berarti jika tak tertulis di buku pelangganku."

Dia pasti senang bisa menjebak si pendatang untuk menjadi pelanggan suratkabar, setidaknya harian nasional yang harganya setengah dari koran lokal, meski jumlah halamannya tiga kali lebih banyak. Aku membayangkan Rey sebenarnya tak suka membaca koran, namun ia membutuhkan sekutu di tempat baru agar tak menjadi mangsa yang mudah.

Desas-desus yang beredar bisa sangat meyakinkan. Kami telah mendengar tentang mereka.

"Datang dari Medan," kata tukang pos kepada semua orang. Dia telah mendatangi kediaman mereka untuk mengantarkan beberapa surat. Pria Batak tinggi besar dan istrinya yang 'tomboy'.

"Pasangan yang baik," katanya. "Meskipun mereka tidak banyak membawa barang sebagai mana biasanya orang pindahan."

Selain itu, hanyalah ketidakpastian. Bagaikan kedatangan alien: tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi.

Dari perempuan tetangga sebelah, kami tahu bahwa tirai rumah mereka tak pernah sekalipun tersibak, selalu tertutup rapat. Mungkin saja dimaksudkan sebagai tanda masih berkabung atas meninggalnya janda Muin.

Dan beberapa hari kemudian, mulai terdengar musik yang keras hingga ke ujung jalan dari rumah tersebut.Siang dan malam tanpa jeda, menyebabkan semua orang memperlambat atau mempercepat langkah mereka, tergantung pada sifat bawaan masing-masing.

Hanya Feri Gunawan yang datang langsung menyambangi rumah itu. Dia memarkirkan kuda logamnya, dan dengan gaya imam meunasah kampung yang pemberani, dia mengetuk pintu untuk mengucapkan selamat datang.

Maryam menceritakan semua itu pada Retak, yang pada gilirannya dia menceritakannya padaku sambil menyinggung tentang Nuriah. Kami berdiri di trotoar di dekat lampu jalanan di satu-satunya halte bus setempat.

"Kata Maryam," Retak melanjutkan, "pintu terbuka dan Feri masuk.Tak sampai semenit kemudian dia melesat keluar dan mengayuh sepedanya melintasi kampung dalam garis lurus."

Ayah Maryam, si agen koran, bercerita bahwa itu saat terakhir kali dia melihat Feri pulang ke rumah sebelum menghilang bersama calon istri mudanya.

Retak melanjutkan ceritanya dengan menyampaikan pesan dari Nuriah, bahwa dia sebenarnya 'mencintaiku'. Dia membujukku seakan aku anak kecil yang harus dirayu. Aku baru saja hendak menyuruhnya untuk mengurus diri sendiri daripada berusaha menjadi mak comblang Nuriah yang telah minggat bersama si tua bangka Feri Gunawan.

Saat itulah Rey dan seorang tamunya yang kurus kering berkepala gundul melintas. Rey mungkin memutuskan inilah saatnya mengintai sekitar wilayah kediamannya. Dia berjalan melewati Retak tanpa melambatkan langkah atau menoleh, bercakap-cakap dengan suara keras seakan kami tak ada.

Sampai saat itu, aku belum pernah menyaksikan Retak bertarung. Pernah sekali dia membuatku marah, sehingga aku mendorongnya dan memukulnya dengan tinjuku.

"Lawan aku!" aku berteriak.

Dia hanya tersenyum, menepuk-nepuk pundakku dengan lembut dan berjalan pulang.

Kali ini dia berbalik dan melompat mundur seperti beruang. Pukulan pertamanya mendarat di antara tulang belikat Rey. Udara yang keluar melalui dengus napasnya bagai desahan pengakuan akan kebutuhan akan kekerasan. Tak sampai dua detik, teman Rey tergeletak di sampingku saat Retak melepaskan hook tajam yang membuat si kurus terpelanting ke sisi jalan.

"Bantu aku, Fahri," panggilnya.

Awalnya aku tak mengerti apa maksudnya.

"Mulai," kataku sambil mengayunkan tangan. Dan dia melakukannya. Pukulan satu-dua. Lebih banyak lagi pukulan. Aku menyadari, dari apa yang kulihat di wajah Rey adalah rasa takut, takit kepadaku. Ungkapan di wajahnya, mencerminkan wajahku, terkejut. Aku pernah berkelahi beberapa kali di pekarangan sekolah atau lapangan, terlibat perkelahian jalanan, dan menonton ratusan film aksi produksi Hollywood dan Bolliwood. Tapi ini adalah hal yang nyata. Liar, ganas dan mentah.

Aku tak begitu paham aturan bertinju. Bertindak sebagai wasit, satu-satunya pukulan bersih yang dilakukan Rey hanyalah sebuah spin lemah yang dibalas dengan jab keras. Aku mendengar bunyi---bahkan merasakan---pukulan mendarat di rahang. Sebuah gigi geraham tanggal terlempar. Ludah muncrat bercampur darah. Kepalanya tersentak, bola matanya liar menatap ke langit malam tak berbatas. Semuanya dalam gerakan lambat.

Sampai akhirnya Rey memeluk erat tubuh Retak bagai kekasih yang putus asa menolak ditinggal pergi. Aku melihat sorot mata Retak yang bingung berusaha melepaskan diri, menunggu wasit berteriak 'break'.

Dan kemudian Retak mendorong tubuh Rey hingga terbebas, benar-benar bebas, dan mengajakku pergi meninggalkan rey yang tersengal-sengal bersama temannya yang kurus ceking dan gundul di bawah sorot muram lampu emperan halte bus.


BERSAMBUNG

Bandung, 13 September 2017