Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Novel

Tembang Bocah Udik (4)

8 September 2017   22:34 Diperbarui: 8 September 2017   22:57 2877 10 5
Tembang Bocah Udik (4)
Ilustrasi: www.lsu.edu

Sebelumnya....

Seminggu kemudian seluruh kampung tahu tentang petualanganku bersama Nuriah, bahkan sebelum ayahnya mengajak petugas berkeliling. Dia telah melarikan diri, katanya.

"Apakah kami tahu ke mana anaknya pergi?"

"Tujuh belas tahun," katanya. Suaranya yang berat dan muram memenuhi ruang tamu saat ayahku berdiri di samping babinsa yang meraba ikat pinggangnya memastikan pistolnya tak ketinggalan di kedai kopi.

"Umur tujuh belas dia sudah dua kali menjanda."

Tawa kecilnya selintas seperti mengejekku.

"Sebaiknya aku merobohkan pondok kebunku demi kebaikan semua."

Ayahku bertanya mewakili dia:

"Fahri, kamun tahu di mana Nuriah?"

"Tidak," jawabku jujur.

"Mungkin dia pergi untuk melihat pertarungan Retak, karena Maryam pergi."

"Apakah kalian ingin menggeledah rumah kami?" Ayahku tiba-tiba bertanya dengan marah.

"Itu tidak perlu," kata babinsa. Dia menyeret ayah Nuriah keluar rumah.

"Banyak hal-hal aneh terjadi akhir-akhir ini," katanya kepada kami semua. "Aku harap semuanya akan berakhir dengan baik."

Aku menutup pintu di belakang mereka.

"Jika gadis itu ada di lemari baju atau di bawah kolong tempat tidurmu, sebaiknya suruh dia pulang sekarang juga," kata ayah datar.

Dia berjalan keluar ruangan tanpa menunjukkan kemarahan atau rasa humor yang biasa menjadi tameng kesedihannya. Membuatku berduka.

Nuriah tidak ada di kamarku, dan takkan pernah.

Malam sebelumnya, aku menyelinap keluar untuk mengunjunginya. Tidak ada janji untuk bertemu, kecuali aku tak bisa tidur dan membutuhkan penyaluran ketegangan. Kurasa Nuriah pasti memiliki perasaan yang sama, karena dia sudah berada di dalam pondok. Aku hampir saja melangkah masuk saat mendengarkan suara jeritan kecilnya. Aku mengenalnya sebagai tanda dia telah mencapai puncak asmara. Kucoba mengintip melalui lubang mata kayu di dinding pondok. Kaki kurus Nuriah yang panjang terentang lurus menjulang ke atas. Kedua tangannya menempel di pipi seorang laki-laki tua. Aku tak peduli atau mencoba untuk mengenali siapa keledai tua itu.

Akhir pekan itu, aku memenangkan hadiah pertama lomba menulis yang diadakan sekolah untuk ceritaku, 'Semalam Wijayakusuma'. Ceritanya menggambarkan kampung di malam hari, terlelap dalam damai. Warna-warni yang mengering di kelopak bunga, aroma yang lembut mengambang perlahan di jalan tanah, seekor musang terperangkap jerat pemburu. Lomba yang diselenggarakan oleh kepala sekolah yang merupakan penggemar berat novel sastra. Rambutnya belah samping tersisir rapi lekat oleh pomade. dan pemuja Putu Wijaya. Jadi, wajar saja cerpenku yang penuh majas omong kosong nan sentimental telah membodohi dia, meski dia berhasil membalasku kemudian.

Beberapa saat setelah ibuku pergi, dia bergegas keluar dari kedai kopi Wak Sudin saat melihatku berjalan melintas pulang. Kurasa dia memang sengaja menungguku.

Dia meletakkan tangannya, menekan bahuku.

"Kamu harus memaafkan ibumu," katanya. "Tidak masalah apa yang telah kami ajarkan kepadamu atau mencoba membuatmu berpikir. Tapi hidup bukanlah 'bunga wijayakusuma'. Tidur atau bangkit."

Retak memenangkan pertarungannya pada minggu yang sama dengan kunjungan babinsa ke rumah. Dan itu bukan kemenangannya yang terakhir, meski akan tiba kelak masanya dia akan kalah untuk selamanya.

***

Penduduk desa mempunyai gosip baru ketika Daswin, agen properti lokal, gagal mendapatkan kediaman janda Muin yang baru meninggal dengan cara yang sama seperti ketika dia memperoleh rumah kami. Tentu kami takkan pernah lupa bagaimana dulu Daswin berhasil membujuk kami membeli rumah tua ini.

"Kalian bisa membangun kolam renang. Hanya tinggal membuat lubang di tanggul sungai yang mengalir di belakang pagar," katanya.

 Memang di pekarangan belakang terdapat lubang di tanah berbentuk persegi panjang berukuran 8 x 25 meter dengan kedalaman setengah meter.

"Ini benar-benar untuk kolam renang," dia meyakinkan kami pada kunjungan pertama kami melihat properti itu.

"Saya membangunnya karena saya ingin tinggal di sini.Tapi kondisi keuangan memaksa saya dengan berat hati menjualnya. Apalagi anak saya masih kecil, tidak baik untuknya tinggal di rumah yang ada kolam renangnya. Tapi Anda dapat menggunakannya, tentu saja."

Kami mencobanya sekali. Ayah dan aku dengan sekop di tangan masing-masing. Kami mencoba menggali lubang lebih dalam dan membuat saluran melalui pagar hingga tanggul sungai, dan sekop menghantam batu besar. Pekarangan belakang hingga tepi sungai penuh dengan batu kali.

"Mungkin sebaiknya jual saja lagi rumah ini," kataku.

"Dan kita telah menggali lubang neraka," kata ayah.

Kami berdiri sambil tertawa, sementara ibu dan Rifki di sisi lain lubang kosong menirukan gerakan berenang, membuat gelak tawa kami semakin panjang. Tawa bersama kami yang terakhir.


BERSAMBUNG

Jakarta Barat, 8 September 2017